Variasi Gaya Berbahasa

ditulis oleh: Lia Sylvia Dewi

Penggunaan bahasa ternyata memiliki perbedaan gaya penyampaiannya, loh! Perbedaan tersebut bisa terjadi secara sengaja atau tidak sengaja, dalam bentuk lisan maupun tulisan. 

Martin Joos (dalam Soeparno, 2018) membedakan gaya bahasa menjadi lima macam berdasarkan tingkat kebakuannya. Yuk, kita simak! 

1. Gaya Beku (Frozen) 

Seperti namanya, gaya bahasa ini bersifat beku. Artinya, tidak berubah dari masa ke masa dan diucapkan dengan cara sama oleh setiap penuturnya. Contoh gaya bahasa beku adalah penuturan dalang dalam cerita pewayangan, khususnya pada adegan jejeran. Gaya bahasa beku yang biasa kita gunakan ialah pepatah, doa, dan lain-lain. 

2. Gaya Formal

Kita biasa menyebutnya sebagai bentuk baku. Penggunaan bahasa dalam gaya ini telah diatur oleh kaidah tertentu yang menjadi standar pemakaiannya. Pemakaian gaya bahasa formal biasanya ada dalam acara-acara resmi, interaksi dalam kegiatan pendidikan, rapat, buku-buku ilmiah dan pelajaran, serta hal bersifat resmi lainnya. Meski merupakan bahasa yang sesuai kaidah, gaya formal tidak harus selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang sifatnya nonformal bahkan informal, ya! 

3. Gaya Konsultatif

Pola penggunaannya mengarah pada bentuk usaha atau bisnis. Sehingga seringkali disebut setengah formal dan setengah informal. Gaya bahasa ini biasanya digunakan oleh para pegiat bisnis atau pengusaha saat sedang berkegiatan. 

4. Gaya Kasual

Ternyata bukan pakaian saja yang kasual, gaya bahasa juga bisa! Betul, gaya bahasa ini adalah bentuk penggunaan bahasa yang bersifat santai (informal). Ciri dalam gaya ini salah satunya adalah banyak terdapat alegro atau pemendekan suatu unsur bahasa serta dipengaruhi dialek masing-masing daerah. Kita seringkali menggunakan gaya ini saat mengobrol dengan teman, berinteraksi dengan pedagang, atau pembicaraan ringan dalam situasi lain. 

5. Gaya Intim

Gaya bahasa ini digunakan oleh orang-orang yang hubungannya sudah sangat akrab. Salah satu cirinya adalah ada beberapa hal yang hanya mereka saja yang mengerti bahasa tersebut. Gaya intim juga biasanya berlaku saat melakukan dialog 'mendalam' dengan pasangan, orang tua, anak, dan semacamnya. 

Nah, setelah mengetahui berbagai gaya bahasa, kita akan mudah menyesuaikan pola bahasa kita dengan situasi yang dihadapi. Ingat, bahasa Indonesia itu harus baik dan benar! Artinya, meskipun harus sesuai dengan pola yang ditetapkan, penggunaannya harus disesuaikan dengan kondisi, lawan bicara, dan konteks pembicaraan. 

Bagaimana, Sobatku, sudah siap berbahasa Indonesia yang baik dan benar? 

Sumber

Soeparno. 2018. Dasar-dasar Linguistik Umum.  Yogyakarta : Penerbit Tiara Wacana.

Artikel yang berkaitan
Komentar