Proses Pembentukan Kata

ditulis oleh: Rima Rismaya

Kata adalah morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas. Kata juga merupakan satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal (Kridalaksana, 2008: 110). Selain itu, kata adalah bentuk bebas terkecil yang mempunyai kesatuan fonologis dan kesatuan gramatis yang mengandung suatu pengertian (Putrayasa, 2017: 44).
Setiap bentuk dasar harus dibentuk terlebih dahulu menjadi sebuah kata gramatikal, baik melalui proses afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi untuk dapat digunakan di dalam kalimat atau pertuturan tertentu. Chaer (2012: 170-176) menjelaskan bahwa pembentukan kata mempunyai dua sifat, yaitu inflektif dan derivatif.
1.    Inflektif
Inflektif atau infleksional adalah proses morfologis karena afiksasi yang menyebabkan terbentuknya berbagai bentukan dengan ketentuan bahwa bentukan tersebut tetap dalam kelas kata yang sama (Clark dalam Putrayasa, 2017: 113). Putrayasa (2017: 113-117) memaparkan afiks inflektif menjadi dua jenis, yaitu afiks formator infleksional dan afiks majemuk infleksional.
a.    Afiks formator infleksional adalah afiks-afiks pembentuk kata yang sifatnya tidak mengubah kelas kata. Berikut ini daftar contoh bentuk inflektif dalam pembentukan kata bahasa Indonesia.
1)    meN- + verba         (meN- + dengar = mendengar)
2)    ber- + verba         (ber- + lari = berlari)
3)    ter- + verba         (ter- + angkat = terangkat)
4)    peN- + nomina     (peN- + kail = pengail)
5)    di- + verba         (di- + pukul = dipukul)
6)    –i + verba         (-i + tulis = tulisi)
7)    –kan + verba         (¬-kan + ambil = ambilkan)
b.    Afiks majemuk infleksional adalah konfiks maupun imbuhan gabung yang membentuk kata, yaitu konfiks dan imbuhan gabung pembentuk kata yang sifatnya tidak mengubah kelas kata. Berikut ini beberapa contoh afiks majemuk.
1)    ke-an + nomina     (ke-an + sultan = kesultanan)
2)    per-an + nomina     (per-an + rumah = perumahan)
3)    ber-an + verba         (ber-an + lari = berlarian)
4)    meN-kan + verba     (meN-kan + tunjuk = menunjukkan)
5)    meN-i + verba         (meN-I + cabut = mencabuti)
6)    memper-kan + verba     (memper-kan + rebut = memperebutkan)
7)    ter-kan + verba     (ter-kan + urai = teruraikan)
8)    di-kan + verba         (di-kan + terbang = diterbangkan)
9)    di-i + verba         (di-i + lempar = dilempari)

2.    Derivatif
Derivatif atau derivasional merupakan proses morfologis karena afiksasi yang menyebabkan terbentuknya berbagai macam bentukan dengan ketentuan bahwa bentukan tersebut berubah kelas katanya dari bentuk dasarnya (Suparman dalam Putrayasa, 2017: 103). Derivasi mendaftar berbagia proses pembentukan kata-kata baru dari kata-kata yang sudah ada, adjektiva dari nomina, nomina dari verba, adjektiva dari verba, dan sebagainya. Afiks derivatif terbagi menjadi dua yaitu afiks formator derivasional dan afiks majemuk derivasional.
a.    Afiks formator derivasional adalah afiks-afiks yang membentuk kata, yaitu afiks-afiks pembentuk kata yang sifatnya mengubah kelas kata. Berikut ini beberapa contoh afiks formator derivasional.
1)    meN-  + nomina = verba    (meN- + sapu = menyapu)
2)    ber- + nomina = verba    (ber- + sepeda = bersepeda)
3)    per- + adjektiva = verba    (per- + panjang = perpanjang)
4)    peN- + verba = nomina    (peN- + jilat = penjilat)
5)    peN- + adjektiva = nomina    (peN + panas = pemanas)
6)    ke- + adjektiva = nomina    (ke- + tua = ketua)
7)    –i + adjektiva = verba        (-i + sayang = sayangi)
8)    –kan + nomina = verba    (-kan + gunting = guntingkan)
9)    –kan + adjektiva = verba    (-kan + jauh = jauhkan)
10)    –an + verba = nomina        (-an + makan = makanan)
b.    Afiks majemuk derivasional adalah konfiks maupun imbuhan gabung yang membentuk kata, yaitu konfiks atau imbuhan gabung pembentuk kata yang sifatnya mengubah kelas kata. Berikut ini contoh afiks majemuk derivasional.
1)    ke-an + adjektiva = nomina    (ke-an + jujur = kejujuran)
2)    per-an + verba = nomina    (per-an + tunjuk = pertunjukan)
3)    meN-kan + numeralia = verba        (meN-kan + satu = menyatukan)
4)    meN-i adverbia = verba    (meN-i + sudah = menyudahi)
5)    memper- + adjektiva = verba    (memper- + indah = memperindah)
6)    memper-i + adjektiva = verba    (memper-i + baik = memperbaiki


Sumber rujukan:
Chaer, A. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana, H. 2008. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Putrayasa, I.B. 2017. Kajian Morfologi Bentuk Derivasional dan Infleksional. Bandung:    Refika Aditama.

COMMENTS