Perbedaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

ditulis oleh: Yulia Yulian

Dalam beberapa situasi, kita sering dituntut untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengapa hanya dalam situasi tertentu saja? Apakah berbahasa yang baik itu sudah tentu benar dan berbahasa yang benar itu sudah tentu baik?

Dilihat dari makna baik dan benar saja, kedua hal tersebut sudah berbeda. Sebelum membahas bahasa Indonesia yang baik, alangkah baiknya kita membahas bahasa Indonesia yang benar terlebih dahulu. Bagaimana sebenarnya bahasa yang benar itu? Menurut Alwi (2010, hlm. 20), bahasa yang benar adalah bahasa yang pemakaiannya mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku oleh penuturnya. Kita bisa menilai bahasa seseorang benar atau tidak jika sudah ada putusan atau kesepakatan umum dari pejabat pemerintah dan penuturnya. Bahasa yang benar juga diajarkan pada praktik pengajaran kepada khalayak. Dengan demikian, bahasa yang benar berbicara tentang benar atau salahnya bahasa. Untuk mengukur kebenaran bahasa, kita bisa mengacu pada dokumen-dokumen bahasa atau buku-buku tata bahasa yang baku seperti KBBI, EBI, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, dan lain-lain. Misalnya bahasa tersebut tidak sesuai dengan EBI, bahasa tersebut tidak benar atau salah. Sebagai contoh, perhatikan kalimat (1) dan (2) berikut.

(1) Rumah dua kamar itu di kontrakkan. (Salah)

(2) Rumah dua kamar itu dikontrakkan. (Benar)

Contoh di atas adalah contoh bahasa Indonesia yang benar (2) dan yang salah (1). Contoh (1) disebut salah karena menyalahi aturan EBI, yakni kata yang mendapat awalan (di) harus ditulis serangkai. 

Bahasa Indonesia termasuk bahasa yang pembakuannya belum mantap. Artinya, tidak semua tatarannya sudah dibakukan. Masih ada sebagian tataran yang belum dibakukan. Kaidah ejaan dan pembentukan istilah bahasa Indonesia sudah distandarkan, kaidah pembentukan kata yang sudah tepat dapat dianggap baku, tetapi pelaksanaan patokan itu dalam kehidupan sehari-hari belum mantap. 

Bagaimana dengan bahasa yang baik?

Menurut Alwi (2010, hlm. 21), bahasa yang baik adalah bahasa yang memanfaatkan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa. Tujuan dari berbahasa yang baik adalah tepat sasaran. Artinya, kita tidak perlu menggunakan ragam baku untuk mengenai sasaran. Jika kita ingin melakukan tawar menawar kepada tukang sayur atau tukang becak, kita tidak perlu menggunakan ragam baku. 

Contoh:

(3) Berapakah Ibu mau menjual bayam ini?

(4) Apakah Bang Becak bersedia mengantar saya ke Pasar Tanah Abang dan berapa ongkosnya?

Contoh tersebut adalah contoh penggunaan bahasa Indonesia yang baku dan benar, tetapi tidak baik dan tidak efektif karena tidak cocok dengan situasi pemakaian. Penggunaan ragam baku dalam situasi seperti itu hanya akan menimbulkan kegelian, keheranan, atau kecurigaan (Alwi, 2010, hlm. 21). Alangkah lebih baik jika bahasa yang digunakan dalam situasi tersebut seperti berikut.

(5) Berapa nih, Bu, bayemnya?

(6) Ke Pasar Tanah Abang berapa, Bang?

Sebaliknya, penggunaan bahasa yang tidak baku dalam situasi formal juga tidak baik. Umpamanya, kita tidak bisa menggunakan ragam percakapan pada saat melakukan diskusi di sekolah seperti contoh berikut.

(7) Ya, nggak bisa gitu, dong. Aku nggak setuju kalo sampah harus dibuang ke gunung berapi. 

Contoh tersebut adalah contoh penggunaan bahasa Indonesia yang tidak benar dan tidak baik karena tidak sesuai dengan situasi formal. Contoh tersebut akan lebih baik jika menggunakan bahasa yang baku dan formal seperti berikut.

(8) Menurut saya tidak bisa seperti itu. Saya tidak setuju jika sampah harus dibuang ke gunung berapi. 

Contoh (5) dan (6) adalah contoh berbahasa yang benar tetapi tidak baik sedangkan contoh (7) adalah contoh berbahasa yang tidak benar dan tidak baik. Menurut pembaca, adakah contoh berbahasa yang tidak benar tetapi baik? 


Sumber:

Alwi, dkk. (2010). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bhasa dan Balai pustaka.

Artikel yang berkaitan
Komentar