Literasi Finansial dan Kesejahteraan Masyarakat

ditulis oleh: Lia Sylvia Dewi

Kemampuan memanajemen aset dan mengelola keuangan menjadi salah satu kecakapan yang sangat penting di masa sekarang. Keterampilan tersebut tentu diperlukan untuk mencapai kesejahteraan dan taraf hidup yang berkecukupan. Oleh sebab itu, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah memasukkan literasi finansial sebagai salah satu literasi dasar yang wajib dikuasai masyarakat. Saat ini, literasi memang tidak hanya mengacu pada konteks melek aksara semata. Lantas, apa itu literasi finansial?


Lembaga Otoritas Jasa Keuangan (2013) menyatakan bahwa literasi dapat diartikan sebagai kemampuan dalam memahami suatu konteks kehidupan. Oleh sebab itu, literasi keuangan atau literasi finansial merupakan suatu kemampuan dalam memahami pengelolaan dana yang dimiliki, mengembangkannya, lalu hidup lebih sejahtera pada masa mendatang. Literasi keuangan sendiri merupakan substansi dari suatu rangkaian proses berupa peningkatan pengetahuan (knowledge), keyakinan (confidence), dan keterampilan (skill) masyarakat luas (Lestari, 2015). OJK menyatakan bahwa misi penting dari program literasi finansial adalah melakukan edukasi di bidang keuangan kepada masyarakat agar mampu mengelola keuangan secara cerdas. Masyarakat diharapkan mampu lebih cermat memilih dan memanfaat produk atau layanan jasa finansial sesuai kebutuhan, melakukan perencanaan keuangan, dan menghindari aktivitas investasi pada instrument keuangan yang tidak jelas.


Dalam penerapannya, konsep literasi dasar berangkat dari prinsip-prinsip yang kompleks dan integratif. Prinsip-prinsip literasi finansial tersebut telah dijelaskan dalam modul Materi Pendukung Literasi Finansial dari Kemdikbud. Terdapat sembilan prinsip dalam literasi finansial, yaitu:

1) Inklusif; yaitu dapat merangkul semua pihak secara terbuka dan setara, sehingga memberikan peluang dan kesempatan pada semua orang untuk mendapatkan kesejahteraan hidup.

2) Keakuntabelan; yaitu semua program, kegiatan, dan hasil literasi finansial harus dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh pihak yang terlibat serta dapat diakses dan dikaji lebih lanjut oleh pihak lain.

3) Keberlanjutan; yaitu seluruh program, kegiatan, dan hasilnya haruslah berlanjut dan saling menopang.

4) Kesesuaian dengan perkembangan psikologi, sosial, dan budaya. Artinya, literasi finansial harus menaungi setiap individu dalam proses peningkatan kecakapan finansial, baik dari bahan referensi, program, maupun kegiatannya agar selaras dengan kebutuhan dan kapasitas setiap orang.

5) Keterpaduan (integrasi) dengan kompetensi; yaitu kualitas karakter yang dapat berpadu dengan literasi dasar lainnya sehingga dapat dilaksanakan secara integral pada berbagai ranah kehidupan, baik di rumah, sekolah, maupun keluarga.

6) Keutuhan (holistic); berupa unsur-unsur dalam literasi finansial yang memiliki sinergi dengan lima jenis literasi dasar lainnya—sesuai dengan kecakapan di abad ini.

7) Partisipatif; yaitu upaya untuk melibatkan, mendayagunakan, dan memanfaatkan berbagai pemangku kepentingan literasi finansial, serta berbagai sumber daya yang terdapat di dalamnya.

8) Responsif kesejagatan; yaitu mempertimbangkan, melakukan secara tanggap, dan memanfaatkan hal-hal yang berkenaan dengan literasi finansial secara universal.

9) Responsif terhadap kearifan lokal dan ajaran religi yang ada di Indonesia; yaitu memiliki muatan-muatan yang mempertimbangkan segala keragaman yang ada.


Kesembilan prinsip tersebut dibuat sebagai pondasi penerapan literasi finansial, sehingga dapat didayagunakan dengan tepat dan adatif oleh masyarakat. Dengan begitu, literasi finansial dapat mencapai tujuannya sebagai jembatan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.


Gerakan literasi finansial menjadi tonggak implementasi yang saat ini sedang digencarkan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Berdasarkan buku Materi Pendukung Literasi Finansial dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, berikut ini adalah hal-hal yang dapat dijadikan acuan dalam implementasi literasi finansial.


A. Gerakan Literasi Finansial di Keluarga

Keluarga dapat melatih anak melalui berbagai praktik sederhana, seperti menabung, bersedekah, berwirausaha, serta mengenalkan anak pada hal-hal yang menyangkut finansial lainnya, seperti investasi (bila sudah mulai mengerti konsep keuangan dengan baik).

B. Gerakan Literasi Finansial di Sekolah

Integrasi literasi finansial di kehidupan sekolah dapat terwujud pada perluasan akses sarana dan prasarana, seperti koperasi sekolah, kantin sekolah yang inovatif, perpustakaan, dan sarana digital.

C. Gerakan Literasi Finansial di Masyarakat

Literasi finansial di masyarakat akan melatih manusia untuk melakukan pengelolaan uang secara umum, berkelanjutan, dan berpengaruh pada sendi-sendi kehidupan bangsa. Strategi peningkatan literasi finansial di masyarakat dapat dilakukan melalui beberapa cara pelibatan pelaku BUMN, dunia usaha, dan industry ; pelibatan Lembaga masyarakat; pelibatan lembaga keuangan pemerintah dan swasta; pelibatan tokoh adat dan agama; serta mengadakan kolaborasi antara pendidikan, LSM, dan berbagai komunitas di masyarakat. Kerja sama yang baik akan meningkatkan kompetensi secara lebih merata dan terjangkau.


Nah, bagaimana, Sobatku? Sudah siap untuk memperdalam pengetahuan finansial dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari? Kita bisa mulai mengaplikasikan kecerdasan mengelola dana dan aset dari yang paling sederhana, misalnya uang saku dan uang gaji. Semakin kita memahami dan menerapkan literasi finansial, semakin kesejahteraan ada di depan mata!


Sumber:

Tim Dikti Kemdikbud. 2017. Materi Pendukung Literasi Finansial : Gerakan Literasi Nasional. Jakarta : Tim GLN Kemdikbud.

Otoritas Jasa Keuangan. TT. Literasi Keuangan. dalam Kanal Edukasi dan Perlindungan Konsumen. https://www.ojk.go.id/. Diakses pada 12 April 2021.

Artikel yang berkaitan
Komentar