Mari Berkenalan dengan Fonologi

ditulis oleh: Ali Hasan Asyari

Ilmu pengetahuan bukan sekadar anatomi tubuh manusia dan alam semesta. Bahasa memiliki ilmunya sendiri dan wajib kita pelajari. Sebelum melangkah lebih jauh, seperti halnya ilmu yang lain, ilmu bahasa pun memiliki konsep dasar yang wajib kita ketahui. Ilmu bahasa atau ilmu pengetahuan linguistik memiliki cabang-cabang ilmu sebagai penyusunnya, di antaranya ada fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Pada kali ini, kita akan bahas unit terkecil ilmu linguistik, yaitu fonologi.

Apa itu fonologi? Singkatnya, fonologi adalah ilmu bunyi. Secara bahasa, fonologi berasal dari bahasa Inggris, yakni phonology. Secara etimologi, dibentuk dari kata "phone" yang berarti bunyi dan "logos" yang berarti ilmu. Jadi, secara definisi fonologi adalah cabang dari ilmu linguistik yang mengkaji bunyi ujar dalam bahasa tertentu. Objek kajian fonologi ada dua, yang pertama adalah bunyi bahasa (fon) yang disebut tata bunyi (fonetik) dan yang kedua mengkaji fonem yang disebut tata fonem (fonemik).

Pertama, fonetik. Menurut KBBI V, fonetik adalah bidang linguistik tentang pengucapan bunyi ujar. Secara umum bisa dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memerhatikan bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Contoh yang dipelajari di kajian fonetik adalah bunyi nasal, bunyi oral, bunyi panjang, bunyi pendek, pembentukan vokal berdasarkan bentuk bibir, pembentukan konsonan berdasarkan cara artikulasi, dan lain-lain.

Kedua, fonemik. Menurut KBBI V, fonemik adalah bidang linguistik tentang sistem fonem. Secara umum, fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memerhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna. Singkatnya, fonemik adalah ilmu bunyi yang memperhatikan makna.

Oh, iya. Omong-omong, dari tadi kita berbicara tentang fonem. Fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional. Fonem ini semacam pelafalan yang bergantung pada tempatnya dalam kata atau suku kata. Contohnya, fonem /t/ jika berada di awal kata, dilafalkan secara lepas. Pada kata /topi/, contohnya, fonem /t/ dilafalkan lepas. Namun, fonem /t/ yang berada di akhir kata tidak diucapkan lepas. Bibir kita masih tetap tertutup saat mengucapkannya, misalnya pada kata /buat/. Selain fonem, ada juga istilah alofon. Alofon adalah variasi suatu fonem yang tidak membedakan arti.


Sebenarnya, ilmu fonologi adalah cabang ilmu linguistik yang paling kecil. Namun, hal terpenting yang harus kita pelajari adalah mengenai gejala fonologi bahasa Indonesia, seperti penambahan fonem, penghilangan fonem, dan lain-lain. Contohnya:

Penambahan fonem:

- Awal (protesis): utang -> hutang

- Tengah (epentesis): silakan -> silahkan

- Akhir (paragog): rapi -> rapih

Penghilangan fonem:

- Awal (aferesis): sudah -> udah

- Tengah (sinkope): takjil -> tajil

- Akhir (apokope): elite -> elit

Cukup menarik, bukan? Maka dari itu, tunggu kelanjutannya tentang fonologi di artikel selanjutnya, ya!

Artikel yang berkaitan
Komentar