Kegamangan kata beranomali

ditulis oleh: Ali Hasan Asyari

Pernah menggunakan kata “memunyai”? atau kata “memesona”? Kata tersebut adalah contoh penggunaan imbuhan yang lebur dari kata dasarnya. “memunyai” kata dasarnya adalah “punya”, sedangkan “memesona” kata dasarnya adalah “pesona”. Aturan ini merujuk kepada kaidah KPST, manakala mendapat awalan me- atau pe-, huruf k, p, s, dan t di awal kata menjadi hilang atau luluh. Namun, faktanya kata “memunyai” dan “memesona” ini asing di telinga kita. Penutur bahasa Indonesia umumnya menggunakan kata “mempunyai” dan “mempesona”. Kasus ini disebut pengecualian atau anomali dalam kaidah KPST. Apakah ini benar?

Kasus pengecualian dalam kaidah ini, muncul karena sudah lama telanjur dipakai. Contoh lain, seperti mengkilat, mempercayai, mempopulerkan, dll. Beberapa media juga sering menggunakan kata tersebut. KBBI juga memunculkan anomali ini dalam beberapa edisi, bahkan sampai edisi sekarang. Suwarto (2004) pada artikel yang ditulisnya menjelaskan sejarah teori analogi (keteraturan) dan anomali (ketidakteraturan) yang sudah dikenal sejak zaman Plato dan Aristoteles. Teori analogi ini populer saat ada golongan pendukung analogi yang mengatakan bahwa alam ini memiliki keteraturan, begitu juga dengan bahasa. Kelompok analogi ini mengatakan bahwa bahasa itu teratur. Sebagai bukti,  dalam bahasa Inggris bentuk jamak dari boy menjadi boys, table menjadi tables, flower menjadi flowers. Sebaliknya, ada kaum anomalis berpendapat bahwa bahasa itu berada dalam bentuk tidak teratur (irregular). Sebagai bukti mereka menunjukkan bentuk jamak bahasa Inggris child menjadi children, man menjadi men.

Kenyataannya, bahasa itu pada hakikatnya bersifat alamiah dan arbitrer (manasuka). Salah satu faktanya kita mengenal sinonim dan homonim. Mungkin ringkasnya, kita biarkan bahasa ini menjadi kebiasaan yang bersifat anomali dan sebagai perangkat kaidah yang bersifat analogi (Endarmoko, 2017). Karena menurut saya, bahasa yang bersifat arbitrer ini perlu demi mendapatkan bahasa yang bersistem.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Sumber:
Endarmoko, E. (2017). Rempah-rempah bahasa: perbincangan dari luar pagar. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

Suwarto. (2004). Perspektif analogi dan anomali kata serapan dalam bahasa Indonesia. [Online]. Diakses dari http://library.usu.ac.id/download/fs/sastraindonesia-suwarto.pdf

Artikel yang berkaitan
Komentar