Aspektualitas dalam Bahasa Indonesia (Bagian I)

ditulis oleh: Rima Rismaya

Bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan bentuk verba yang disebabkan oleh kala. Maka dari itu, bahasa Indonesia tidak termasuk ke dalam bahasa infleksi. Namun, bahasa Indonesia merupakan bahasa aglutinasi. Artinya, bahasa Indonesia menggunakan pengimbuhan pada akar kata yang mengakibatkan perubahan makna atau pemakaian.

Djajasudarma (2016: 27) berpendapat bahwa bahasa Indonesia tidak memiliki tense “kala” (kategori perubahan verba) sebagai salah satu alat untuk menyatakan temporal deiktis secara gramatikal. Sebagai gantinya, bahasa Indonesia menyatakan temporal deiktis secara leksikal, yaitu dengan nomina temporal. Kala (tense) merupakan salah satu cara untuk menyatakan temporal deiktis melalui perubahan kategori gramatikal verba berdasarkan waktu. Kategori temporal sendiri dapat dinyatakan pula dengan nomina temporal, yang dalam bahasa Indonesia diwakili oleh kata sekarang, baru-baru ini, segera, hari ini, kemarin, dan seterusnya (Djajasudarma, 2016: 27-28).

Untuk memarkahi waktu, bahasa Indonesia menggunakan leksikal tertentu, seperti kemarin, hari ini, tadi, sekarang, dan sebagainya, yang tidak inflektif pada verba (Oktavianti dan Prayogi, 2018: 183). Hal inilah yang dinamakan aspek.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V (2016) memuat lema aspek sebagai kategori gramatikal verba yang menujukkan lama dan jenis perbuatan. Selain itu, aspek adalah kategori gramatikal untuk menandai durasi atau sifat situasi suatu peristiwa yang dinyatakan oleh verba (Crystal, 2008: 38). Adapun Comrie dalam Djajasudarma (2016: 28) menyatakan aspek sebagai cara memandang struktur temporal intern suatu situasi. Situasi ini dapat berupa keadaan (state), peristiwa (event), dan proses (process). Keadaan ini bersifat statis, sedangkan peristiwa dan proses bersifat dinamis. Chaer (2012: 259) juga menjelaskan aspek sebagai cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian, atau proses. Dalam berbagai bahasa, aspek ini merupakan kategori gramatikal karena dinyatakan secara morfemis. Dalam bahasa Indonesia, aspek tidak dinyatakan secara morfemis dengan bentuk kata tertentu, melainkan dengan berbagai cara dan alat leksikal.

Chaer (2012: 260) menjelaskan bahwa dalam bahasa Indonesia, ada aspek yang sudah dinyatakan secara inheren oleh tipe verbanya. Lebih jauh, Oktavianti dan Prayogi (2018: 194-195) menjelaskan bahwa aspektualitas dalam bahasa Indonesia bisa ditandai secara leksikal, melalui afiks, dan reduplikasi.

A. Secara Leksikal

Sama halnya dengan bahasa Inggris, bahasa Indonesia mengungkapkan aspektualitas secara leksikal, yakni dengan kata sudah, belum, akan, sedang, dan telah. Berikut ini contoh kalimat yang menggunakan pengungkapan aspek secara leksikal.

1. Pita kaset berputar, menunjukkan proses rekaman sedang berlangsung.

2. Johan mengatakan, Kapolri dan Irwasum telah meninggalkan KPK sore ini.

3. Tapi sosoknya masih belum dikenali.

B. Afiksasi

Bahasa Indonesia juga memarkahi aspektualitas dengan afiks. Perhatikan contoh berikut ini.

1. Ceritakan pada anak bahwa anda akan menyirami bunga supaya tumbuh dengan baik.

2. Akibatnya, para prajurit yang tidak puas lalu mengamuk dengan melempari batalyon.

Bandingkan dengan contoh di bawah ini.

3. Setiap hari kita membutuhkan air baik untuk masak, minum, cuci baju, menyiram tanaman, dan sebagainya.

4. Ternyata geng motor tadi melempar bom molotov.

Afiks -i pada kata menyirami pada contoh di atas menambah unsur semantis yang berbeda, yakni menambahkan makna adanya kegiatan yang berulang atau bersifat intensif (yang merupakan makna aspektualitas). Kegiatan menyirami menandakan intensitas kegiatan, sedikit berbeda dengan menyiram yang tidak mengandung unsur intensitas. Begitu pun dengan melempari dan melempar pada contoh (2) dan (4). Kata melempari mengindikasikan kegiatan berulang, tetapi tidak demikian dengan verba melempar. Akan tetapi, tidak semua sufiks -i menandakan kegiatan berulang. Sufiks -i pada menduduki, misalnya, bersifat lokatif.

C. Reduplikasi

Aspektualitas dalam bahasa Indonesia juga ditandai melalui reduplikasi, misalnya dalam kalimat “Meskipun dulu sering marah-marah kepadaku, tetapi aku selalu menyayanginya”. Dalam kata tersebut, aspek ditandai secara langsung yaitu sering dan reduplikasi verba marah-marah, yang maknanya marah sebagai adjektiva berubah menjadi verba karena adanya kegiatan marah yang dilakukan berulang-ulang.

Pada artikel selanjutnya, akan dibahas mengenai jenis-jenis aspek dalam bahasa Indonesia. Tunggu, ya!


Rerefensi:

Chaer, A. (2012). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Crystal, D. (2008). A Dictionary of Linguistics and Phonetics. Oxford: Blackwell Publishing.

Djajasudarma, T.F. (2016). Semantik 2. Bandung: Refika Aditama.

Kemdikbud. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V. [daring]. Diakses dari https://kbbi.kemdikbud.go.id.

Oktavianti, I.N. & Prayogi, I. (2018). Realisasi Temporalitas Aspektualitas dan Modalitas dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Adabiyyat: Jurnal Bahasa dan Sastra 2(2), 181-201.

Artikel yang berkaitan
Komentar