Berkenalan dengan Register, Yuk!

ditulis oleh: Rima Rismaya

Sobatku pernah mendengar kata register?
Eh, jangan langsung dicari di KBBI. Sebab, register yang akan kita bahas berbeda dengan register yang ada di KBBI, loh.

Salah satu cabang linguistik adalah ilmu Sosiolinguistik. Secara sederhana, cabang ilmu ini membahas kaitan antara manusia dengan bahasa. Chaer & Agustina (2010: 3) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai bidang ilmu antardisiplin (sosiologi dan linguistik) yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat. Sebagai objek dalam kajian sosiolinguistik, bahasa tidak dilihat atau didekati sebagai bahasa, sebagaimana dilakukan oleh linguistik umum, melainkan dilihat atau didekati sebagai sarana interaksi atau komunikasi di dalam masyarakat.

"Loh, kan bahasa memang dimiliki manusia?"

Ya, betul. Akan tetapi ilmu ini tidak hanya mengkaji hal itu saja. Sosiolinguistik juga membahas "kehidupan" bahasa yang digunakan sehari-hari dalam kehidupan manusia.
Kalian sadar tidak kalau suatu komunitas masyarakat umumnya memiliki ciri kebahasaan yang berbeda dengan komunitas masyarakat lainnya?
Begini, pasti ada ciri bahasa yang digunakan di lingkungan sekolah berbeda dengan bahasa yang berada di lingkungan terminal?
Apakah ragam bahasa anak sekolah umum menggunakan kata karcis, rute, bus, kenek, supir, atau loket?
Sebaliknya, apakah ragam bahasa terminal umum menggunakan kata perpustakaan, guru, upacara, atau ruang kelas?
Sudah mulai terlihat perbedaannya?

Tanpa disadari, ada beberapa perbedaan ketika menggunakan bahasa dalam berkomunikasi yang muncul ketika kondisi, situasi dan lawan komunikasi kita juga berbeda. Variasi dalam berbahasa ini oleh para linguis disebut dengan istilah “register” (Hermoyo, 2015). Secara mendasar, ada lima (5) hal yang mempengaruhi perubahan variasi berbahasa (register) kita tersebut, yaitu (1) Apa yang kita bicarakan (tentang masalah hukum, pendidikan, politik, hobi, asmara, curhat), (2) Siapa lawan bicara kita (Guru, orang tua, teman, kekasih, bos, pengemis, pembantu, saat pidato di depan orang banyak), (3) Mengapa kita berbicara (untuk menceritakan sesuatu, merayu lawan jenis, untuk mencairkan suasana, untuk meminta tolong), (4) Jenis komunikasi apa yang kita gunakan (tertulis, lisan, email, telpon), dan (5) Perasaan kita saat berbicara (terpaksa, konsentrasi, lelah) (Hermoyo, 2015).

Berikut ini beberapa contoh register yang disesuaikan dengan profesi.
1.    Register pecinta binatang: kandang, steril, wetfood, pakan, bulu, dan lain-lain.
2.    Register tenaga kesehatan: dokter, pasien, imun tubuh, virus, resep obat, rawat inap, dan lain-lain.
3.    Register petani: pupuk, lahan, panen, ladang, sawah, tengkulak, dan lain-lain.
4.    Register pecinta makeup: kuas, bedak, warna kulit, pembersih wajah, alas bedak, dan lain-lain.
5.    Register pedagang buah: buah naga, tawar, timbangan, harga, masak, manis, asam, dan lain-lain.

Berdasarkan contoh-contoh tersebut, banyak sekali kosakata yang menjadi “ciri khas” dari komunitas masyarakat tertentu. Walaupun demikian, hal ini tidak berarti bahwa kosakata tersebut hanya dimiliki oleh suatu komunitas masyarakat.
Jika menyebutkan kata tertentu, orang biasanya langsung mengetahui kosakata tersebut berkaitan dengan sebuah bidang. Seperti contoh yang telah disebutkan, sawah dan ladang identik dengan profesi petani. Kata sawah dan ladang tidak akan membuat orang berpikir bahwa kata-kata ini berkaitan dengan kecantikan.

Pada dasarnya, variasi bahasa ini akan terus berkembang menyesuaikan dengan kondisi komunitas masyarakat itu sendiri. Jika kelak ada kata pengganti sawah dan umum digunakan, maka kata sawah tidak lagi menjadi register petani karena sudah tidak digunakan lagi dalam komunikasi sehari-hari.

Nah, sekian sedikit penjelasan mengenai register. Sobatku, sekarang sudah paham apa itu register dalam linguistik, kan?
Ternyata, bidang linguistik atau bahasa itu luas sekali, ya?

Sumber Rujukan
Chaer, A., & Agustina, L. (2010). Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Hermoyo, R. P. (2015). Register Pekerja Terminal Petikemas Surabaya. Stilistika, 8(1), 48–67.

Artikel yang berkaitan
Komentar