Mengenal Sebagian Folklor Indonesia

ditulis oleh: Rima Rismaya

Folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, baik dalam bentuk lisan maupun yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (memonic device). Berikut ini ciri pengenal utama folklor yang membedakannya dengan kebudayaan lainnya.

1. Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut (atau dengan suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat dan alat pembantu pengingat).

2. Folklor bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap.

Jika kebudayaan mempunyai tujuh kebudayaan universal, yakni sistem mata pencaharian hidup, sistem peralatan dan perlengkapan hidup, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, dan sistem religi, maka berdasarkan tipenya folklor dapat digolongkan menjadi folklor lisan, folklor  sebagian lisan, dan folklor bukan lisan.

Folklor Lisan

Folklor lisan adalah folklor yang bentuknya memang murni lisan. Genre folklor yang termasuk ke dalam kelompok ini antara lain a) bahasa rakyat atau folk speech (logat, julukan, pangkat tradisional, dan titel kebangsawanan); b) ungkapan tradisional (peribahasa, pepatah, dan pemeo); c) pertanyaan tradisional (teka-teki); d) puisi rakyat (pantun, gurindam, dan syair); e) cerita prosa rakyat (mite, legenda, dan dongeng); dan f) nyanyian rakyat.

Contoh folklor lisan Indonesia adalah bahasa rakyat di Indonesia yang dibuktikan dengan adanya bahasa bertingkat (speech level) yang berlaku pada masyarakat berdasarkan sistem pemerintahan kerajaan (Jawa Tengah, Sunda, dan Bali) pada zaman sebelum kemerdekaan Indonesia.

Floklor Sebagian Lisan

Folklor sebagian lisan adalah folklor yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan. Kepercayaan rakyat, misalnya, yang oleh “orang modern’ sering disebut takhyul itu, terdiri dari pernyataan yang bersifat lisan ditambah dengan gerak isyarat yang dianggap mempunyai makna gaib. Bentuk-bentuk folklor yang tergolong ke dalam kelompok ini selain kepercayaan rakyat adalah permainan rakyat, teater rakyat, tari rakyat, adat-istiadat, upacara, pesta rakyat, dan lain-lain.

Contoh folklor sebagian lisan di Indonesia adalah takhyul mengenai kelahiran bahwa di Jawa, wanita yang sedang mengandung dianjurkan untuk melihat yang benda-benda atau manusia yang bagus-bagus, karena jika melihat yang buruk, maka anak yang dilahirkan akan jelek bentuknya. Contoh lainnya adalah di Betawi, ada larangan untuk membawa bayi keluar rumah pada waktu magrib karena takut diganggu roh-roh jahat yang misalnya berbentuk setan polong.

Folklor Bukan Lisan

Folklor bukan lisan adalah folklor yang bentuknya bukan lisan, walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Kelompok ini dapat dibagi menjadi dua subkelompok yakni a) yang material dan b) yang bukan material.

a) Bentuk material antara lain arsitektur rakyat (bentuk rumah asli daerah, bentuk lumbung padi, dan sebagainya), kerajinan tangan rakyat, pakaian dan perhiasan tubuh adat, makanan dan minuman rakyat, dan obat-obatan tradisional.

b) Bentuk bukan material antara lain gerak isyarat tradisional, bunyi isyarat untuk komunikasi rakyat (kentongan tanda bahaya di daerah Jawa), dan musik rakyat.

Salah satu contoh folklor bukan lisan dalam bentuk material adalah makanan yang berkaitan erat dengan ketegangan jiwa. Makanan tertentu dapat lebih menggambarkan identitas suatu kelompok, daripada benda-benda kebudayaan lainnya bagi kelompok yang mempergunakannya. Hal ini disebabkan karena ia dapat mengembalikan ketenangan orang yang sedang mengalami ketegangan jiwa. Contoh keadaan ini adalah orang Minang walaupun sedang berada di Amerika Serikat, akan berusaha memasak rendang sekalipun harga kelapa mahal di sana, atau orang Sunda yang selalu menginginkan lalapan sebagai pendamping nasinya. Secara umum, makanan tradisional masyarakat Indonesia bisa dikatakan identik dengan sambal, apapun jenis dan bentuk sambalnya.


Sumber rujukan:

Danandjaya, J. 2002. Folklor Indonesia Ilmu Gosip Dongeng dan Lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Artikel yang berkaitan
Komentar