Berkutat dengan "Caption"

ditulis oleh: Ali Hasan Asyari

Cung, yang suka bingung saat membuat takarir? Ya, aku pun kadang-kadang kebingungan saat menuliskan takarir dalam postingan media sosial pribadiku. Ini fenomena yang sangat menarik sebenarnya karena kita menghabiskan waktu untuk sekadar menuliskan beberapa kata pada takarir. Sangat lucu kukira. Haha.

Oh iya, informasi untukmu, padanan “caption” adalah “takarir”. Jadi, kita gunakan kata “takarir” saja, ya.

Tidak dapat dimungkiri bahwa media sosial sudah menjadi kebutuhan dalam hidup kita. Apalagi saat masa pandemi seperti ini. Seluruh kehidupan kita dibawa dan dipersembahkan di dunia maya sembari rebahan. Bisa dibilang, media sosial menjadi tambahan poin selain sandang, pangan, papan, dan casan. Oh iya, tambah wifi. Sekalian yang unlimited. Haha. Enak sekali, ya, zaman sekarang.

Namun, yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini bukan poin kebutuhan dalam hidup, tetapi apa saja, sih, yang seharusnya ada pada takarir di media sosial?

Dalam media sosial, penyampaian takarir adalah perpanjangan atas pola pikir dan pesan-pesan yang hendak kita sampaikan. Takarir ini mencirikan identitas seseorang dan perusahaan. Bahkan, penggunaan takarir dalam media sosial juga ikut menandakan siapa audiens yang menjadi target pasar dan pembaca dari postingan.

Coba kita sinkronisasikan takarir dengan bahasa yang baik dan benar, ya.

Sebelum membahas takarir dengan bahasa yang baik dan benar, aku pernah ikut pelatihan yang diadakan oleh Ivan Lanin. Dalam penjelasannya, takarir ini termasuk dalam laras bahasa kreatif.

Nah, sebelum lebih jauh, aku akan jelasin dulu, mengapa ada laras bahasa kreatif?

Jadi, dalam penjelasan Ivan Lanin dalam pelatihannya, laras bahasa bisa dibagi dalam 6 kategori, yakni sastra, kreatif, jurnalistik, bisnis, ilmiah, dan hukum. Jika diklasifikasikan, laras bahasa ini bisa menjadi dua bagian, yakni laras bahasa formal dan laras bahasa tidak formal. Dalam hal ini, kategori kreatif termasuk laras bahasa tidak formal.

Sebenarnya, laras bahasa kreatif ini sangat banyak jenisnya dan selalu kita temukan saat kita berselancar di media sosial. Seperti, YouTube, siniar, iklan, tulisan-tulisan promosi pada aplikasi, konten artikel pada situs web ini, dan tentunya konten pada media sosial. Pada konteks laras bahasa kreatif ini, biasanya tulisan, kalimat, atau takarir yang kita tulis ini bersifat luwes dan santai. Oleh karena itu, bisa dibilang, kita hanya perlu menyesuaikan dengan audience (hal ini biasanya dilakukan untuk konten perusahaan, promosi, atau komunitas). Tentukan tujuannya dalam tulisan supaya audience atau pengguna bisa mengerti apa yang kita sampaikan. Lebih bagus jika tulisan kita menarik perhatian pembaca. Contohnya, ada tulisan pada takarir yang lebih memilih menggunakan kata giveaway, sale, dan cashback, alih-alih menggunakan cenderamata, obral, dan kembalian tunai. Hal ini karena audience “lebih mengerti” dengan kata itu. Ini ilmu untuk dipakai dalam UI/UX banget, sih.

Kalau takarir yang akan diposting pada akun pribadi bagaimana? Ya, kurang lebih sama. Namun, karena kebutuhannya tentu berbeda, yang pasti akan berbeda juga isi dalam tulisan. Bisa jadi sekadar beberapa kata, bisa juga dibikin cerpen. Atau bisa juga diisi dengan kata-kata motivasi. Bisa, kan? Jadi, menulis takarir itu simpel!

Nah, semoga penjelasanku ini bisa menjadi jawaban atas tidurmu yang kurang nyenyak karena berkutat dengan takarir, eh, caption, ya. Hehe.

Artikel yang berkaitan
Komentar