Psikologi Sastra

ditulis oleh: Teti Julianti

Sastra merupakan bagian dari kehidupan manusia, salah satunya "drama" yang tentunya ada yang disebut dengan naskah drama. Naskah drama merupakan suatu kumpulan adegan, baik itu dialog ataupun monolog yang digabungkan ke dalam sebuah cerita. Naskah drama merupakan karya sastra yang sangat membutuhkan pengkajian yang lebih mendalam karena suatu naskah drama tidak sedikit yang terus dipertunjukan.

Naskah drama dapat dikaji dengan berbagai macam kajian, salah satunya dengan kajian psikologi sastra. Kajian ini menghubungkan antara psikologi seseorang dengan ilmu sastra. Salah satu objek kajian psikologi sastra, yaitu tokoh dan penokohan. Tokoh atau penokohan merupakan objek yang menjalankan suatu cerita, tanpa seorang tokoh cerita tidak akan berjalan. Sebagaimana dijelaskan Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2012:165)

“tokoh cerita adalah orang yang ditampilkan dalam karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki moral dan kecendrungan tertentu seperti yang diekspresikan dan apa yang dilakukan dalam tindakan”. 

Seorang tokoh dalam sebuah cerita memiliki peran yang sangat penting karena tokoh berfungsi sebagai penyampai maksud dari penulis atau pengarang kepada pembaca. Seorang tokoh dalam cerita pastinya mempunyai struktur kepribadian yang berbeda-beda. Struktur kepribadian dalam sebuah cerita bisa dikaji dengan kajian psikologi sastra. Kajian psikologi sastra sangat tepat diterapkan untuk mengkaji sebuah naskah drama karena kita dapat mengaitkan kondisi psikologis terhadap karya sastra itu sendiri, sehingga maksud yang hendak disampaikan pengarang tersampaikan dengan baik. Khususnya naskah drama yang nantinya akan ditampilkan dan dipertontonkan kepada masyarakat umum. 

Psikologi sastra merupakan ilmu yang dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra dengan melihat atau mengkaji kondisi psikologi pengarang ataupun tokoh yang ada dalam sebuah cerita. Psikologi sastra adalah sebuah disiplin antara psikologi dan sastra (Endraswara,2008:16). Pada dasarnya psikologi sastra dianalisis dalam kaitannya antara psike dengan aspek-aspek kejiwaan pengarang (Ratna,2004:340). Bisa kita artikan bahwa kondisi psikologi seorang pengarang bisa berdampak besar terhadap karya sastra yang dibuatnya.

Di Indonesia perkembangan psikologi sastra agak lamban karena beberapa hal. Menurut Ratna dalam bukunya Teori, Metode, Teknik Penelitian Sastra halaman 341 mengungkapkan

“penyebab lambannya perkembangan teori psikologi sastra di Indonesia diantaranya:
1). Psikologi sastra seolah-olah hanya berkaitan dengan manusia sebagai individu, kurang memberikan peranan terhadap subjek individual.
2). Tradisi intelektual.”

Dari pemaparan tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa psikologi sastra di Indonesia bukan lamban karena tidak adanya karya-karya yang dapat dikaji dengan kajian psikologi, tetapi kurangnya pemahaman tentang psikologi sastra itu sendiri. Hal ini memang terjadi di Indonesia, karena di Indonesia teori-teori mengenai psikologi sastra sangat terbatas. 

Psikologi sastra dibangun atas dasar asumsi-asumsi genesis, dalam kaitannya dengan asal-usul karya. Artinya psikologi sastra dianalisis dalam kaitannya dengan psike dengan aspek-aspek kejiwaan pengarang (Minderop,2011:52). Dalam mengkaji suatu karya sastra dengan menggunakan kajian psikologi sastra tentunya ada tahap-tahapnya. Langkah-langkah pemahaman teori psikologi sastra ada tiga, yaitu 

1). Melalui pemahaman-pemahaman teori psikologi kemudian dianalisis;

2). Menentukan sebuah karya sastra sebagi objek penelitian, kemudian tentukan teori  psikologi yang relevan;

3). Secara simultan menemukan teori dan objek penelitian (Endraswara,2008:89).

Kepribadian dibagi menjadi tiga macam yaitu id, ego dan super ego (Ratna,2004:344). Hal ini relevan dengan teori yang dikemukakan oleh Freud tentang struktur kepribadian. Menurut Freud tingkah laku merupakan hasil konflik dan rekonsilitas ketiga sistem kepribadian (id, ego dan superego). Freud mengibaratkan id bertindak sebagai raja atau ratu, ego sebagai perdana menteri dan superego sebagai pendeta. Id berlaku sebagai kekuasaan tertinggi yaitu kekuasaan absolut, harus dihormati, manja, sewenang-wenang, dan mementingkan diri sendiri. Ego selaku perdana menteri yang diibaratkan memiliki tugas harus menyelesaikan segala pekerjaan yang terhubung dengan realitas akan tanggapan terhadap keinginan masyarakat. Superego ibaratnya seorang pendeta yang selalu penuh pertimbangan terhadap nilai-nilai baik dan buruk, harus mengingatkan id yang rakus dan serakah bahwa pentingnya perilaku yang arif dan bijak (Minderop,2011:21).


Sumber:

Ratna, N.Y. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta:Pustaka Belajar

Nurgiyantoro, B. 2012. Teori Pengkajian Fiksi. 

Endraswara, S. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: MedPress

Minderop, A. 2011. Psikologi Sastra Karya Sastra: Metode,  Teori, dan Contoh Kasus. Jakarta: Pustaka Obor

Artikel yang berkaitan
Komentar