Bahasa Indonesia, Bahasa Terbuka?

ditulis oleh: Desi Ari Sandi

Maksudnya apa, sih? Kok, terbuka? Terbuka untuk siapa? Untuk umum? Begitulah yang terlintas di pikiranku saat mendengar atau membaca mengenai bahasa Indonesia merupakan bahasa yang terbuka. Sebelum membahas lebih jauh, apa sih yang terlintas di pikiranmu kalau mendengar kata “terbuka”?

Baiklah, mari kita bahas terlebih dahulu mengenai kata “terbuka”. Menurut KBBI, terbuka merupakan kata kerja yang berarti tidak sengaja dibuka; tidak tertutup; tersingkap. Penjelasan “terbuka” versi KBBI ternyata cukup pendek, hanya menjelaskan sebagai verba atau kata kerja. Sedangkan Tesamoko dapat menjelaskan “terbuka” dengan sangat rinci, berikut penjelasannya.

Terbuka (verba) 1a celangak, celangap, melompong, mencangah, terbabang, terbabar, tercingangah, tergelohok, terlangah, terpangah, terpentang, tersirap; 1b (tentang mulut) mangap, melongo, membengang, mendelongop, ternganga; 1c (tentang mata) bangun, celik, jaga, kelih, melek; 1d (tentang luka) tercongeh.

Terbuka (verba) 2 (tentang rahasia) berburai, terbongkar, terdedah, terekspos, terkuak, tersibak, tersingkap, terungkap.

Terbuka (adjektiva) 3a gamblang, jelas, polos, telanjang, transparan; 3b blak-blakan, jujur, terang-terangan, terus terang; 3c (tentang serangan) frontal, langsung.

Terbuka (adjektiva) 4a bebas, liberal, longgar, permisif, relaks, toleran; 4b komunal, publik, umum.

Terbuka (adjektiva) 5 liabel, peka, rawan, rentan, reseptif, sensitif, suseptibel.

Bahasa “terbuka” dalam artikel ini lebih condong pada penjelasan poin 4a di Tesamoko yaitu sebagai bahasa yang “liberal, longgar, permisif, relaks, toleran”. Tidak bisa dimungkiri bahwa bahasa Indonesia tidak akan berkembang pesat tanpa bahasa-bahasa lain. Hal ini berarti bahasa Indonesia dari dulu sudah terbuka menerima pengaruh dari bahasa-bahasa lain. Sifat terbuka ini tentunya berpengaruh baik bagi perkembangan bahasa Indonesia, tetapi kemungkinan dapat berpengaruh buruk juga. Seperti telah kita ketahui, bahasa Indonesia banyak menyerap kata-kata dari bahasa asing, seperti bahasa Arab, Belanda, Cina, Inggris, Persia, Portugis, dan Sansekerta. Bahasa Sansekerta sudah ada sejak dua ribu tahun yang lalu dan berkembang bersama agama Hindu dan Budha. Tanpa disadari dalam berkomunikasi sehari-hari kita sering menggunakan kata serapan dari bahasa Sansekerta, seperti mahasiswa, desa, bahagia, manusia, bicara, dewasa, keluarga, dan lain-lain.

Bahasa Cina pun sudah ada sejak sangat lama di Indonesia. Kata seperti cat, kue, jamu, kuah, toko, soto, bakpia, bakmi, dan lain-lain. Tentunya kamu sudah tidak asing, dong dengan kata-kata tersebut? Selanjutnya, bahasa Arab dan Persia mulai memengaruhi bahasa-bahasa lokal sejak saudagar-saudagar beragama Islam menginjakkan kaki di Indonesia. Banyak sekali kata keagamaan yang diserap oleh bahasa setempat seperti salat, ulama, syariat, zakat, ziarah, umat, dan lain-lain. Bahasa Persia pun turut menyumbangkan kata seperti daftar, dipan, geram, kamar, nakhoda, sabun, tajuk, tembakau, dan lain-lain. Kata-kata dari bahasa Inggris, Portugis, dan Belanda pun turut memeriahkan bahasa Indonesia. Tidak usah dijelaskan contohnya di sini, ya, tentu kamu bisa mencari contohnya sendiri.

Namun, sifat “terbuka” yang dimiliki oleh bahasa Indonesia tidak selalu baik, bahkan tidak perlu sama sekali. Kata kes, kensel, dan skedul yang sekarang sudah terdaftar dalam KBBI mungkin mubazir karena bahasa Indonesia sudah memiliki kata kontan, membatalkan, dan jadwal. Keterbukaan bahasa Indonesia ini tentu tidak boleh terlepas dari sikap berbahasa yang baik dari penuturnya. Ingat, bahasa itu akan berkembang apabila penuturnya mau menjaga dan memelihara bahasa tersebut. Kamu mau kan menjaga dan memelihara bahasa Indonesia bersamaku? Tidak berat, kok. Sebab, jika dilakukan bersama tentu akan terasa lebih ringan. 

Sumber:

Moller, Andre. (2019). Ajaib, Istimewa, Kacau: bahasa Indonesia dari A sampai Z. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Artikel yang berkaitan
Komentar