Teks Eksposisi (Pengertian, Struktur, dan Contohnya)

ditulis oleh: Yulia Yulian

Pengertian

Pembaca, tanpa disadari sebenarnya kita sering menemukan teks eksposisi dalam kehidupan sehari-hari. Teks ekposisi mudah kita temukan di berbagai media, di antaranya surat kabar, media sosial, atau televisi. Jika pembaca sering membaca sebuah artikel, esai, atau teks editorial dalam surat kabar, itulah yang disebut dengan teks eksposisi. Adapun teks eksposisi dalam bentuk lisan dapat kita temukan di dalam acara-acara debat. Di media sosial, teks ekposisi secara sederhana dapat kita temukan dalam sebuah kiriman atau bentuk-bentuk komentar. Dari wujud-wujud teks eksposisi tersebut, apakah pembaca sudah dapat menyimpulkan karakteristik umum dari teks eksposisi? Teks eksposisi adalah karangan yang menyampaikan pendapat dengan tujuan untuk meyakinkan orang lain. Jika dilihat dari contoh-contoh di atas, bukankah semuanya berisi pendapat untuk meyakinkan pembaca atau pendengarnya?

Itulah yang dimaksud dengan teks eksposisi.

Dilihat dari istilahnya, eksposisi berasal dari kata ekspos yang berarti "memberikan disertai dengan analisis dan penjelasan". Dengan demikian, pendapat yang dikemukakan harus disertai dengan fakta-fakta, contoh-contoh, atau pendapat para ahli. Tujuannya tidak lain adalah untuk meyakinkan orang lain.

Dari pengertian tersebut, kita dengan mudah dapat mengategorikan teks eksposisi sebagai sebuah teks yang bersifat argumentatif. Hal ini karena teks eksposisi mengemukakan suatu persoalan tertentu berdasarkan sudut pandang penulisnya. Dengan demikian, bahasan teks eksposisi memang cenderung subjektif.

Struktur

Teks eksposisi dibentuk oleh tiga bagian. Untuk memahami ketiga bagian tersebut, berikut disajikan contoh dari teks eksposisi yang berjudul “Begini Aktfnya Otak Saat Kita Membaca”.

1. Tesis, yaitu bagian yang memperkenalkan persoalan, isu, atau pendapat umum yang merangkai keseluruhan isi tulisan. Contoh:

Jika Anda hobi membaca, tentu membaca sebuah novel yang disukai adalah hal yang menyenangkan. Apalagi dengan menyelami isi cerita sehingga membuat otak menjadi hidup dengan terbawa emosi dan bahkan mengaktifkan indera.
Persoalan yang diperkenalkan dalam tesis tersebut adalah betapa bermanfaatnya membaca novel sehingga dapat mengaktifkan otak.

2. Rangkaian Argumen, yakni berisi sejumlah pendapat dan fakta-fakta yang mendukung tesis. Contoh:

Dilansir dari laman Fitnea, para peneliti menemukan bahwa penggambaran visual terjadi secara otomatis. Orang-orang mampu mengidentifikasi penggambaran objek lebih cepat jika mereka hanya membaca kalimat yang menggambarkan objek secara visual. Dengan begitu, ketika membaca kalimat, Anda secara otomatis memunculkan gambar objek dalam pikiran Anda.
Selain itu, setiap kata yang diucapkan membuat otak bekerja. Penelitian telah menunjukkan bahwa tindakan mendengarkan cerita dapat menghidupkan otak. Ketika Anda menceritakan sebuah cerita, tidak hanya bagian pengolahan bahasa otak Anda yang aktif, tapi bagian pengalaman otak Anda menjadi hidup juga.

Setiap fakta dan argumen yang disampaikan pada bagian tersebut tidak lain adalah untuk mendukung tesis. Fakta tentang membaca dapat mengaktifkan gambaran visual otak dan bercerita yang dapat mengaktifkan bagian pengolahan bahasa adalah contoh-contoh bukti untuk mendukung pendapat bahwa membaca novel dapat menghidupkan otak.

3. Kesimpulan, berisi penegasan kembali tesis yang diungkapkan pada bagian awal. Contoh:

Bila Anda mendengar tentang makanan, korteks sensorik Anda akan terangsang, sementara gerakan mengaktifkan korteks yang bertanggung jawab atas tindakan. Anda bisa mendengarkan cerita panjang teman Anda yang membosankan tentang liburannya, atau mendengarkan buku audio untuk melatih otak Anda menjadi lebih baik (Republika, 26 November 2013).

Pada bagian kesimpulan tersebut ditegaskan kembali pentingnya membaca atau mendengarkan buku audio karena dapat mengaktifkan otak sehingga menjadi lebih baik.

Pembaca, itulah pengenalan singkat dari teks eksposisi. Apakah pembaca sudah dapat membedakan teks eksposisi dengan teks lainnya? Atau pembaca masih merasa teks eksposisi ini sama dengan teks argumentatif lainnya?

COMMENTS