Perbedaan Teks Sejarah dengan Novel

ditulis oleh: Yulia Yulian

Teman-teman mungkin bingung membedakan teks sejarah dengan novel karena tidak sedikit kita menemui novel yang berlatar belakang sejarah ataupun cerita-cerita sejarah yang banyak dibumbui oleh cerita-cerita imajinatif. Contohnya, cerita tersebut ada pada cerita hikayat, legenda, dan cerita-cerita klasik lainnya.

Kebingungan tersebut memang wajar karena teks sejarah maupun novel memiliki beberapa persamaan, di antaranya sebagai berikut.

1. Sama-sama tergolong ke dalam teks naratif (ada unsur penokohan, alur atau rangkaian peristiwa, serta latar).

2. Sama-sama berpola kronologis (peristiwanya beruntun sesuai waktu) dan kausalitas (adanya sebab akibat).

3. Sama-sama banyak menggunakan konjungsi temporal (waktu) atau penyebaban, contohnya kemudian, lalu, akhirnya, sehingga, karena, dan oleh karena itu.

Walaupun begitu, teks sejarah dan novel bukanlah dua hal yang sama. Perbedaan yang paling jelas di antara keduanya adalah soal kebenaran peristiwanya. Dalam teks sejarah, setiap peristiwa yang terjadi bersifat faktual, benar-benar terjadi di masa lalu sesuai sejarah. Dalam novel, peristiwanya hanya bersifat fiktif, yakni imajinasi belaka dan tidak benar-benar terjadi dalam dunia nyata. 

Selain itu, semua peristiwa dalam teks sejarah adalah sesuatu yang penting, sedangkan dalam novel tidak demikian. Peristiwa dalam novel disusun dari yang kurang penting ke yang paling penting (klimaks). Tujuannya adalah untuk memberikan kejutan-kejutan tersendiri kepada pembaca.

Pada bagian akhir, teks sejarah memberikan kejelasan tentang konsekuensi dari rangkaian peristiwa yang telah diceritakan. Sementara itu, akhir cerita dalam novel sering dibuat menggantung bahkan tidak jelas. Pembaca biasanya dipersilakan menyelesaikan cerita dengan tafsiran masing-masing.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perbedaan teks sejarah dengan novel adalah sebagai berikut.

1. Teks sejarah bersifat faktual, sedangkan novel bersifat fiktif/imajinatif.

2. Rangkaian peristiwa dalam teks sejarah bersifat gradual (berangsur-angsur), sedangkan dalam novel bersifat hierarkis (kurang penting ke yang paling penting).

3. Dalam teks sejarah ada kepastian pada akhir cerita, sedangkan dalam novel kejelasan akhir cerita diserahkan kepada pembaca.

Contoh Teks Sejarah

Perang Bali

Pada abad ke-19 Belanda ingin menguasai Bali. Belanda memaksa kerajaan-kerajaan di Bali takluk kepada Belanda yang berpusat di Batavia. Raja-raja di Bali masih merasa bahwa mereka mempunyai kedaulatan di daerahnya sehingga persengketaan tidak dapat dihindarkan. 

Pada tahun 1846 Perang Bali meletus. Pasukan Bali bertahan di benteng. Karena persenjataan yang lebih lengkap, pasukan Belanda berhasil merebut benteng dan menduduki istana raja. Raja Buleleng dan Karangasem dipaksa menandatangani perjanjian damai. Isi perjanjian tersebut adalah sebagai berikut. 

a. Belanda bebas mengadakan monopoli dagang di Bali.

b. Hukum adat hak tawan karang harus dihapuskan 

c. Buleleng harus mengganti 3/4 kerugian perang Belanda.

Belanda menyangka bahwa dengan perjanjian itu Bali telah ditundukkan. Karena itu, pasukan induknya dikembalikan ke Jawa. Rakyat kembali menyerang Belanda. Pos Belanda di Bali diserbu dan persenjataannya dirampas.

Pada tahun 1848 Belanda kembali mengirimkan pasukannya. Belanda mengancam dan meminta pasukannya yang ditawan dibebaskan. Belanda mengetahui bahwa apabila Gusti Jelantik, patih Kerajaan Buleleng, masih bebas akan selalu terjadi perlawanan. Karena itu ia harus diserahkan kepada Belanda. Ternyata raja-raja Bali tidak segera memenuhi tuntutan itu. Pada bulan Juni 1848 pasukan Belanda didatangkan. Mereka menuju Benteng Jagaraga yang merupakan pusat perlawanan orang Bali. Pada tahun 1849 Belanda kembali mengirimkan pasukan besar untuk menyerang Bali. Belanda mendarat di Buleleng dan langsung menuju ke Jagaraga. Gusti Jelantik beserta seluruh pasukannya mengadakan perang puputan atau perang habis-habisan. Setelah dipertahankan mati-matian, Jagaraga jatuh ke tangan Belanda. Pada tahun 1849 raja-raja Bali berhasil dipaksa takluk kepada Belanda.

Contoh Cuplikan Novel Sejarah

Arok Dedes -Pramoedya Ananta Toer

Ken Dedes kehilangan kedamaiannya memasuki pura bersamadengan orang Wisynu, juga Paramesywari Tumapel. Dilihatnya Ken Arok dan KenUmang telah tenggelam dan puji syukur. Dan waktu ia berpaling ke belakangdilihatnya Bango Samparan dan Bana juga sedang tenggelam. Dari cara merekabersimpuh dan menunduk dapat diketahuinya: dua-duanya orang Wisynu.

Ia melirik pada suaminya yang sedang tenggelam di sampingkirinya. Apakah benar ucapan Lohgawe, dia mendapat pancaran sepenuhnya dariHyang Bathara Guru dan titisan Hyang Wisynu Untuk pertama kali ia meragukanbrahmana puncak itu.

Lelaki di sebelah kirinya memang sangat berharga untuknya,sangat berharga untuk cinta dan hidupnya. Dia telah persembahkan kemenanganuntuk kawula Tumapel dengan muslihat bermuka ganda dan cara tanpa bilangan. Dania tahu, kemenangan itu tidak dipersembahkan kepada dirinya. Sejak pertama kalinaik ke panggung kekuasaan Tumapel dia telah membawa serta dengannya orangWisynu, Buddha, Tantrayana dan Kalacakra, orang-orang bodoh yang hanyamenyembah leluhur. Ia tidak yakin Ken Arok akan mendudukkan kembali Hyang Syiwapada cakrawartinya.

Ia mengerti Ken Arok mempunyai cara berperang tanpa membukagelar, tidak seperti para satria sebelum ini. Dan dengan cara-cara berperangitu ia takkan mungkin terkalahkan. Keselamatan dan keagungan Tumapel terjamindi dalam tangannya. Hanya ia sendiri kehilangan tempat di samping suami yangdicintainya, kehilangan balatentara yang dapat diperintahnya, kehilangankepercayaan dari orangtua yang dicintai dan dipujanya setulus hati. Dan dalamkandungannya seorang bayi, anakku dari musuh suaminya, sedang menunggu giliranuntuk jadi berkuasa atas Tumapel. Dan Paramesywari lain itu, juga sedangmengandung. Juga dalam kandungannya seorang bayi sedang menunggu giliran untukjadi penguasa atas Tumapel. Dan bayi itu adalah anak Ken Arok yang menang atasTumapel. Bayinya adalah anak dari yang dikalahkannya.

Ia pejamkan dan kedipkan mata. Ia lihat kegelapan di hadapannya,dan ia tidak rela.

Untuk pertama kali ia biarkan airmatanya berlinang.


Sumber:

Kosasih, E. 2017. Jenis-jenis Teks. Bandung: Pernerbit Yrama Widya.

Artikel yang berkaitan
Komentar