Fiksi Mini

ditulis oleh: Herawati

Sastra Indonesia memiliki beragam jenis bentuk karya yang bisa dinikmati oleh pembacanya. Syair, pantun, prosa fiksi, puisi, dan beragam bentuk karya lainnya. Salah satu bentuk yang sudah banyak dikenal yaitu fiksi atau cerita rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan. Namun, apakah Sobatku sudah tahu bahwa salah satu jenis fiksi yang ada dalam kesusastraan Indonesia ada yang disebut dengan fiksi mini?


Mari kita bersama mencari tahu tentang fiksi mini!
Fiksi mini disebut juga dengan cerita kartu pos. Dalam bahasa Prancis disebut nouvelles, di Jepang disebut dengan cerita setelapak tangan, dan di Amerika disebut dengan fiksi kilat, fiksi dadakan, serta mikrofiksi.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menjelaskan bahwa fiksi mini adalah sebuah cerita pendek yang berasal dari kata fiksi (cerita) dan mini (kecil atau pendek). Perbedaannya dengan cerita pendek yaitu pada fiksi mini pembaca bebas mengembangkan imajinasinya terkait tema, alur cerita, akhir cerita, dan simpulan cerita.
Hal yang paling mudah dalam membedakan fiksi mini dengan fiksi lain, yaitu dari jumlah karakter atau kata yang membangunnya dan struktur isinya. Menurut Kartikasari dkk (2014) mendefinisikan fiksi mini sebagai karya sastra seratus empat puluh karakter yang berkembang  di media sosial. Sama halnya dengan pendapat Kartikasari, KBBI edisi V menyatakan bahwa fiksi mini memiliki jumlah karakter sebanyak 140. Lalu, struktur dari fiksi mini terdiri dari judul dan isi.
Sama halnya dengan fiksi lainnya, fiksi mini memiliki beragam tema, isu, ataupun topik yang beragam seperti isu sosial, kritik, pengalaman, kisah tokoh yang lucu, sedih, nakal, hingga heroik.

Di Indonesia fiksi mini terus bertumbuh seiring perkembangan teknologi. Perkembangan fiksi mini sudah merambah ke media sosial pada tahun 2014 yaitu salah satunya twitter, berkat beberapa senior sastra di antaranya Clara Ng, Agus Noor, dan Salman Aristo (Jayanti, 2016). Namun, ada pula beberapa karya fiksi mini dari penulis lain yang cukup terkenal. Untuk menambah pengetahuan Sobatku, berikut ada beberapa contoh fiksi mini karya penulis Putu Wijaya. Mari membaca!

Glek
Air tengah melewati kerongkongan si sulung. Sementara si bungsu menggerakkan kenop pintu. Ada persamaan di antara mereka. Yang membedakan adalah pelafalan.

Jdar
Nenek menutup telinga. Sambaran kilat membahana. Namun, cucunya malah kegirangan. Artis dengan nama akun bunyi itu memberikan tanda hati pada postingannya.

Jreng
Pengamen itu menjadi pusat perhatian saat menggenjreng gitarnya. Dia bangga akan hal itu. Padahal, jauh sebelumnya pengunjung terminal sudah terpukau dengan warna bajunya yang sangat cerah.
Fiksi mini memang memiliki struktur yang singkat. Namun, jika dilihat secara saksama diperlukan keterpaduan dan permainan bahasa di dalamnya. Walaupun begitu, Sobatku bisa mencobanya dengan mencari topik yang sederhana dahulu. Siapa tahu nanti menjadi penulis fiksi mini yang mahir. Semoga bisa menambah pengetahuan Sobatku semua, ya!

Sumber:
Jayanti, Cicik T. 2016. Wacana Fiksimini Bahasa Indonesia: Analisis Struktur, Keterpaduan, Permainan Bahasa, dan Fungsi. Malang: Jurnal Bahasa dan Seni.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2017. Fiksi Mini. [daring]. Diakses dari http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/.
Kemdikbud. 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V. [daring] diakses dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/.
Prihartanti, Gandis. 2017 . Kumpulan Fiksi Mini Ala Putu Wijaya. [daring]. Diakses dari https://www.kompasiana.com/.

Artikel yang berkaitan
Komentar