WKWKWK: Ekspresi Lahiriah Masyarakat Indonesia

ditulis oleh: Ali Hasan Asyari

Pekan kemarin, aku menemukan diskusi menarik dari quora. Judulnya, "Why do Indonesians use "wkwkwk" for "hahaha"?". Ya, aku pun merasa aneh juga, ya, kenapa bisa muncul "wkwkwkwk" untuk mengekspresikan tertawa secara daring. Padahal, dalam kehidupan nyata pun tidak pernah mendengar seseorang tertawa dengan suara "wkwkwk". Bahkan, ya, variasi dari "wkwkwk" ini sangat banyak. Mulai dari "awaokawoakaok", "awokawok", sampai "kouwakkoawkwk". 

Sobatku sering juga menekspresikan tertawa dengan "wkwkwk" atau variasi yang lain? Aku tebak, pasti jawabannya "Ya". :D

Coba kita bahas penjelasan pada diskusi di quora tentang "wkwkwk". Aku menemukan cerita menarik dari Dio Wijayanto Nugroho. Berdasarkan pengalamannya di dunia gim, tertawa dengan "hahaha" dianggap terlalu formal. Dengan kata lain, muncullah pelintiran tertawa "hahaha" menjadi “bwahaha”, “huehuehue”, hingga “huahuahua”. Selain itu, hampir semua gamer menggunakan "gua" (gaul) yang bertentangan dengan "saya" atau "aku" (standar) yang berarti “aku” atau “aku”. Kemudian, "gua" diubah menjadi "gw" karena lebih mudah dan lebih cepat untuk mengetik.

Kemudian, menurutnya, kata “huahuahua” disederhanakan menjadi “hwhwhw” (ingat kata ganti dari “gua” menjadi “gw”). Alih-alih memindahkan tangan kanan dari tetikus, lebih banyak memilih tombol "k" daripada huruf "k". Oleh karena itu, lahirlah kata “wkwkwk”.

Menarik sekali, bukan? Wkwkwk.

Cerita lainnya, dari Johannes Sulistyo. Menurutnya, kita sering tertawa sarkastik, tetapi tetap sensitif seperti “ka-ka-ka-kak-kak-kak” seolah-olah kita sedang mencoba mempraktekkan kata “ngakak”. Selain itu, orang Indonesia terutama orang Jawa selalu menambahkan bunyi "u" di awal suku kata pertama kata sifat untuk lebih menekankan ekspresinya. Kata-kata seperti “goblok” (bodoh) bisa menjadi “guoblok” (idiot), “enak” (enak/nyaman) menjadi “uenak” (sangat enak/sangat nyaman). Maka dari itu, muncullah tertawa seperti "wakakakakak" dan menjadi "wkwkwkwk" dengan mengetikkan ekspresi tertawa lebih cepat.

Kini, "wkwkwk" tidak hanya kita temukan di dalam komunitas gim atau forum Kaskus. Selain digunakan pada percakapan di ruang virtual, "wkwkwk" pun sering kali menyertai linimasa di media sosial kita.

Apakah "wkwkwk" termasuk fenomena bahasa? Tentu. Ini sangat menarik apabila dibahas lebih dalam. Onomatope mungkin bisa dikaitkan dengan fenomena ini. Onomatope adalah peniruan bunyi yang diasosiasikan dengan benda atau perbuatan. Contohnya, "kukuruyuk" (bunyi ayam), "gubrak" (orang terjatuh), "jeder" (pistol), dan sebagainya. Lalu, apakah "wkwkwk" termasuk onomatope juga? Bisa termasuk, tetapi hanya diasosiasikan dengan bunyi bebek, bukan orang tertawa. Hingga hari ini, pada umumnya kita tertawa dengan natural lewat "haha" atau "hehe".

Atau, mungkin jika kamu tertawa dengan bunyi "wkwkwk" atau "awikwok". :D

Sumber:

https://www.quora.com/Why-do-Indonesians-use-wkwkwk-for-hahaha

Artikel yang berkaitan
Komentar