Ketransitifan Verba Bagian I

ditulis oleh: Rima Rismaya

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V memuat lema verba sebagai kata yang menggambarkan proses, perbuatan, atau keadaan; kata kerja. Kridalaksana (2009: 254) menjelaskan verba sebagai kelas kata yang biasanya berfungsi sebagai predikat. Dari segi perilaku sintaksisnya, verba dibagi menjadi verba transitif, verba semitransitif, dan verba taktransitif.

A. Verba Transitif

Verba transitif merupakan verba yang mengharuskan adanya tujuan di belakangnya (Kridalaksana, 2008: 246). Alwi, dkk. (2010: 95) menjelaskan bahwa verba transitif adalah verba yang memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat aktif, dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Putrayasa (2012: 79-82) membagi verba transitif menjadi verba ekatransitif dan verba dwitransitif.

1. Verba ekatransitif

Alwi (2010: 95) menjelaskan bahwa verba ekatransitif adalah verba transitif yang diikuti oleh satu objek. Dari segi makna, semua verba ekatransitif memiliki makna inheren perbuatan (Putrayasa, 2012: 80). Berikut ini beberapa contoh kalimat berverba ekatransitif.

a. Pemerintah akan memasok semua kebutuhan rakyat.

b. Presiden merestui pembentukan Panitian Pemilihan Umum.

c. Nilai Ebtanas murni menentukan nasib para siswa.

Verba predikat pada masing-masing kalimat tersebut adalah memasok, merestui, dan menentukan. Di sebelah kiri tiap-tiap verba itu adalah subjek dan di sebelah kanan adalah objek. Dalam kalimat aktif, urutan kata dalam kalimat ekatransitif adalah subjek, predikat, dan objek. Selain itu, terdapat pula unsur takwajib seperti keterangan (tempat, waktu, atau alat) yang dapat ditambahkan pada kalimat ekatransitif. Pengisi fungsi objek dapat dijadikan subjek pada padanan pasif untuk kalimat aktif transitif itu (Putrayasa, 2012: 80).

2. Verba dwitransitif

Chaer (2009: 165) menyebut verba dwitransitif sebagai verba bitransitif, yaitu verba yang memiliki komponen makna tindakan + sasaran + pelengkap. Adapun kalimat dwitransitif adalah kalimat yang memiliki objek dan pelengkap (Putarayasa, 2012: 8). Verba transitif yang menghubungkan tiga maujud seperti mengirim-mengirimi-mengirimkan, memberi-memberikan, menugasi-menugaskan disebut verba dwitransitif atau bitransitif (Alwi, dkk. 2010: 33-34). Dalam bentuk aktif, masing-masing maujud itu adalah subjek, objek, dan pelengkap (Putrayasa, 2012: 80). Kalimat yang menggunakan verba dwitransitif contohnya adalah “Ratna sedang mencarikan adiknya pekerjaan”.

Secara sederhana, verba dwitransitif ditandai dengan verba berafiks me-kan yang artinya verba itu dilakukan untuk orang lain. Pada kalimat “Ratna sedang mencarikan adiknya pekerjaan”, pihak tujuan verba dalam kalimat tersebut secara eksplisit disebutkan, yaitu adiknya Ratna. Terdapat dua nomina yang terletak di belakang verba predikat. Kedua nomina itu masing-masing berfungsi sebagai objek dan pelengkap (Putrayasa, 2012: 81).

B. Verba Semitransitif

Alwi, dkk. (2010: 96) menjelaskan bahwa verba semitransitif adalah verba yang objeknya boleh ada dan boleh juga tidak, seperti dalam kalimat “Ayah sedang membaca” dan “Ayah sedang membaca koran”. Objek untuk verba semitransitif bersifat manasuka.

Putrayasa (2012: 78) berpendapat bahwa kalimat verba semitransitif adalah kalimat yang verbanya bisa diikuti objek, bisa juga tanpa diikuti objek. Kehadiran objek dalam kalimat semitransitif akan menambah kejelasan makna kalimat tersebut, sebaliknya tanpa kehadiran objek pun kalimat tersebut sudah bisa dipahami dengan baik. Namun, perlu dicatat bahwa kehadiran objek pada kalimat semitransitif akan mengubah bentuk kalimat tersebut menjadi kalimat ekatransitif. Sebaliknya, tanpa kehadiran objek dalam kalimat semitransitif itu akan mengubah pula bentuk kalimatnya menjadi kalimat taktransitif.

Sumber Rujukan

Alwi, H. dkk. 2010. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Chaer, A. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.

Kemdikbud. 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V. [daring]. Diakses dari https://kbbi.kemdikbud.go.id

Kridalaksana, H. 2008. Kamus Linguistik edisi keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Putrayasa, I.B. 2012. Jenis Kalimat dalam Bahasa Indonesia. Bandung: PT Refika Aditama.

Artikel yang berkaitan
Komentar