Gurindam Pasal Ketujuh

ditulis oleh: Rima Rismaya

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V, gurindam merupakan sajak dua baris yang mengandung petuah atau nasihat. Gurindam merupakan salah satu puisi lama yang saat ini tidak pernah lahir kembali. Maksudnya, orang-orang lebih tertarik untuk membuat puisi lain dibanding dengan gurindam. Salah satu gurindam yang paling dikenal adalah Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji, sastrawan dan pahlawan nasional dari Kepulauan Riau. Gurindam ini ditulisnya pada tahun 1847 masehi. Namun, isi dan makna dari gurindam tersebut tetap relevan dengan kehidupan saat ini. Gurindam tersebut terdiri dari dua belas pasal yang pada masing-masing pasalnya berisi tentang tema besar yang dijabarnya pada tiap dua baris sajaknya. Berikut ini merupakan telaah makna dari Gurindam Dua Belas Pasal Ketujuh.

 

No

 

Gurindam

 

Makna

Hubungan dengan kehidupan sehari-hari

 

Kesimpulan

1

Apabila banyak berkata-kata,

disitulah jalan masuk dusta.

 

Orang yang banyak berbicara memperbesar kemungkinan untuk berbohong.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita terlalu banyak bicara untuk hal-hal yang dianggap tidak perlu, justru itu akan mempermudah terjadinya suatu kebohongan.

Salah satu jalan untuk menuju kebohongan adalah dengan banyak berbicara, terutama untuk hal-hal yang tidak diperlukan.

2

Apabila banyak berlebih-lebihan suka,

itulah tanda hampir duka.

Terlalu mengharapkan sesuatu akan menimbulkan kekecewaan yang mendalam saat sesuatu tersebut tidak seperti yang diharapkan.

Biasanya jika kita sedang mengharapkan atau menginginkan sesuatu, kita akan sangat berambisi agar hal itu dapat diraih, tetapi terkadang yang didapatkan justru hal sebaliknya dan akhirnya mengecewakan kita.

Mengharapkan sesuatu memang diperbolehkan, tetapi jangan terlalu ambisius agar saat kenyataan tidak seperti yang diharapkan, kita masih dapat menerimanya dengan ikhlas.

3

Apabila kita kurang siasat,

itulah tanda pekerjaan hendak sesat.

 

 

 

 

 

Setiap pekerjaan harus dipersiapkan terlebih dulu dengan sebaik mungkin.

Jika ingin mengerjakan sesuatu, hendaknya dipersiapkan dengan sebaik mungkin agar hasil yang didapat juga maksimal.

Suatu pekerjaan harus dipersiapkan dan dikerjakan sebaik mungkn agar hasilnya nanti membuat kita puas.

4

Apabila anak tidak dilatih,

jika besar bapanya letih.

 

 

 

 

 

Anak yang tidak dididik dengan baik, maka ketika dia dewasa akan mengecewakan orang tuanya.

Anak adalah gambaran orang tua, didiklah anak sedari kecil dengan pendidikan dan kasih sayang yang cukup dan memadai agar ketika anak itu tumbuh dewasa, ia dapat membanggakan kedua orangtuanya.

Mendidik anak sejak kecil merupakan suatu kewajiban bagi orangtua karena apapun yang dilakukan anak ketika dewasa, itulah yang akan menentukan orang tuanya akan bahagia atau tidak.

 

5

Apabila banyak mencela orang,

itulah tanda dirinya kurang.

 

 

 

 

 

Jangan suka menghina dan merendahkan orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita tidak sadar kalau kita sedang menghina orang lain. Hal ini akan menambah dosa kita.

Menghina orang lain dapat dilakukan secara sadar maupun tidak sadar melalui perbuatan kita sehari-hari.

6

Apabila orang yang banyak tidur,

sia-sia sajalah umur.

 

 

 

 

 

 

Pergunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya.

Waktu yang digunakan dengan sebaik mungkin akan membuat kita berhasil dalam kehidupan karena sudah terbiasa untuk berdisiplin dengan waktu.

 

Waktu adalah uang yang harus dipergunakan sebaik mungkin dan tidak untuk di sia-siakan.

7

Apabila mendengar akan khabar,

menerimanya itu hendaklah sabar.

 

 

 

 

 

Setiap kabar yang kita terima, meskipun itu kabar baik ataupun kabar buruk, hendaknya menerima dengan lapang dada.

Dalam kehidupan, selalu ada berita yang harus kita dengar dengan lapang dada dan ikhlas, apapun kabar yang didapatkan, ikhlaslah.

Berlapang dada dalam segala hal termasuk ketika menerima kabar apapun merupakan suatu kemuliaan.

8

Apabila mendengar akan aduan,

membicarakannya itu hendaklah cemburuan.

 

 

Jangan mudah terpengaruh oleh perkataan orang lain yang belum pasti kebenarannya.

Perkataan orang lain adalah kabar burung yang tidak wajib kita percayai dan yakini, jika perkataan itu benar dan dapat diterima oleh akal, barulah kita boleh mempercayainya.

 

Kita tidak boleh terpengaruh oleh perkataan orang lain yang belum tentu benar dan baik untuk kita, hendaknya lakukanlah pengecekan ulang agar tidak terjadi kesalahpahaman.

 

9

Apabila perkataan yang lemah-lembut,

lekaslah segera orang mengikut.

 

 

 

 

 

Perkataan yang lemah lembut akan lebih didengar  dan diikuti oleh orang lain.

Seseorang akan lebih nyaman dengan orang yang tutur katanya santun dan lemah lembut.

Bahasa merupakan cerminan pribadi seseorang, maka bicaralah dengan sopan kepada sesama agar orang lain menyenangi kita.

 

10

Apabila perkataan yang amat kasar,

lekaslah orang sekalian gusar.

 

 

 

 

Perkataan yang kasar akan membuat orang lain resah dan tidak nyaman.

Perkataan yang kasar akan membuat orang lain tidak nyaman dan ingin segera menjauh dari diri kita.

Orang yang selalu berbicara kasar akan menjadikan dirinya tidak disukai oleh orang lain.

11

Apabila pekerjaan yang amat benar,

tidak boleh orang berbuat honar.

 

 

 

 

Jangan menyalahkan orang yang benar atau mengkambinghitamkannya.

Memfitnah seseorang adalah suatu hal yang salah dan lebih buruk dari memakan bangkai saudara sendiri.

Menyalahkan seseorang yang benar adalah suatu hal yang tidak terpuji.

Artikel yang berkaitan
Komentar