Dilema dengan Slogan Badan Bahasa

ditulis oleh: Rima Rismaya

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, saat ini tengah gencar menyuarakan “gerakan” penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik.

“Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing”

Bahasa Indonesia saat ini posisinya dianggap lebih rendah dibandingkan dengan bahasa Inggris. Kebanyakan orang berpikir jika ingin terlihat keren, gunakan bahasa Inggris dalam percakapan. Namun, jika kurang mahir berbahasa Inggris, tidak apa untuk mencampurkan kalimat bahasa Indonesia dengan kata atau kalimat lain berbahasa Inggris. Hal ini terjadi terutama di kalangan kawula muda.

Jika demikian, apakah masih bisa disebut mengutamakan bahasa Indonesia ketika kalimat yang digunakan tidak murni berbahasa Indonesia?

Posisi bahasa daerah dalam hal ini bisa dikatakan paling rendah. Orang-orang menganggap bahasa daerah terkesan “kampungan” dan tidak terlalu menarik untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari. Contoh sederhananya, banyak orang tua yang tidak menggunakan bahasa ibu mereka atau bahasa daerah sebagai bahasa Ibu untuk anak-anak mereka. Para orang tua tersebut lebih memilih untuk menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing ketika berkomunikasi dengan putra-putrinya.

Contoh lainnya, seorang anak muda yang merantau ke kota untuk belajar atau bekerja, ketika kembali ke kampung halamannya, lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia agar terlihat “ngota”.

Jika keadaannya begini, apakah bahasa daerah bisa terus lestari?

Lalu, bagaimana agar masyarakat luas mampu menguasai bahasa asing ketika bahkan bahasa asing tersebut hanya “didapatkan” di bangku sekolah yang mereka sendiri tidak mampu menjangkaunya?

Namun, dalam kenyatannya bahasa asing bisa saja dipelajari di luar bangku sekolah. Banyak orang berinisiatif untuk mempelajari bahasa asing tersebut secara mandiri. Sayangnya, banyak pula yang berperan menjadi “polisi bahasa”, menyalahkan mengolok-olok segala kesalahan orang yang sedang berproses untuk menguasai bahasa asing tersebut.

Jika keadaannya begini, apakah bahasa asing itu bisa semua orang kuasai?

Dalam praktiknya, slogan tersebut sangat sulit dilakukan karena akan ada satu bahasa yang harus mengalah untuk tidak digunakan. Slogan Badan Bahasa terlihat begitu sempurna dan bisa meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia. Namun, perlu ada langkah serius dan berkelanjutan untuk bisa menerapkan slogan tersebut dengan sempurna.

Mengutamakan bahasa Indonesia tanpa mematikan bahasa daerah dan tetap mampu menuturkan bahasa asing bisa saja dilakukan jika lingkungan sekitar bisa memberikan wadah yang memadai. Bagaimana mungkin mengutamakan bahasa Indonesia ketika plang penjahit saja ditulis tailor?

Kira-kira, bagaimana cara yang efektif untuk mengimplementasikan slogan tersebut dalam kehidupan sehari-hari? Mungkin dengan cara menggunakan bahasa pada porsi yang tepat, sehingga "dilema" ini menjadi suatu yang biasa dilakukan oleh kita.

Ayo, utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.

Sumber gambar: Badan Bahasa

Artikel yang berkaitan
Komentar