Tilde: Tanda Baca yang Bernada Panjang?

ditulis oleh: Ali Hasan Asyari

Tanda ini "~". Ya, (termasuk aku) tanda ini sering digunakan untuk memanjangkan pengucapan kata pada setiap chat. Contohnya ya~, begitulah~, hore~, halo~, dan sebagainya. Termasuk kamu juga, gak?

Tilde atau tanda gelombang adalah suatu grafem dengan beberapa fungsi. Namanya berasal dari bahasa Latin titulus yang berarti suatu judul atau tulisan di bagian luar. Dalam KBBI V daring, arti tanda tilde adalah tanda yang digunakan untuk menggantikan sublema yang terdapat dalam deskripsi kamus atau dalam contoh penggunaannya. Fungsi tilde adalah mencerminkan kenaikan nada lalu kembali pada nada biasa.

Sepertinya, ini memang untuk memanjangkan pengucapan kata. Waaahhhh~

Eits, jangan langsung menyimpulkan, ya. Tilde ini memiliki beberapa penggunaan. Yuk, simak!

Pertama, simbol tilde awalnya digunakan di atas suatu huruf tanda pemendekan. Tilde kemudian mendapat beberapa fungsi lain sebagai tanda diakritik,  yakni penanda nilai fonetis seperti ‘ dan ^ pada jêlèk. Kedua, dalam bahasa Indonesia, tilde digunakan untuk menggantikan sublema yang terdapat dalam deskripsi kamus atau dalam contoh penggunaannya. Coba Sobatku buka KBBI terlebih dahulu. Contohnya seperti ini,

jawab > menjawab
1. v memenuhi; menanggapi: ~ tantangan pembangunan

Tanda tilde (~) itu maksudnya menggantikan kata yang dimaksud (menjawab) dalam contoh penggunaanya. Jadinya, seperti ini,

~ tantangan pembangunan ----> menjawab tantangan pembangunan

Lalu, tanda tilde diatur gak dalam PUEBI? Jawabannya, tidak. Malah tidak masuk dalam PUEBI.

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) memang tidak menulis aturan penggunaan tilde (~). Kenapa? karena tilde merupakan tanda baca khusus yang penggunaanya pun khusus. Hal yang pasti ditemukan di Indonesia, yakni tilde digunakan sebagai tanda diakritik. Tanda diakritik masih dijumpai juga pada beberapa bahasa daerah.

Artinya, untuk mutualan di Twitter bisa, dong?

Bisa banget~

Yuk, mutualan!

Artikel yang berkaitan
Komentar