Jenis Cerita Pendek

ditulis oleh: Lia Sylvia Dewi

Kata 'cerpen' tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Cerita naratif yang bisa dibaca sekali duduk ini telah banyak digandrungi oleh para penikmat sastra--baik bagi pemula maupun yang dikatakan 'sudah mahir'. Selain jumlah karakternya yang tidak sebanyak novel, konflik, dan jalan cerita, pada cerpen pun hanya terfokus pada satu permasalahan, sehingga memudahkan pembaca untuk berkonsentrasi pada alur cerita.

Titik permasalahan di dalam cerpen biasanya memiliki penekanan tertentu pada salah satu unsur pembangun cerita. Masih ingat unsur-unsur pembangun cerita pendek? Ya, kita biasa sebut unsur intrinsik. Ada plot/alur, tokoh, penokohan, latar, tema, amanat, dan sudut pandang. Penekanan pada salah satu unsur itulah yang membuat Jakob Sumardjo menggolongkan jenis cerpen berdasarkan unsur fiksi yang ditekankan pada jalan cerita. Yuk, kita pahami satu persatu.

a. cerita pendek watak; sesuai namanya, cerpen jenis ini memiliki fokus dalam menggambarkan salah satu aspek perwatakan manusia, baik itu watak yang jelas (baik, jahat, religius, kikir, dan sebagainya) maupun watak gabungan (baik tapi ceroboh, dan sebagainya). Karena memiliki fokus pada salah satu watak tokoh, pengarang hanya memiliki kesempatan untuk menggambarkan watak tertentu secara statis. Watak itulah yang kemudian akan membentuk permasalahan dalam cerita.

b. cerita pendek plot; adanya suatu peristiwa yang dianggap sangat mengesankan membuat cerpen jenis ini memiliki fokus utama pada peristiwa tersebut. Oleh sebab itu, cerpen 'plot' ini dianggap sangat menarik karena berkaca pada suatu realita namun tetap dibungkus dengan unsur fiksi. Para pembaca cerpen jenis ini akan memiliki kepuasan tersendiri jika pengarang menghadirkan unsur kejutan di akhir cerita.

c. cerita pendek tematis; unsur tema menjadi hal yang begitu ditekankan sehingga permasalahan yang hadir dalam cerita sangat bergantung pada tema tersebut. Jalan cerita yang digambarkan juga dikonsentrasikan pada tema yang telah ditentukan.

d. cerita pendek suasana; melalui cerpen ini, pembaca akan terbius ke dalam suasana yang digambarkan oleh pengarang. Mereka seolah dapat merasakan suasana batin atau masuk ke dalam suasana keadaan yang disuguhkan. Aspek suasana itulah yang akan memunculkan konflik dan menentukan jalan cerita.

e. cerita pendek setting (latar); dalam jenis cerpen ini, penggambaran latar tempat atau waktu menjadi hal yang paling dominan dalam penceritaan. Pengarang menempatkan setting sebagai unsur yang memengaruhi unsur lain, sehingga tema dan watak tokoh disesuaikan dengan warna lokalitas suatu tempat atau keadaan di jaman tertentu.

Setelah memahami jenis-jenis cerpen yang telah dijelaskan, tentu kita akan semakin mudah menentukan fokus utama dalam membuat karya. Selain sebagai penyalur imajinasi, membuat cerpen juga dapat memberikan pengalaman, penghargaan, bahkan hadiah jika diterbitkan, loh! Jadi, semangat menulis, ya!


Sumber : Sumardjo, Jakob. 1984. Memahami Kesusastraan. Bandung: Alumni.

Artikel yang berkaitan
Komentar