Perlukah Penjenamaan Selalu “Nginggris”?

ditulis oleh: Ali Hasan Asyari

“we i be, we i be ...”

“syoogi sebelas sebelas, big syel ...”

“sebelas sebelas, lagadaarr ...”

Sobatku pemburu diskon? Mumpung masih suasana 12.12, eh, lalu kita tos-tos-an, Sobatku pasti tau semua penjenamaan (branding) ini. Yap, gara-gara ini uang kita bagaikan angkot. Hanya singgah sementara. Ha-ha.

Namun, pernahkah Sobatku melihat berbagai branding toko daring sebagian masih “nginggris”? Sampe-sampe dalam penamaan menu di aplikasinya pun sebagian masih menggunakan bahasa Inggris. Apakah tidak keliru dan menyampingkan fungsi bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa? Eits, pemersatu bahasa bangsa, ya.

Kita ambil contoh saja, ya, dari beberapa penjenamaan beberapa toko daring, seperti “big choise, big deals”, “make joy happen”, “12.12 Big Sale”, “Payment, Points, Priority”, dll. Ya, meskipun beberapa juga sudah menggunakan penjenamaan dengan bahasa Indonesia, seperti “Mulai Dulu Aja”, “Pasti Ada Jalan", “Semua Ada, Semua Bisa”, dll.

Selain dari penjenamaan, penggunaan kata-kata “nginggris” pun tak jarang kita temui dalam aplikasi yang kita pakai, seperti giveaway, sale, cashback, voucher, fashion, download, wishlist. Pernah tidak terpikirkan mengapa tidak menggunakan kata seperti, cendera mata, obral, kembalian tunai, voucer, busana, unduh, daftar keinginan? Sebelum kita membahas lebih dalam, sebaiknya bagi Sobatku yang memiliki aliran ekstrem dalam prinsip penggunaan bahasa Indonesia harus lebih santai, ya. Ha-ha.

Loh, mengapa? Menurutku begini. Simpelnya, kita harus balik lagi pada prinsip “gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar”. Memang, bahasa Indonesia perlu diutamakan dalam hidup kita. Bahasa merupakan ekspresi budaya yang perlu kita perhatikan. Meskipun begitu, hal ini adalah “pengecualian”. Maka dari itu, mari sampingkan prinsip kita terlebih dahulu.

Dalam bahasa Indonesia, terdapat istilah “Laras Bahasa”. Ini sebenarnya hal yang aku ambil ketika mengikuti kelas bahasa Ivan Lanin tentang penggunaan bahasa Indonesia pada UI dan UX. Dengan adanya “Laras Bahasa”, mungkin penggunaan bahasa Indonesiaku lebih luwes. Ya, aku tidak berpikir lagi bahasa Indonesia itu kaku karena dalam “Laras Bahasa” terdapat beberapa klasifikasi seperti penggunaan kata yang luwes, santai, populer, baku, dan beku. Dalam “Laras Bahasa” juga, bahasa dibagi dalam beberapa kategori, yaitu sastra, kreatif, jurnalistik, bisnis, ilmiah, dan hukum. Jika penggunaan kata berdasarakan kategori tersebut, menjadi seperti ini 

sastra (puisi, cerpen) -> luwes; 
kreatif (iklan, takarir medsos) -> santai; 
jurnalistik (berita, esai, siaran pers) -> populer;
bisnis (surat, laporan), Ilmiah (skripsi, makalah) -> baku;
hukum (peraturan, perjanjian) -> beku*.

*Catatan: Istilah “beku” dalam laras bahasa hukum diambil dari “frozen” dalam The Five Clocks (Joss, 1962).

Selengkapnya tentang Laras Bahasa, bisa kunjungi twit Ivan Lanin: https://twitter.com/ivanlanin/status/1322098184445861894

Penjelasan “Laras Bahasa” ini membuatku lebih paham mengapa banyak toko daring masih menggunakan kata “nginggris”. Ya, meskipun sebagian, sih. Namun, perlu kita tahu juga bahwa para kreator toko daring serta tim yang ada di dalamnya pun selalu “mengutamakan kenyamanan pelanggan”. 

Dalam konsep UI dan UX, kreator selalu beprinsip “kenyamanan pengguna dan kemudahan dalam eksplorasi aplikasi selalu menjadi utama”. Seperti yang kita tahu, beberapa tahun ini, toko daring yang ada di Indonesia selalu berlomba dalam hal “kenyamanan” pengguna. Mungkin hal ini lah yang membuat bahasa Indonesia “disampingkan” dulu. 

Contohnya begini, pengguna lebih paham dan mudah mengerti dengan kata cashback dibandingkan kembalian tunai. Lalu, pengguna juga lebih nyaman dengan kata giveaway dibandingkan cendera mata. Selain itu, pengguna juga lebih familier dengan kata sale dibandingkan obral. Kondisi ini lah yang membuat peran laras bahasa berguna. 

Penggunaan kata dalam konsep UI dan UX pada toko daring baik penjenamaan atau penamaan bisa termasuk dalam kategori bahasa kreatif karena pemilihan kata lebih kreatif dan mudah dipahami, pendek, dan santai. Tentunya, hal ini digunakan untuk bersaing demi ”kenyamanan pengguna”.

Dari uraian ini, memang tidak sesuai dengan prinsip bahasa Indonesia, ya. Ha-ha. Namun, menurutku begini, dengan kita sering menggunakan bahasa Indonesia, baik di media sosial atau secara langsung, mungkin suatu saat masyarakat pun lebih nyaman dan lebih paham dengan menggunakan bahasa Indonesia. Tak apa, sedikit-sedikit saja. Dengan begitu, penjenamaan atau pun konsep UI dan UX pada toko daring bisa menggunakan bahasa Indonesia. Bisa, kan, kreatif dengan bahasa Indonesia? Harus bisa, dong.

Bagaimana menurutmu?

Artikel yang berkaitan
Komentar