Menyambut Nasionalisme Bahasa

ditulis oleh: Ali Hasan Asyari

Pemilihan umum yang sudah dilaksanakan kemarin, menimbulkan harapan-harapan besar. Termasuk terhadap bahasa Indonesia. Ada apa dengan bahasa Indonesia? Pasti banyak yang menyangka bahwa bahasa kita baik-baik saja. Yakin? Coba kita tes. 

Contoh:

Cina atau China? Praha atau Prague? Hitung cepat atau quick count? Telepon genggam atau handphone? 

Sebenarnya, tidak salah untuk menggunakan bahasa Inggris. Akan tetapi, kalau kita masih punya bahasa Indonesia, kenapa tidak digunakan? 

Uraian pada contoh, menimbulkan beberapa pertanyaan. Kalau kita sudah punya Cina, kenapa harus China? Kalau kita sudah punya Praha, kenapa harus Prague? Merasuknya bahasa Inggris menjadi tuman. Contoh prasangka yang tidak banyak diketahui, telepon genggam yang sering kita sebut handphone atau HP, konon dari bahasa Inggris. Padahal bahasa Inggris menyebutnya mobile phone atau cellular phone

Bahasa Inggris memang paling banyak digunakan pejabat, anggota pemerintah, atau tokoh masyarakat. Banyak yang memasukkan kemampuan bahasa Inggris untuk persyaratan pekerjaan. Bahkan pekerjaan untuk instansi dalam negeri. Mengapa tidak dengan bahasa Indonesia? Padahal, seharusnya kita menjadi "teladan" terhadap bahasa sendiri. Pejabat dan anggota pemerintah mana pun selalu menggunakan bahasa mereka sebaik mungkin. Kenapa kita tidak? 

Fakta memang tidak bisa disalahkan. Betapa rendahnya nasionalisme berbahasa kita. Masyarakat Indonesia dikenal dengan masyarakat yang nasionalis, bahkan fanatik. Kemarin, ketika mendukung calon presiden dan calon wakil presiden, kita begitu fanatik. Begitu pula ketika pemerintah berlaku tidak adil, kita pun begitu fanatik untuk menentang. Namun, nasionalisme itu merosot ketika dihadapkan dengan bahasa Indonesia. Begitu serakah orang Indonesia mencampurkan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. 

Bisakah nasionalisme bahasa ini bangkit setelah ada pemimpin baru? Seharusnya dengan adanya momen ini, semangat kita bertambah. Termasuk dengan semangat nasionalisme bahasa ini. Namun, masalahnya bukanlah para pencemar bahasa. Akan tetapi, mereka yang tidak punya rasa bangga dengan bahasa sendiri. Maka, mari kita mulai menanam rasa bangga terhadap bahasa Indonesia. Mari kita menyambut nasionalisme bahasa, seperti menyambut pemimpin baru Indonesia. Jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga bahasa Indonesia. Ayo, kita bisa!

Artikel yang berkaitan
Komentar