Budaya Umpan Klik Merusak Tatanan Bahasa Indonesia

ditulis oleh: Ricky Fadilah

“Ini Alasan Mitsubishi Jarang Kasih Diskon Besar”

“Ini Alasan MA Baru Publikasikan Putusan Gugatan Rachmawati Setelah 8 Bulan”

“Ini Alasan B'Tselem Sebut Israel Apartheid”.


Ya, Ini adalah beberapa contoh judul berita yang menggunakan umpan klik (click bait) tanpa memedulikan tatanan bahasa Indonesia. Ciri penggunaan judul yang menggunakan umpan klik, yakni terdapat kata “ini” pada beberapa contoh judul berita. Lalu, sebenarnya apa itu umpan klik?

Dilansir dari Wikipedia, umpan klik (clickbait) adalah suatu istilah peyoratif yang merujuk pada konten web yang ditujukan untuk mendapatkan penghasilan iklan daring, terutama dengan mengorbankan kualitas atau akurasi, dengan bergantung kepada tajuk sensasional atau keluku (thumbnail) yang menarik mata guna mengundang klik-tayang dan mendorong penerusan bahan tersebut melalui jejaring sosial daring. Simpelnya, umpan klik merupakan suatu istilah yang merujuk pada suatu konten supaya lebih menarik dengan menurunkan kualitas kontennya. Klik bait ini sekilas terlihat sah-sah saja, tapi sebenarnya dapat merusak tatanan bahasa Indonesia. 

Mungkin sahabat yang membaca bertanya-tanya “Kok, bisa umpan klik dianggap merusak tatanan bahasa Indonesia?”. Saking menjadi budaya di dunia daring, umpan klik ini seakan-akan menjadi hal yang benar di khalayak daring, padahal sebenarnya tidak. Perlu diketahui bahwa budaya umpan klik yang menggunakan kata “ini-ini” secara tidak disadari membuat pembaca menjadi terbiasa dengan kalimat-kalimat yang provokatif. Penulis judul-judul umpan klik seakan-akan berpikir, jika tanpa menggunakan umpan klik masyarakat tidak akan tertarik untuk membaca berita yang akhirnya dilakukanlah pengetikan umpan klik yang secara tidak langsung menghina para penulis profesional. Penulis profesional benar-benar belajar mengenai penulisan judul, bahkan ada mata kuliah yang khusus membahas penulisan judul, tetapi media daring justru membuat judul yang tidak sesuai dengan tatanan bahasa Indonesia.

Sahabat mungkin berpikir bahwa artikel ini terlalu berlebihan, tetapi ini masalah tatanan bahasa Indonesia yang kerap diabaikan oleh masyarakat. Apa tidak malu bangsa Indonesia yang “katanya” mencintai bahasa Indonesia ini tidak ingin menggunakan tatanan bahasa Indonesia yang baik dan benar? Sebagai orang yang “waras” seharusnya kita malu saat kita mengabaikan tatanan bahasa Indonesia yang seharusnya tidak kita abaikan begitu saja. “Katanya” mencintai negara, tapi penggunaan bahasanya tidak benar. Judul memang harus menarik, tetapi tidak sampai merusak tatanan bahasa Indonesia.

Penulisan judul yang benar adalah penulis judul yang (minimal) menggunakan kaidah “S-P-O”, sedangkan dalam media daring yang menggunakan umpan klik yang menggunakan kata “ini-ini” di setiap judulnya, jangan harap dapat memenuhi kaidah “S-P-O”. Dari hal yang paling minimal saja tidak dapat dipenuhi, lantas mengapa budaya umpan klik ini masih terus saja dibudayakan? Mengapa semakin banyak media yang mengabaikan tatanan bahasa Indonesia?

Pandangan saya, umpan klik dapat merusak tatanan judul bahasa Indonesia yang ditandai dengan pengabaian kaidah judul bahasa Indonesia. Sangat disayangkan budaya-budaya yang sebenarnya “tidak baik” ini masih saja diterapkan di Indonesia, padahal umpan klik ini harus dihindari karena menghina profesi penulis dan sebenarnya jika menggunakan tatanan bahasa Indonesia yang sesuai, judulnya akan lebih “nyaman” untuk dibaca. Berikut saya lampirkan contoh tatanan judul yang menggunakan umpan klik beserta tatanan judul yang sesuai dengan tatanan bahasa Indonesia yang dilansir dari cuitan akun Twitter @fauzanalrasyid :

1. Ma’ruf Amin Nilai Khilafah Tak Cocok di Indonesia, Ini Alasannya 

Penulisan yang sesuai dengan tatanan bahasa Indonesia :
a. [Alternatif #1] Ma’ruf Amin Nilai Khilafah Tak Cocok di Indonesia
b. [Alternatif #2] Ma’ruf Amin: Sistem Khilafah Tidak Bisa Diterapkan di Indonesia


2. Ini Alasan Hakim Tetap Hukum Pengkritik Volume Azan 18 Bulan Bui

Penulisan yang sesuai dengan tatanan bahasa Indonesia :
a. [Alternatif #1] Tetap Hukum Pengkritik Volume Azan di Medan, Hakim Beberkan Alasannya
b. [Alternatif #2] Hakim Pengadilan Tinggi Medan Beberkan Alasan Putusan Hukum Pengkritik Volume Azan 18 Bulan Bui


3. Ini Kata Risma Soal Pembebasan Tarif Jembatan Suramadu 

Penulisan yang sesuai dengan tatanan bahasa Indonesia :
a. [Alternatif #1] Tarif Jembatan Suramadu Digratiskan, Wali Kota Surabaya Buka Suara
b. [Alternatif #2] Wali Kota Surabaya Ungkap Dampak Pembebasan Tarif Jembatan Suramadu

Dari contoh tersebut bukankah terlihat sangat jelas bahwa tanpa menggunakan umpan klik “ini-ini” pun, judul tersebut dapat dibuat menarik bahkan terlihat lebih “nyaman”? 

Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi budaya umpan klik agar semakin tidak menjamur adalah dengan memberikan kritik terhadap penulis judul-judul daring agar tidak terus-menerus menggunakan umpan klik. Selain itu, kita juga bisa mulai dari diri kita sendiri. Saat kita membuat judul, jangan dibiasakan menggunakan umpan klik yang merusak tatanan bahasa Indonesia, jangan sampai masyarakat Indonesia terlalu- terbiasa dengan judul provokatif dan umpan klik sehingga tidak mengetahui tatanan judul bahasa Indonesia yang benar. Malu dong orang Indonesia kok ga tau bahasa Indonesia. Salam damai ?.

Oke, gak kerasa, ya, ternyata udah terlalu panjang. Ha-ha. Jadi, budaya umpan klik ini adalah kebiasaan yang kerap dilakukan oleh para penulis daring yang sebenarnya merusak tatanan judul bahasa Indonesia, padahal ada bidang profesional yang mempelajari penulis judul, ini justru dengan mudahnya menggunakan judul yang menyimpang. Saya harap setelah membaca artikel ini sahabat-sahabat ketika menulis judul akan semakin bijak.


Referensi :

1. https://id.wikipedia.org/wiki/Umpan_klik

2. https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/nbw38Y3b-judul-provokatif-ciri-pertama-hoaks-di-media-sosial

3. http://blog.typoonline.com/cara-penulisan-judul-yang-benar/

4. https://otomotif.kompas.com/read/2021/02/26/164100815/ini-alasan-mitsubishi-jarang-kasih-diskon-besar

5. www.beritasatu.com/amp/nasional/653287/ini-alasan-ma-baru-publikasikan-putusan-gugatan-rachmawati-setelah-8-bulan

6. https://www.republika.co.id/berita/qmtj34459/ini-alasan-btselem-sebut-israel-apartheid

7. Cuitan Twitter @fauzanalrasyid

Artikel yang berkaitan
Komentar