Mengenal Sastra Melalui Metafora

ditulis oleh: Rima Rismaya

Sastra merupakan suatu hal yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kehidupan masyarakat. Sastra membawa hal-hal yang tidak bisa dibawa oleh bidang lain. Hal-hal ini merujuk pada fungsi sastra itu sendiri, yaitu fungsi rekreatif, fungsi didaktif, fungsi estetis, fungsi moralitas, dan fungsi religius. Sastra sendiri bersifat menghibur, memberikan inspirasi, dan memberikan pengaruh-pengaruh bagi para penikmat atau apresiator sastra itu sendiri.

Sebagai bagian dari kehidupan, sastra tidak mengenal usia dan jenis kelamin. Semua orang dari semua kalangan berhak menikmati dan memproduksi sastra. Keadaan ini senada dengan pendapat Lakoff dan Johnson (2003) bahwa hidup kita dikelilingi sastra. Dalam bentuk yang sederhana, sastra bisa hadir melalui metafora-metafora yang baik secara sadar maupun tidak, sering kita gunakan dalam tuturan sehari-hari.

Seorang anak usia 6 tahun bertanya, “Kok Corona memakan korban? Kenapa Corona makan? Corona itu orang?”.
Lalu, anak tersebut menonton berita di televisi, pertanyaan baru ia ajukan, “Longsor di kaki gunung. Kaki gunung itu apa? Tanah, ya? Kaki aku itu tanah, ya?”
Jika pertanyaan itu diberikan padamu, bagaimana kamu menjelaskan jawabannya?

Frasa memakan korban dan kaki gunung dalam kalimat tanya tersebut termasuk ke dalam bentuk metafora. Hal ini disebabkan karena frasa memakan korban dan kaki gunung meminjam makna sebenarnya dari kata makan dan kaki. Dalam KBBI V, metafora diartikan sebagai pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan.

Metafora merupakan bagian dari sastra. Seperti yang kita tahu, selama ini sastra identik dengan penggunaan diksi yang mengandung majas tertentu. Majas dan metafora adalah suatu keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan.
Keluarga, terutama orang tua, berperan penting dalam pengenalan sastra pada anak. Hal kecil seperti menceritakan dongeng sebelum tidur juga termasuk aktivitas bersastra. Namun, hal ini tidak berarti bahwa sastra hanya hadir dalam bentuk ajeg, misalnya prosa, puisi, dan drama. Seperti contoh kasus yang telah disebutkan, berita pun juga bisa mengandung sastra.
“Saya tidak suka sastra. Saya tidak tahu bagaimana cara mengenalkan anak pada dunia sastra.”
Sederhana saja, sastra tidak perlu dihadirkan dalam bentuk yang muluk-muluk. Menghadirkan sastra yang berat untuk anak adalah suatu kesia-siaan. Anak akan kesulitan memahami makna novel “Bumi Manusia” karya Pram atau puisi “Aku” milik Chairil Anwar.

Kenalkan anak pada beragam contoh metafora yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kata keras kepala, patah semangat, panjang tangan, rendah hati, dan lain sebagainya. Jelaskanlah arti kata-kata tersebut dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak-anak. Semakin banyak kosakata yang anak pahami, maka akan semakin banyak pula bahan untuk ia memproduksi sastra itu sendiri.
Lalu, untuk apa anak menghasilkan karya sastra? Tahukah kamu mengenai KKPK?
Nah, jawabannya akan dibahas pada artikel selanjutnya. Tunggu, ya!

Sumber rujukan:
Lakoff, G., & Johnson, M. (2003). Metaphors We Live By. In Thinking: The Journal of Philosophy for Children (Vol. 4, Issue 1). London: The University of Chicago Press.

Artikel yang berkaitan
Komentar