Penamaan: Sebuah Proses Semantis

ditulis oleh: Yulia Yulian

Apakah kalian pernah berpikir, siapa sih yang menamai semua benda-benda yang ada di dunia ini? Mengapa hewan berkaki empat dan bersuara ‘meong’ itu diberi nama kucing? Mengapa bukan cuking, kicung, atau mungkin Elisabet?


Warganet yang budiman, masalah penamaan benda ini termasuk ke dalam pembahasan semantik atau ilmu tentang makna. Semua kata di dalam bahasa itu merupakan lambang dari objek nyata yang ada di dunia. Sebagai contoh, kata kucing sesungguhnya adalah sebuah lambang dari ‘hewan berkaki empat dan bersuara meong’ yang sempat disinggung sebelumnya. Tidak ada aturan wajib yang mengatur masalah pemberian lambang (kata, nama) untuk setiap objek yang ada di dunia. Hal ini karena bahasa merupakan siswam lambang bunyi yang bersifat arbitrer (manasuka). Itulah sebabnya setiap bahasa menamai objek yang sama dengan nama yang berbeda-beda.

Walaupun begitu, kita masih bisa, loh, menelusuri latar belakang penamaan sejumlah kata yang ada dalam leksikon bahasa Indonesia. Apa saja itu?


1.   Peniruan bunyi

Sejumlah kata dalam bahasa Indonesia dibentuk berdasarkan bunyi atau suara yang ditimbulkan dari benda tersebut. Kata-kata yang terbentuk dari proses ini disebut dengan onomatope.

Contoh:

- Cecak binatang bersuara “cak, cak, cak”

- Tokek binatang bersuara “tokek, tokek”

Kata kerja juga dapat terbentuk dari proses onomatope, contohnya menggonggong, berkotek, mendesis, meringkik, mengaum, dan lain sebagainya.


2.   Penyebutan sifat khas

Kata-kata yang dibentuk dari proses penyebutan sifat khas ini contohnya adalah si kikir, si bakhil, si kerdil, si hitam, dan si botak. Artinya, penamaan ini berdasarkan sifat khas yang ada pada benda itu. Dalam dunia politik, penamaan golongan kiri dan golongan kanan juga berdasarkan sifat dari golongan yang berhaluan agama (kanan) dan berhaluan komunis (kiri).


3.   Penemu dan pembuat

Cukup banyak kata bahasa Indonesia yang dibentuk berdasarkan nama penemu atau pembuatanya.

Contoh:

- Kondom Dr. Condom

- Mujair Pak Mujair

- Aspirin merek Aspirin

- Stabilo merek Stabilo

- Bayangkara nama pasukan pada zaman Majapahit

- Boikot tuan tanah Boycott


 4.  Tempat asal

Kata-kata ini dibentuk berdasarkan penelurusan asal nama tempat tersebut.

Contoh:

- magnet Magnesia

- burung Kenari  pulau Kenari di Afrika

- sarden Pulau  Sardinia di Italia

- Piagam Jakarta Kota Jakarta

- didigulkan  dibuang ke Digul, Irian Jaya


 5.  Bahan

Ada sejumlah benda yang namanya diambil dari nama bahan pokok benda itu.

Contoh:

- Karung goni dibuat dari bahan goni (sejenis serat tumbuhan)

- Kaca mata dibuat dari bahan kaca

- Bambu runcing  dibuat dair bahan bambu


6.   Keserupaan

Sejumlah kata dalam bahasa Indonesia digunakan secara metaforis, artinya kata itu digunakan dalam suatu ujaran yang maknanya dipersamakan atau diperbandingkan dengan makna leksikal kata itu.

Contoh:

- Kaki gunung dipersamakan dengan makna kaki ‘alat penopang berdiri’

- Kepala kantor dipersamakan dengan makna kepala ‘bagian penting tubuh’

Contoh lain dapat dilihat dari frasa raja kumis, raja minyak, bintang pelajar, bintang panggung, dan lain sebagainya.


7.   Pemendekan

Kata-kata ini tentunya dibentuk berdasarkan hasil penggabungan unsur-unsur huruf awal atau suku kata dari beberapa kata yang digabungkan menjadi satu.

Contoh:

- abri Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

- koni Komite Olahraga Nasional Indonesia

- tilang bukti pelanggaran

- rudal peluru kendali


 8.  Penamaan baru

Proses ini berarti istilah-istilah lama yang sudah ada perlu diganti dengan kata-kata baru karena dianggap kurang tepat, tidak rasional, kuarng halus, atau kurang ilmiah.

Contoh:

- Pariwisata dari turisme

- Darmawisata dari piknik

- Karyawan dari kuli, buruh

- Tuna aksara  dari buta huruf


Nah, begitulah kira-kira latar belakang penamaan sebuah benda, Kawan. Beberapa kata mungkin tidak terbentuk dari salah satu proses penamaan di atas. Yang jelas, penamaan sebuah benda itu bergantung pada persetujuan masyarakat juga. Di Indonesia, Badan Bahasa adalah lembaga pemerintah yang salah satu tugasnya adalah untuk mengesahkan kata-kata yang timbul di masyarakat. Dalam beberapa kasus, Badan Bahasa juga menamai beberapa hal yang belum memiliki nama, terutama istilah-istilah yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.


Sumber:

Chaer, Abdul. 2013. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

COMMENTS