Lho atau loh?

ditulis oleh: Yulia Yulian

Lho atau Loh?

1. Pemilu sebentar lagi, lho!

2. Pemilu sebentar lagi, loh!

Manakah kalimat yang benar?

"Lho" atau "loh" adalah sebuah partikel dalam ragam cakap. Jadi, bukan ragam formal, ya! Istilah kerennya adalah partikel dari bahasa prokem, yakni bahasa pergaulan di kalangan remaja (dulu hanya digunakan oleh kalangan preman).

Partikel prokem ini biasanya membuat bahasa terasa lebih "hidup" dan membumi. Itulah mengapa banyak orang asing yang belajar bahasa Indonesia merasa sulit berkomunikasi dengan penutur jati yang menggunakan ragam prokem. Hal ini karena partikel prokem memiliki arti yang jauh melebihi jumlah huruf yang menyusunnya. Kebanyakan partikel mampu memberikan informasi tambahan kepada orang lain yang tidak dapat dilakukan oleh bahasa Indonesia baku (yang dipelajari oleh orang asing). Informasi tambahan ini berupa tingkat keakraban antara pembicara dan pendengar, suasana hati/ekspresi pembicara, dan suasana pada saat kalimat tersebut diucapkan. 

Partikel "loh" atau "lho" memiliki fungsinya masing-masing. Partikel ini merupakan kata seru yang menyatakan keterkejutan dan bisa digabung dengan kata tanya. Partikel ini dapat menghasilkan beragam ekspresi, bergantung pada intonasi yang digunakan.

1. Ekspresi heran

Contoh:

Lho, kok kamu terlambat? -> Kenapa kamu terlambat?

2. Pertanyaan retorik dengan ekspresi marah atau terkejut

Contoh: 

Loh, apa-apaan ini! -> Apa yang terjadi di sini? 

3. Ekspresi tidak bersalah

Contoh:

Lho, aku kan belum tahu? -> Aku sebenarnya belum tahu. 

4. Ekspresi terkejut

Contoh:

Loh, kenapa dia di sini? -> Kenapa dia ada di sini?

5. Kata informatif untuk memastikan atau menekankan suatu hal

Contoh:

Begitu, lho, caranya. -> Begitulah caranya.

Nanti kamu kedinginan, loh. -> Nanti kamu akan kedinginan (kalau tidak menggunakan jaket, misalnya).

Aku mau ikut, lho. -> Aku mau ikut, tahu tidak?. 

Ingat, loh, kalau besok libur. -> Tolong diingat-ingat kalau besok libur.

Jangan bermain api, lho, nanti terbakar. -> Ingat, jangan bermain api atau nanti akan terbakar.

6. Berdiri sendiri: menyatakan keheranan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata

Contoh:

Loh?

Nah, sekarang kita sudah mengenal "loh" atau "lho". Lantas, penulisan yang benar itu yang mana, sih?

Sebenarnya, justru tanpa "h" sama sekali lebih baku karena bahasa Indonesia tidak mengenal penulisan "lh". Mengutip dari pembicaraan di Wikipedia, Adiputra (2019) mempertanyakan maksud dari digraf "LH", terutama huruf H, yang biasanya menandakan bunyi aspiratif atau (kadangkala) frikatif. Secara fonologi, apakah digraf "LH" dalam bahasa Indonesia maksudnya bunyi konsonan frikatif lateral? Ataukah konsonan aspiratif? Yang jelas, keduanya tidak ada dalam fonologi bahasa Melayu, Indonesia, dan bahasa daerah di Indonesia.

Jadi, yang benar itu adalah "lo", teman-teman. "Loh" juga bisa digunakan karena lebih sesuai dengan ortografi bahasa Indonesia.

Artikel yang berkaitan
Komentar