Proses Morfologi

ditulis oleh: Desi Ari Sandi

Apakah kamu sudah kenal dengan istilah “morfologi”? Ya, benar. Morfologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang hal-hal yang berkaitan dengan bentuk kata. Kamu pasti pernah bingung dan bertanya-tanya, mengapa kata “tari” itu bisa berubah menjadi “tarian”, “menari-nari”, “penari”, dan “menarikan”? Nah, hal tersebutlah yang menjadi objek kajian dalam morfologi. Sebetulnya, bahasan morfologi itu sangatlah banyak, tetapi dalam artikel ini hanya akan menjelaskan mengenai tiga proses morfologi yang sering kita gunakan dalam berkomunikasi sehari-hari. 

Proses morfologi dalam bahasa Indonesia terjadi melalui afiksasi (pengimbuhan), pemajemukan, dan reduplikasi (pengulangan). Afiksasi (pengimbuhan) merupakan proses penambahan afiks atau imbuhan. Afiks atau imbuhan dalam bahasa Indonesia terbagi ke dalam empat jenis.

1.  Prefiks (Awalan)

Prefiks merupakan afiks yang melekat di awal kata dasar. Contohnya, menyanyi, berbisik, dibaca, tersenyum, penulis, sebuah, kekasih, dan lain-lain.

2.  Infiks (Sisipan)

Infiks merupakan afiks yang melekat di dalam kata dasar. Contohnya, gerigi, gemetar, telunjuk, dan lain-lain.

3.  Sufiks (Akhiran)

Sufiks merupakan afiks yang melekat di akhir kata dasar. Contohnya, taburi, bersihkan, catatan, seniman, ilmuwan, dan lain-lain.

4.  Konfiks 

Konfiks merupakan afiks yang melekat di awal dan akhir kata dasar. Contohnya, memesankan, dicintai, mempelajari, diperbaiki, kesenangan, pemberontakan, persyaratan, berlarian, bertaburkan, dan lain-lain.

Pemajemukan merupakan proses penggabungan dua kata atau pokok kata yang membentuk kata. Hasil dari proses ini disebut kata majemuk. Berikut merupakan ciri-ciri kata majemuk.

1.  Tidak dapat disisipi kata apa pun. Misalnya, “kaki tangan” tidak bisa disisipi oleh kata “dan” menjadi “kaki dan tangan”.

2.  Susunan kata majemuk tidak dapat dipertukarkan. Misalnya, “sepak terjang” menjadi “terjang sepak”.

3.  Konstruksi kata majemuk tidak dapat diubah. Misalnya, “buah bibir” menjadi “bibir itu buahnya”.

4.  Salah satu atau semua unsurnya merupakan pokok kata. Misalnya, “banting tulang” dan “baca tulis”.

5.  Salah satu unsur morfemnya unik. Misalnya “beras petas”, “gegap gempita”, “tua renta” dan lain-lain.

Reduplikasi (pengulangan) merupakan proses pengulangan kata atau unsur kata. Reduplikasi memiliki beberapa jenis atau pengelompokan. Bahkan, banyak sekali ahli bahasa yang mengemukakan tentang jenis reduplikasi ini. Akan tetapi yang akan dibahas di artikel ini yaitu jenis-jenis reduplikasi menurut Gorys Keraf.

1.  Dwipurwa merupakan ulangan suku kata awal yang disertai pelemahan bunyi vokal. Misalnya, “laki” menjadi “lelaki”.

2.  Dwilingga merupakan ulangan utuh kata. Misalnya, “rumah” menjadi “rumah-rumah”.

3.  Dwilingga salin suara merupakan ulangan kata dasar, tetapi mengalami perubahan suara pada satu fonem atau lebih. Misalnya, “gerak” menjadi “gerak-gerik”.

4.  Ulangan berimbuhan merupakan ulangan dengan mendapat imbuhan, baik pada bentuk dasar pertama maupun kedua. Misalnya, “gerak” menjadi “bergerak-gerak”, “tolong” menjadi “tolong menolong”.

Bagaimana, sudah ada sedikit pencerahan mengenai proses morfologi? Artikel kali ini hanya membahas mengenai dasarnya saja, loh. Kamu pasti penasaran kan dengan penjelasan yang lebih rincinya? Aku Bahasa akan menjelaskan proses morfologi secara tajam dan mendalam. Jadi, kamu harus selalu mengikuti Aku Bahasa, karena dengan Aku Bahasa “literasiku memesat”.

Semoga artikelnya bermanfaat, salam!

Artikel yang berkaitan
Komentar