Kesantunan Berbahasa: Sebuah Usaha Menghargai Manusia

ditulis oleh: Rima Rismaya

Kata santun dalam KBBI Edisi V termasuk ke dalam kata sifat yang didefinisikan sebagai  (1) halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan, dan (2) penuh rasa belas kasihan; suka menolong. Jika dilihat dari definisi tersebut, sudah jelas bahwa santun merupakan salah satu sifat manusia, ya? Dalam definisi tersebut pula, kata santun dikaitkan dengan budi bahasa. Artinya, kesantunan seseorang dapat kita lihat dari penggunaan bahasanya sehari-hari. Kecerdasan seseorang juga dapat kita lihat melalui kepiawaiannya dalam memilih kata-kata yang ia gunakan dalam percakapannya dengan orang lain. Apabila orang tersebut mampu menyesuaikan kata dalam tuturannya dengan mitra dan situasi tuturnya, maka ia dikatakan mampu berbahasa dengan baik.

Loh, kok bisa begitu?”

“Bisa, dong, Sobat. Sini, biar aku jelaskan, ya!”

Salah satu bentuk komunikasi saat ini adalah komunikasi media sosial. Sayangnya, sering kali kita temui orang-orang yang kurang santun menggunakan bahasanya dalam media sosial.

Leech (2014) berpendapat bahwa orang-orang bisa berperilaku tidak sopan ketika mereka tidak melihat adanya alasan untuk bersikap sopan. Orang-orang yang berkomunikasi melalui media sosial sering kali merasa dirinya superior karena identitasnya bisa saja tersamarkan. Mereka tidak menemukan alasan untuk bersikap sopan karena adanya anggapan bahwa media sosial merupakan tempat yang bebas untuk berpendapat mengenai apapun. Hal ini barangkali benar, tetapi aspek penggunaan bahasa yang santun juga patut untuk dipertimbangkan. Selain itu, berbahasa tidak hanya sekedar menyampaikan ide dan perasaan, tetapi juga bagaimana menggunakan dan memilih kata-kata yang tepat kepada petutur dalam situasi dan kondisi yang tepat pula (Budiawati, 2017: 558). Kebebasan penggunaan bahasa dalam media sosial berkemungkinan menyebabkan orang berbahasa sesuka hati tanpa memikirkan kemungkinan petuturnya merasa dirugikan.

Chaer (2010) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor atau hal yang menyebabkan sebuah pertuturan itu menjadi tidak santun. Penyebab ketidaksantunan itu antara lain, (1) kritik secara langsung dengan kata-kata kasar, (2) dorongan rasa emosi penutur, (3) protektif terhadap pendapat, (4) sengaja menuduh lawan tutur, dan (5) sengaja memojokkan mitra tutur.

Dalam bahasa, kita tidak hanya mempelajari bagaimana suatu komponen bahasa terbentuk. Lebih dari itu, kita juga belajar bagaimana fungsi dan penggunaan komponen bahasa itu dalam praktik komunikasi sehai-hari. Pada kesantunan berbahasa yang dibahas dalam bidang pragmatik, kita mengenal enam prinsip sebagai panduan untuk membuat bahasa kita menjadi santun.

Prinsip kesantunan menurut Leech (2014) dibagi menjadi enam, yaitu:

a. Maksim kebijaksanaan (tact maxim). Kita diharuskan bersikap bijaksana untuk memilih kata yang tidak menyakiti orang lain dan memberikan atau menawarkan keuntungan pada lawan bicara. Dengan demikian, maksim kebijaksanaan adalah maksim yang mengutamakan keuntungan orang lain tanpa menyakiti perasaan mitra tutur.

b. Maksim penerimaan (generosity maxim) yang dapat dilihat dalam balasan yang positif dan sesuai untuk tindak tutur permintaan.

c. Maksim kemurahan adalah maksim yang dalam tuturannya sangat meminimalisasi kemungkinan terjadinya ketersinggungan yang dirasakan oleh petutur. Pada maksim ini penutur diharapkan mampu menggunakan kalimat sopan untuk menyatakan perasaannya.

d. Maksim kerendahan hati (modesty maxim). Maksim kerendahan hati berusaha untuk mempertahankan hubungan baik antara penutur dengan petuturnya. Penutur dituntut agar mampu dan cerdas menempatkan dirinya dalam situasi tuturan. Seseorang yang tahu sopan santun biasanya tidak mengagungkan kemampuan yang dimilikinya. Maksim kerendahan hati merupakan pernyataan yang tidak mengandung sifat kesombongan seperti membesar-besarkan hal yang dimiliki atau merendahkan orang lain karena merasa diri sendiri tinggi, dan sebagainya.

e. Maksim kecocokan (agreement maxim) yang meminimalkan adanya kesalahpahaman lewat pemanfaatan kekuasaan, umur, tingkat pendidikan, atau hal lainnya yang menunjukkan perbedaan posisi dan derajat antara penutur dan petutur. 

f. Maksim kesimpatian (sympathy maxim). Kendala simpati atau keprihatinan emosional diperlukan untuk menjelaskan mengapa kita memberikan penghargaan untuk perasaan orang lain, misalnya dalam tindak tutur selamat atau belasungkawa (Leech, 2014). Hal tersebut merupakan bentuk kesantunan kepada orang lain dengan cara membagi perasaan yang sedang dialami, misalnya perasaan sedih ketika menghadapi kemalangan atau perasaan gembira ketika mereka bersukacita.

Dengan adanya prinsip kesantunan berbahasa ini, kita diharapkan mampu menjadi manusia yang menghargai orang lain melalui pemilihan kata dalam komunikasi kita sehari-hari, baik komunikasi langsung maupun melalui media sosial.

Yuk, kita berlatih menggunakan bahasa yang santun, sesuai dengan mitra tutur dan situasi tuturan itu berlangsung.

Jika sulit, kita begini saja:
“Perlakukan orang lain sesuai dengan perlakukan yang ingin kita terima dari orang lain.”
“Berbahasalah yang baik sesuai dengan bahasa yang ingin kamu dengar dari orang lain, untukmu.”

Yuk, bisa, yuk!

Referensi:

Budiawati, T. R. (2017). Kesantunan Berbahasa Mahasiswa dalam Berinteraksi dengan Dosen di Universitas Ahmad Dahlan: Analisis Pragmatik Abstrak. The 5Th Urecol Proceeding, February, 557–571.

Chaer, A. (2010). Kesantunan Berbahasa. Jakarta: Rineka Cipta.

Kemdikbud. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V. [Daring]. diakses dari https://kbbi.kemdikbud.go.id

Leech, G. (2014). The Pragmatics of Politeness. New York: Oxford University Press.

Artikel yang berkaitan
Komentar