Membaca Kritis dan Membaca Kreatif

ditulis oleh: Lia Sylvia Dewi

Halo Sobatku! Pernahkah kamu mendengar proses membaca kritis dan kreatif? Menurut Smith F (dalam Juining, 2017:4) membaca kritis adalah kemampuan memahami makna tersirat sebuah bacaan. Nah, pada dasarnya, saat seseorang membaca kritis, dia akan melakukan kegiatan membaca dengan bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluatif serta analisis (Harris, L., Theodore. dalam Junining, 2017:4). Kemudian, menurut Wirawati, membaca kritis berarti aktivitas membaca yang ditempuh secara bijak, mendalam, evaluatif, serta analisis dan bukan sekadar mencari-cari kesalahan isi atau pilihan kata yang terdapat dalam objek. Jadi, kurang tepat juga, ya, bila mengartikan kritis sebagai sikap mencari kesalahan dan mengomentarinya dengan pedas.

Dari berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca kritis adalah proses membaca yang menggunakan daya nalar kritis agar mampu menyaring informasi setepat-tepatnya dan menilai gagasan penulis dengan seutuh-utuhnya. Dengan membaca kritis, kita akan mengurangi potensi fenomena salah tangkap terhadap informasi, loh! Coba bayangkan bila kita tidak menggunakan nalar dalam membaca! Betul, akan semakin banyak penyebaran konten negatif, berita hoaks, isu provokatif, bahkan cyberbullying.

Menurut Sudarsono, ada empat teknik yang dapat digunakan dalam membaca kritis. Keempat teknik tersebut adalah mengerti isi bacaan, menguji sumber penulis, berinteraksi antara penulis dan pembaca, serta terbuka terhadap gagasan penulis. Selain itu, menurut Sultan, ada enam tingkatan membaca kritis, yakni menginterpretasi, menganalisis, menginferensi, mengevaluasi, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. Keenam tingkatan tersebut merupakan satu rangkaian berjenjang dan berkesinambungan, sehingga tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Membaca Kreatif adalah kemampuan membaca. Menurut Pardini, membaca kreatif cenderung menjadikan teks sebagai medium berpikir kreatif bagi para pembacanya. Singkatnya, membaca kreatif berarti membaca dengan menggunakan ide, menafsirkan dengan kreatif, serta menggunakan logika dan imajinasi untuk dapat memahami. Tapi ingat, bukan halu, ya!

Menurut Nurhadi (dalam Jafarudin, 2016) kemampuan membaca kreatif meliputi : 1) membuat ringkasan, 2) membuat kerangka bacaan, 3) menyusun resensi, 4) menerapkan isi bacaan dalam konteks sehari-hari, dan 5) membuat esai balikan.

Proses membaca kreatif harus dilandasi oleh visi yang kuat agar mampu meraih makna inti dari sebuah bacaan (Pardini, 2012). Dalam membaca kreatif, aspek imajinasi dan intuisi menjadi penting sehingga pembaca mampu mengimplementasikan gagasan hasil bacaan dengan unik dan inovatif. Oleh sebab itu, membaca kreatif memiliki kesinambungan dengan membaca kritis. Membaca kreatif merupakan membaca dengan level tertinggi sehingga perlu keterampilan berpikir kritis untuk dapat menggunakan imajinasi, serta mengembangkan kemampuan intelektual dan emosional.

Jadi, membaca kritis dan kreatif adalah proses membaca yang mengandalkan daya pikir analistis dengan kreatifitas dalam mengambil inti gagasan dan mengimplementasikannya dalam kehidupan. Teknik dan keterampilan dari membaca kritis dan kreatif memiliki nilai kolaboratif yang mampu menjadi bekal masyarakat sejak pra, saat, dan pasca mendapatkan informasi.

Rujukan:
Junining, Esti. 2017. Membaca Kritis Membaca Kreatif. Malang : UB Press.
Sultan. 2018. Membaca Kritis: Mengungkapkan Ideologi Teks dengan Pendekatan Literasi Kritis. Yogyakarta : Baskara Media.
Pardini, Agung. 2012. Membaca Kreatif. https://agungpd.wordpress.com/2012/09/07/membaca-kreatif/. Diakses pada 2 Juni 2020.
Jafarudin. 2012. Makalah Membaca Kreatif. http://jafarudinbastra.blogspot.com/2012/0/makalah-membaca-kreatif.html?m=1. Diakses pada 4 Juni 2020.
Wirawati, Denik. Perkuliahan Membaca Kritis dan Kreatif Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Berorientasi Pada Pendidikan Karakter. Jurnal UAD 17 – 30.

Artikel yang berkaitan
Komentar