Teori Feminisme dalam Karya Sastra

ditulis oleh: Lia Sylvia Dewi

Sebagai gerakan modern, feminisme lahir pada awal abad ke-20 yang dipelopori oleh Virginia Woolf dalam bukunya A Room of One’s Own (1929) (Ratna, 2004). Konsep ini berkembang pesat sebagai suatu kebudayaan sejak tahun 1960. Oleh sebab kepesatan itu pula, model analisis dalam teori ini amatlah kompleks, menyangkut sosial, ekonomi, politik, sampai ideologi. Peran perempuan yang diperjuangkan untuk menyangkut segala aspek telah membuat mereka mulai mendapat jabatan-jabatan penting di pemerintahan, berperan sebagai produsen ekonomi, bahkan akademisi dan militerisasi.

Mengutip pendapat Teeuw dalam buku “Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra”, gerakan feminisme di dunia barat lahir dari beberapa indikator :

1) Perkembangan meode kontrasepsi sebagai ‘alat’ bagi perempuan melepaskan diri atas kekuasaan laki-laki

2) Radikalisasi politik

3) Lahirnya atensi untuk terbebas drai ikatan-ikatan tradisional

4) Merebaknya sekularisasi yang membuat wibawa agama menurun

5) Perkembangan pendidikan yang bisa dinikmati perempuan

6) Reaksi dari pendekatan sastra yang tidak menilik struktur sosial

7) Ketidakpuasan pada teori dan prakiis ideologi marxis ortodocs


Dilihat dari hal tersebut, tentulah harus dipahami bahwa konsep feminisme tidak merujuk pada hakikat biologis, melainkan aspek kultural dan psikologis. Kita perlu menimang definisi feminisme dari kajian etimologisnya. Feminisme berasal dari kata femme yang berarti perempuan tunggal yang memperjuangkan hak-hak perempuan jamak (Ratna, 2004). 

Dalam karya sastra kontemporer, feminisme menjadi gerakan para perempuan di dunia untuk memperjuangkan kesamaan hak. Maka, masalah-masalah tentang perempuan yang dikaji dengan feminisme amat erat kaitannya dengan emansipasi, apresiasi, dan aspirasi. Model pemanfaatannya mengacu pada tatanan budaya masyarakat.

Perkembangan teori feminisme yang terakhir terdapat pada masa postrukturalis, khususnya pada masa dekontruksi Derrida (Eadleton dalam Ratna, 2004) yang menjelaskan bahwa makna bersifat polisemi—bermakna lebih dari satu. Dalam hal ini, perempuan dianggap sebagai sesuatu ‘yang lain’ yang tetap memiliki hubungan dengan dirinya.

Berkaitan dengan karya sastra, selain membuka akses dalam mengangkat isu-isu keperempuanan, feminisme juga berusaha mendobrak dominasi penulis pria yang diakui oleh dunia. Seringkali terjadi dominasi pada gender tokoh maupun pengarang dalam karya-karya sastra terkemuka di masa lampau. Maka, kajian feminisme juga menjadi motivasi bagi para penulis perempuan untuk berkarya dan menginspirasi semua pengarang untuk menampilkan karakter wanita secara lebih sentral dalam cerita.

Beberapa karya sastra fenomenal yang menjadi kritik atas hak-hak hidup perempuan adalah novel Siti Nurbaya karya Marah Roesli, Saman karya Ayu Utami, dan Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi. Sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, karya-karya tersbeut juga menaruh impresi perempuan sebagai suatu individu yang ingin memperjuangkan nasib, tetapi terhalang oleh kehidupan sosial yang statis terhadap peran perempuan.

Ternyata banyak sekali karya sastra yang mengangkat isu mengenai feminisme ini, ya! Yuk, kita mengkaji isu-isu sosial seperti feminisme ini dengan membaca karya-karya sastra maupun karya nonfiksi lainnya! 


Referensi :

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Artikel yang berkaitan
Komentar