Dilema Bahasa: Mengapa Bahasa Selalu Berubah?

ditulis oleh: Ali Hasan Asyari

Pernahkah terpikirkan olehmu, mengapa bahasa selalu berubah seiring perkembangan zaman?

Harusnya kan bahasa itu gak berubah-ubah, supaya bahasa itu mencirikan identitas negara. Benar, kan?

Pada April 2020, Badan Bahasa secara resmi melakukan pemutakhiran KBBI yang dilakukan dua kali dalam setahun, yakni bulan April dan Oktober. Pemutakhiran KBBI ini meliputi entri kata baru dan perbaikan definisi atau makna. Kurang lebih 1000 kata baru masuk ke KBBI. Dominasi kata yang masuk adalah istilah yang sedang tren. Bisa saja bulan Oktober nanti, entri kata baru lebih banyak dengan mengikuti tren yang terjadi. Menurutmu, apakah ini sesuatu hal yang baik atau buruk?

Banyak sekali perubahan. Mana mungkin bisa mencirikan bahasa Indonesia itu seperti apa. Setuju?

Tepatnya 72 tahun, Indonesia memiliki bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia. Jika melihat perjalanan bahasa Indonesia, memang banyak sekali perubahan. Ya, banyak sekali. Terutama dari cara masyarakat berbahasa. Mulai dari ini,
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

sampai ini,
Eh, lu lagi di mans? Buruan napah.
Sans, OTW!

Beginikah identitas bahasa Indonesia saat ini? Jangan dulu melihat 72 tahun yang lalu. Kita lihat 3—5 tahun terakhir. Apakah akan terpikirkan bahasa kita menjadi begitu? Haha. Apakah bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang buruk? Eits, justru inilah yang menarik dari perkembangan bahasa kita.

Munculnya kata-kata seperti itu menandakan bahasa memang gampang berubah. Faktanya, sejak lahir bahasa kita memang selalu bercampur. Percaya? Hakikatnya, bahasa Indonesia tidak serta merta dilempar dan ditendang langsung gol layaknya sepak bola. Bahasa Indonesia mengalami banyak fase dalam perkembangannya,  bahhkan ribuan tahun sebelum bahasa Indonesia ditetapkan menjadi bahasa persatuan. Bahasa yang merupakan ragam bahasa Melayu ini mendapatkan banyak sekali pengaruh dari Belanda, Inggris, Portugis, Sanskerta, Arab, Tiongkok, Jepang, Tamil, Hindi, dan masih banyak lagi. Ternyata, bahasa kita identik dengan perkembangan yang bercampur sejak dari dulu. Keren, kan. Bukan hanya itu, bahasa daerah juga turut menyumbang kata-kata serapan serperti dari bahasa Jawa, Sunda, Madura, Batak, Bali, dan lain-lain.

Lah, kalau begitu, bahasa Indonesia gak konsisten, dong?

Tidak begitu, Ferguso! Bahasa lain pun mengalami perubahan. Contohnya dalam hal padanan kata, bahasa Inggris mencantumkan beberapa kata yang bukan berasal dari bahasa sendiri. Hebatnya, kata-kata tersebut ada yang berasal dari bahasa Indonesia. Misalnya, durian , orangutan , rambutan , sambal , dan lain-lain. Larry Trask dalam bukunya Why Do Languages Change?, mengumpamakan perubahan bahasa layaknya perubahan fesyen. Apa yang dianggap menarik dulu, belum tentu semenarik masa kini.

Memangnya, perkembangan bahasa itu cuman bahasa slang yang alay saja, ya?

Tidak, bisa apa saja. Bentuknya bebas mengikuti perkembangan zaman. Namun, tetap sesuai dengan ketetapan yang diputuskan oleh para ahli bahasa dan penutur bahasa. Dengan demikian, sampai saat ini banyak sekali kosakata baru yang masuk ke dalam KBBI kita. Mungkin bisa lebih banyak lagi, loh. Ini pertanda bahasa kita kaya akan kosakata. Tentunya, kita jadi lebih mudah untuk berbahasa. Yeay!

Lalu, apa saja perubahan dalam bahasa?

Perubahan bahasa terjadi pada perubahan bunyi, kata, ejaan, makna, dan tata bahasa. Kita bahas di artikel selanjutnya saja untuk tema perubahan bahasa ini, ya? Supaya kamu makin dekat dengan Aku Bahasa dan #LebihMemesat. Yeh, malah promosi. Haha.

Intinya, perubahan bahasa ditandai dengan banyak hal yang memengaruhi, baik interaksi maupun status sosial. Apalagi ditambah teknologi saat ini yang semakin berkembang dan memesat. Seperti halnya zaman, bahasa pun tentu akan selalu berubah dan berkembang. Apakah baik? Tentu kembali kepada kita lagi, apakah dengan perubahan bahasa bisa membuatmu lebih nyaman berbahasa atau tidak. Sebenarnya, ini selalu menjadi perdebatan di kalangan ahli bahasa. Namun, perubahan bahasa ini dianggap wajar. Bahkan, menandakan bahasa itu selalu menyempurnakan komunikasi kita lebih enak dan nyaman. Apa yang dianggap norak sekarang, bisa saja menjadi baku atau umum di masa mendatang. Sebaliknya, apa yang dianggap keren sekarang, bisa jadi nilainya biasa saja atau tidak berarti sekali di masa depan. Kita bisa melihat dinamika perubahan bahasa ini sebagai sesuatu yang asyik dan seru terutama dalam memperkaya kosakata dan perbendaharaan bahasa, selama kita juga bisa cermat menggunakannya pada konteks dan situasi yang sesuai.

Bagaimana dengan bahasa Indonesia? Apakah akan kehilangan jati dirinya?

Tenang. Sejak dulu, bahasa Indonesia sudah lahir dengan keanekaragaman bahasa yang membangunnya. Seperti halnya ideologi Indonesia yang selalu kaya akan keanekaragaman khas tiap daerahnya, bahasa Indonesia pun akan selalu kaya akan kosakata yang menarik dan seru. Bangga, bukan?

Tetap sehat, teman-teman!

Artikel yang berkaitan
Komentar