Literasi Sains

ditulis oleh: Lia Sylvia Dewi

Seiring dengan perkembangan zaman, literasi tidak hanya mengarah pada konteks baca tulis semata. Saat ini, jenis kemampuan literasi yang tidak kalah penting ialah literasi sains. Tahukah kamu apa itu literasi sains?


Sains sendiri, sebagaimana dalam KBBI, adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh dari suatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang diselidiki, dipelajari, dan sebagainya. Fourez (1997) mengemukakan definisi literasi sains pada beberapa aspek. Pertama, ia memperkenalkan komponen teknologi, dengan alasan bahwa literasi sains tidak dapat dipisahkan dari literasi digital (teknologi). Kedua, ia mengemukakan bahwa literasi sains terdiri dari tiga tujuan utama, yaitu otonomi individu, komunikasi dengan orang lain, dan mengelola dan menyelesaikan masalah dan tantangan yang ditimbulkan oleh sains dan teknologi. 


Fourez berpendapat bahwa pengetahuan dasar sains dan teknologi memberikan tingkat otonomi tertentu, tetapi ia menunjukkan bahwa pertanyaan tentang pengetahuan apa yang mungkin dibutuhkan adalah kunci dan harus dikonseptualisasikan dalam terang kehidupan dan kebutuhan non-ilmuwan. Pengetahuan yang dibutuhkan orang, menurutnya, adalah yang memberdayakan mereka untuk berkomunikasi dengan orang lain tentang situasi kehidupan mereka, meningkatkan potensi mereka untuk bertindak (Fourez, 1997, hlm. 906): Dari pandangan tersebut, dapat digarisbawahi bahwa literasi sains merupakan kecakapan individu dalam mencari, mengelola, dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dengan cara berpikir kritis dan kreatif, untuk selanjutnya dikontribusikan demi kemaslahatan hidup manusia dan alam semesta. Perkembangan zaman juga membuat lingkup literasi sains turut merambah pada dunia teknologi, sehingga terkenal istilah IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).


Konsep dasar dari literasi sains merupakan relasi segala aspek di muka bumi yang dapat dijelaskan dengan proses saintis. PISA mencetuskan enam kategori pengetahuan dalam literasi sains, yaitu : 1) Sistem fisik bumi dan alam semesta, 2) Sistem kehidupan, 3) Sistem bumi dan ruang angkasa, 4) Sistem teknologi, 5) Penyelidikan ilmiah, dan  6) Penjelasan Ilmiah, Lebih luas dari konsep, terdapat istilah dimensi literasi sains. Rubben & Aderson membagi dimensi literasi sains ke dalam enam bagian, yaitu : 1) Memahami hal-hal yang bersifat ilmiah, 2) Mampu menerapkan prinsip dan konsep serta teori sains pada kehidupan sehari-hari, 3) Mampu memecahkan masalah secara ilmiah, 4) Mampu menarik simpulan mengenai fenomena-fenomena alam yang terjadi, 5) Memiliki pandangan yang luas, dan 6) Memiliki kekreatifan tentang teknologi sains


Lalu bagaimana indikator ketercapaian literasi sains?


Hurd (1998) mengemukakan indikator kecakapan literasi sains bagi setiap individu. Menurutnya, ketercapaian pengetahuan sains akan membawa individu pada kemampuan kemampuan kritis, baik di aspek pemikiran maupun pengaplikasiannya. Ia mengungkapkan bahwa orang yang melek sains adalah orang yang : 


1. Mampu membedakan informasi antara teori dengan dogma, data dengan mitos atau cerita rakyat, sains dengan pseudo-sains, bukti dengan propaganda, fakta dengan fiksi, pengertian dari omong kosong, dan pengetahuan dari opini; 


2. Mengakui sifat ilmu pengetahuan yang kumulatif, tentatif, dan skeptis; keterbatasan penyelidikan ilmiah dan penjelasan sebab akibat; kebutuhan akan bukti yang cukup dan pengetahuan yang mapan untuk mendukung atau menolak 11 klaim; dampak lingkungan, sosial, politik dan ekonomi dari ilmu pengetahuan dan teknologi; dan pengaruh masyarakat terhadap sains dan teknologi; dan 


3. Mengetahui cara menganalisis dan mengolah data, bahwa beberapa masalah berkaitan dengan sains, dalam konteks sosial dan pribadi memiliki lebih dari satu jawaban yang dapat diterima, dan bahwa masalah sosial dan pribadi bersifat multidisiplin yang memiliki dimensi politik, yudikatif, etika, dan moral.


Dari pemaparan di atas, kita dapat memahami terkait pentingnya literasi sains dalam kehidupan. Tentunya, kemampuan ini akan mengantarkan setiap individu untuk mampu berpikir kritis, berjiwa analistis, dan optimis terhadap kemajuan. Yuk, kita terapkan konsep literasi sains ini dalam kehidupan sehari-hari!



Referensi:

Bybee, R., McCrae, B., & Laurie, R. (2009). PISA 2006: An assessment of scientific literacy. Journal of Research in Science Teaching. https://doi.org/10.1002/tea.20333

Fourez, G. (1997). Scientific and technological literacy as social practice. Social Studies of Science, 27(6), 903-936.

Snow, C. E., & Dibner, K. A. (2016a). Science literacy: Concepts, contexts, and consequences. In Science Literacy: Concepts, Contexts, and Consequences. https://doi.org/10.17226/23595

Artikel yang berkaitan
Komentar