Bahan Bakar Penulisan Puisi

ditulis oleh: Rima Rismaya

Gairah dan gaung puisi saat ini mulai terasa lagi. Puisi tidak lagi dikaitkan dengan situasi perasaan yang muram, galau, dan penuh sembilu. Para penyair telah berhasil membawa puisi ke dalam masyarakat umum sehingga orang tidak perlu merasa malu ketika ketahuan sedang menikmati beragam puisi.

Seiring meningkatnya minat membaca puisi, tentu gairah untuk menulis puisi juga akan muncul. Namun, banyak ketakutan yang menyertai proses ini. “Bagaimana kalau puisi saya jelek?”, “aduh! ingin menulis tapi bingung harus menulis tentang apa”, “tulisan ini akan saya ke manakan?”, hingga “saya tidak siap menerima kritik atas puisi saya yang jelek ini”. Ketakutan adalah suatu kewajaran. Sayangnya, banyak yang merasa sudah kalah padahal belum mulai melangkah.

Sumiyadi dan Durachman (2014, hlm. 27-29) menjelaskan salah satu bahan kepenulisan puisi adalah pengalaman diri. Meskipun tidak dapat menjamin seseorang langsung menjadi penyair, keterampilan menulis puisi memang dapat dipelajari. Calon penyair dapat berusaha sebaik-baiknya menuliskan apa yang ada di dalam hatinya sejelas dan sekonkret mungkin. Pada dasarnya, kegiatan berpuisi merupakan kegiatan memilih dan menyusun. Kegiatan ini sebenarnya merupakan upaya penyelesaian masalah yang berhubungan dengan jalur horizontal, jalur vertikal, dan visi.

1. Jalur Horizontal

Masalah jalur horizontal adalah masalah yang bersifat linier, yang menyangkut pengolahan bahasa secara analogis (citra/imaji dan lambang/simbol), diksi (pilihan kata/pemenggalan larik dalam frasa), bunyi (rima dan irama), serta intonasi.

2. Jalur Vertikal

Masalah jalur vertikal berhubungan dengan rancang bangun puisi. Penulis harus mampu menempatkan pikiran dan perasaannya yang dituangkan ke dalam puisi. Demikian pula penulis mesti mampu memutuskan secara tepat bagian-bagian yang harus diulang dan diberi tekanan.

3. Visi

Masalah visi merupakan konsekuensi logis dari masalah-masalah sebelumnya. Apabila masalah horizontal dan vertikal dapat diatasi, maka visi sebagai penyair akan tampak dengan jelas.

Puisi dalam dirimu adalah anak yang minta dilahirkan. Dalam hal ini, Ibu puisi adalah imajinasimu, sedangkan Bapak puisi adalah sebuah pengalaman. Bidan puisi ini adalah dirimu sendiri. Penulis memerlukan beragam latihan agar mampu membantu proses kelahiran puisi ini dengan baik dan sempurna. Puisi sempurna adalah puisi yang pemaknaannya tidak hanya dibatasi pada satu logika.

Pengalaman diolah sedemikian rupa agar pengalaman pribadi bisa berubah menjadi pengalaman yang bisa dirasakan banyak orang. Tidak perlu memakai diksi dan majas yang beaneka rupa hanya agar puisimu “nyastra”. Tulislah dengan sederhana, tulislah dengan jiwamu di sana.Pengalaman mengendarai motor di jalan layang Pasupati Bandung misalnya, bisa kamu jadikan puisi tentang perjalanan apa pun. Imajinasimu berperan sebagai bumbu. Jika kamu mengendarai motor sendirian, imajinasi bisa menambahnya jadi seolah sedang bersama pasangan membelah macet dan tenggelam dalam riuh klakson pengguna jalanan. Libatkanlah seluruh rasa yang ada dalam tubuh, sehingga puisimu selesai secara utuh.

Selepas itu, beranikan diri untuk melepas puisi itu menjadi suatu hal yang orang ketahui. Puisimu terlalu sedih untuk dibaca seorang diri. Berilah kesempatan pada orang-orang itu untuk merasakan pengalaman pribadimu.Pembaca punya hak untuk mengkritik atau bahkan mengejek puisimu. Namun, kamu juga punya hak untuk tidak peduli atau menjadikan kritik itu sebagai bahan evaluasi dan perbaikan diri.

Jadi, apa pengalamanmu hari ini?


Sumber rujukan:

Sumiyadi & Memen D. 2014. Sanggar Sastra Pengalaman Artistik dan Estetik Sastra. Bandung: Alfabeta.

Artikel yang berkaitan
Komentar