Sejarah Kata Ganti Saya dan Aku

ditulis oleh: Yulia Yulian

Halo, Sobatku!

Apakah kalian pernah berpikir, mengapa kita cenderung menggunakan kata ganti “aku” dalam ragam non-formal dan kata ganti “saya” dalam ragam formal? Selain karena tercantum dalam KBBI, penggunaan tersebut ternyata memang ada sejarahnya, loh!

Ajip Rosidi pernah menulis hal ini dalam bukunya "Bas Bis Bus" pada bagian bab “Perjalanan Menjadi ‘Aku’”. Menurutnya, fenomena penggunaan “aku” pada masa kini cukup mengagetkan karena kata ganti tersebut biasanya digunakan dalam teks sastra. Pernahkah kalian menulis teks sastra menggunakan kata ganti “saya”? Hm, sepertinya hal itu akan mengagetkan Ajip Rosidi juga, ya. Hi-hi. Sebelum membahas lebih jauh, mari kita lihat definisi kata ganti “saya” dan “aku” dalam KBBI!

saya
1. orang yang berbicara atau menulis (dalam ragam resmi atau biasa);aku
2. ya
aku
kata ganti orang pertama yang berbicara atau yang menulis (dalam ragam akrab); diri sendiri; saya

Wah, kalau diperhatikan, ternyata kata ganti “aku” memang merupakan kata yang menggantikan kata “saya” yang lebih dulu digunakan. Selain itu, KBBI ternyata memang mencantumkan kata “aku” dalam ragam akrab, sedangkan kata “saya” dalam ragam resmi atau ragam biasa. Artinya, kata “saya” itu tidak terlalu formal-formal amat! Bisa digunakan untuk ragam biasa juga, loh. Coba Sobatku perhatikan kembali perbedaan dua definisi tersebut, ya!

Mari kembali pada penjelasan Ajip Rosidi.

Sebenarnya, fenomena tersebut wajar-wajar saja karena hal ini menunjukkan adanya perubahan sosial yang memengaruhi alam pikiran tiap pemakai bahasa. Kata “saya” berasal dari kata “sahaya” yang memiliki persamaan makna dengan kata “hamba” (yang juga berasal dari kata “hamba sahaya”).

sahaya
1. kl abdi; budak; hamba
2. pron kl saya
hamba
1. abdi; budak belian
2. kl saya (untuk merendahkan diri)
3. kl ya, Tuan (sangat takzim)

Penggunaan kata “hamba” berarti si pembicara menempatkan dirinya sebagai “abdi” atau “budak” dari orang yang diajak bicara (walaupun kenyataannya tidak demikian). Penggunaan tersebut menunjukkan bahwa ia menempatkan dirinya pada kedudukan yang lebih rendah daripada orang yang diajaknya bicara. Dengan kata lain, ia menghormati orang tersebut!

Setelah kita tidak hidup lagi dalam masa kerajaan, kata “hamba” tersebut dianggap terlalu merendah. Dari sinilah, kita mulai menggunakan kata “saya” yang berasal dari kata “sahaya” (padahal, menurut Mimin ini artinya juga masih sama-sama “budak”. Merasa bingung~).

Nah, sudah jelas, kan, mengapa kata ganti “saya” ini digunakan dalam ragam formal? Karena ada kesan bahwa kita menghormati orang yang kita ajak bicara. Tentunya, kita akan lebih hormat pada orang yang lebih tua, lebih tinggi jabatannya, atau lebih tinggi ilmunya. Silakan sobat Aku Bahasa renungkan kembali, ya! Bagaimana dengan kata “aku”?

Hm, ternyata penggunaan “aku” ini lebih dipengaruhi oleh bahasa daerah, loh. Orang Sumatera dan Jawa lebih mudah dan lebih umum menggunakan kata “aku” dalam percakapan dengan kalangan yang sama tinggi derajatnya dan sudah akrab. Walaupun begitu, Ajip Rosidi juga masih mempertanyakan kebenaran fenomena ini karena belum ada penelitian mengenai hal tersebut. Sobat Aku Bahasa mungkin mau meneliti? Demikianlah sejarah singkat dari kata ganti “saya” dan kata ganti “aku”.

Dalam akhir tulisannya, Ajip Rosidi menegaskan bahwa perbedaan penggunaan kedua kata ganti tersebut tetap akan bertalian dengan rasa bahasa. Artinya, kalau Sobatku lebih suka menggunakan kata “saya” karena tidak merasa menempatkan diri sebagai “hamba”, ya, tidak masalah. Beliau pun mengutip satu bait sajak Chairil Anwar yang menyatakan bahwa kita ini bangsa yang “baru bisa bilang aku”.

Nah, itulah mengapa kami memberi nama “Aku Bahasa”, bukan “Saya Bahasa”. Kami ingin lebih akrab dan dekat dengan para sobat sekalian, loh. Kalau kami menggunakan “Saya Bahasa”, berarti kami adalah budak dari sobat sekalian. Hi-hi. #gakgitujuga

Artikel yang berkaitan
Komentar