Mengenal Balai Pustaka

ditulis oleh: Meilani Puji Astini

Siapa yang tak kenal nama Sitti Nurbaya? Yap, Sitti Nurbaya merupakan novel yang paling populer pada masa itu. Lalu, masa yang dimaksud adalah masa yang mana? Pernahkah Anda mendengar Angkatan 20 atau Balai Pustaka? Jika ya, tandanya Anda mengenal sejarah sastra Indonesia. Yuk, simak baik-baik!

Balai Pustaka sejatinya memiliki dua pengertian, yaitu (1) sebagai nama badan penerbit dan (2) sebagai nama suatu angkatan dalam sastra Indonesia. Kedua pengertian itu pun memiliki hubungan yang cukup erat. Hingga kini perlu kita akui bahwa nama Balai Pustaka sebagai penerbit masih ada. Hanya saja status dan fungsinya sangat berbeda dengan dahulu. Saat ini, Balai Pustaka berada dalam lingkungan Kemendikbud.

Selanjutnya, Balai Pustaka sebagai angkatan pun tidak terlepas dari riwayat pendirian Balai Pustaka, loh! Pada akhir abad ke-19 pemerintah Belanda banyak membuka sekolah untuk bumiputera dengan maksud: (1) mendidik pegawai-pegawai rendah yang dibutuhkan oleh pemerintah dan (2) agar politik pengajaran tetap dikuasai oleh pemerintah. Akan tetapi, sekolah-sekolah itu makin luas sehingga banyak bangsa kita yang pandai membaca dan menulis. Pemerintah khawatir terhadap kegemaran membaca dan menulis di kalangan khalayak. Untuk memenuhi keinginan membaca tersebut dengan keputusan No. 12 tanggal 14 September 1908 oleh pemerintah pun dibentuk suatu komisi yang diberi nama Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakyat di Sekolah-Sekolah Bumiputera) di bawah pimpinan G.A.J. Hazeu. Komisi ini pun semakin lama ternyata semakin luas dan semakin bertambah kegiatannya sehingga pada tahun 1917 diubah menjadi suatu badan penerbit yang diberi nama Balai Pustaka. Pimpinan badan penerbit tersebut secara berturut-turut, yaitu D.A. Rinkes, G.W.J. Drewes, dan K.A.H. Hidding.

Nah, berdasarkan uraian tersebut, secara ringkas usaha dan kegiatan Balai Pustaka ialah:

1. mengusahakan penerbitan naskah-naskah cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia, misalnya Dongeng Banyuwangi, Si Kelantan, dan juga cerita-cerita wayang;

2. menerjemahkan dan menyadur cerita-cerita asing ke dalam bahasa Indonesia, misalnya Abunawas, Sebatang Kara, Si Bakhil, dan sebagainya;

3. mengadakan penerbitan karangan-karangan asli yang ditulis oleh bangsa Indonesia sendiri dan yang sebagian berbentuk novel, misalnya Azab dan Sengsara, Salah Asuhan, Sitti Nurbaya, dan sebagainya;

4. menerbitkan majalah dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia: Panji Pustaka (bahasa Melayu/Indonesia), Parahyangan (bahasa Sunda), dan Kejawen (bahasa Jawa);

5. mengadakan penyebaran buku-buku secara luas sampai ke pelosok, membangun perpustakaan di sekolah, dan mengadakan penjualan buku-buku tersebut dengan murah.

Nah, pada masa itu Sitti Nurbaya merupakan novel yang paling populer sehingga Angkatan Balai Pustaka pun sering disebut sebagai Angkatan 20 atau Angkatan Sitti Nurbaya. Lalu, karya sastra manakah selain novel Sitti Nurbaya yang kalian ketahui? Mari cari tahu angkatan lain selain Balai Pustaka di pembahasan selanjutnya, ya!

Artikel yang berkaitan
Komentar