Selayang Pandang Ke-frasa-an

ditulis oleh: Meilani Puji Astini

Tahukah kamu apa itu frasa? Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan frasa, loh! Misalnya, kemarin siang, akan tiba, sedang membaca, rumah baru itu, dan lain-lain. Lalu, apa yang dimaksud dengan frasa? 

Menurut KBBI V, frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih yang besifat non prediktif. Selain itu, Ramlan (2005: 139) menyatakan bahwa frasa merupakan satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih. Pengertian lain yang dikemukan oleh Ramlan (2005: 139) frasa merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur-unsur klausa, maksudnya frasa itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa, yaitu S, P, O, PEL, atau KET. Perhatikan contoh berikut.

- Paman akan pergi ke Bandung. 

- Hakim akan memberikan keputusan di meja hijau. 

Mana yang termasuk frasa? Jawabannya adalah akan pergi, ke Bandung, dan akan memberikan. Lalu, meja hijau termasuk frasa bukan? Ternyata meja hijau itu bukan frasa, tetapi kata majemuk. Khalayak sering keliru membedakan frasa dan kata majemuk. Padahal, perbedaan dari dua hal itu cukup jelas perbedaannya. Lalu, apa saja perbedaan antara frasa dan kata majemuk? Berikut ini akan dipaparkan ciri-ciri dari frasa dan kata majemuk. 

Ciri-ciri frasa, yaitu:

1. semua unsurnya berupa kata, misalnya baju baru, gunung tinggi, dll;

2. gabungan kata tidak membentuk makna baru, misalnya gadis cantik maknanya tetap merujuk pada gadis;

3. strukturnya bisa diubah, misalnya gadis cantik menjadi cantik gadis;

4. unsurnya bisa disisipi unsur lain, misalnya gadis cantik bisa disisipi kata yang, sehingga menjadi gadis yang cantik. 

Menurut KBBI V kata majemuk merupakan gabungan morfem dasar yang seluruhnya berstatus sebagai kata yang mempunyai pola fonologis, gramatikal, dan semantis yang khusus menurut kaidah bahasa yang bersangkutan. Berdasarkan hal itu, dikemukakan ciri-ciri kata majemuk, yaitu: 

1. salah satu atau semua unsurnya berupa pokok kata, misalnya terima kasih, lomba lari;

2. gabungan kata membentuk makna baru, misalnya meja hijau yang bermakna pengadilan;

3. struktur kata tidak dapat diubah karena sudah memiliki makna sendiri;

4. unsur-unsurnya tidak dapat dipisahkan atau disisipi unsur lain. 

Nah, cara yang paling mudah untuk membedakan frasa dan kata majemuk adalah dengan mempraktikkan ciri nomor 4, loh. Semoga tidak keliru lagi, ya!


Sumber:

Ramlan. 2005. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Yogyakarta: Karyono.

Artikel yang berkaitan
Komentar