Mau sepakat? Negosiasi saja.

ditulis oleh: Ali Hasan Asyari

Kalian pernah melakukan negosisasi? Belum? Itu, loh, tawar-menawar. Nah, pasti sudah kan.

Artikel kali ini bukan tentang ilmu ekonomi yang membahas proses terjadinya tawar menawar, tetapi akan membahas teks negosiasi.

Mari kita bahas dulu sebetulnya pengertian negosiasi itu apa, sih? Negosiasi merupakan suatu cara menentukan keputusan yang dapat disepakati oleh dua pihak atau lebih untuk mencapai kepuasan pihak-pihak yang berkepentingan. Jadi, teks negosiasi merupakan teks yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan di antara pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang berbeda. Dalam teks negosiasi tentunya berisi kalimat-kalimat kesepakatan mengenai persoalan yang membutuhkan penyelesaian.


Lalu, apa saja ciri-ciri teks negosiasi?

1. Melibatkan dua pihak atau lebih, baik secara perorangan, kelompok, perwakilan organisasi, ataupun perusahaan.

2. Menggunakan bahasa yang komunikatif.

3. Mengandung konflik, pertentangan, atau perselisihan.

4. Menyelesaikan perbedaan kepentingan melalui tawar menawar.

5. Menyangkut suatu rencana, program, atau suatu keinginan.


Teks negosiasi punya struktur tidak, ya? Tentu saja punya. Struktur teks negosiasi terdiri dari empat bagian, yaitu orientasi, pengajuan, penawaran, dan kesepakatan. 

Orientasi merupakan pengenalan topik atau masalah yang akan dinegosiasikan. Pengajuan merupakan pernyataan dari negosiator pertama untuk meminta, mengajak, dan mendorong negosiator kedua untuk melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Penawaran merupakan pernyataan dari kedua belah pihak yang berisi penawaran dan penolakan tentang sesuatu yang diajukan. Kesepakatan merupakan keputusan antara kedua belah pihak.


Apabila sudah berbicara tentang struktur teks, maka tidak akan lepas dari kaidah kebahasaan teks. Berikut penjelasan mengenai kaidah kebahasaan teks negosiasi.

1. Keberadaan kalimat berita, tanya, dan perintah hampir berimbang. 

a. Kalimat berita (deklaratif)

Contoh: Jarak antara bandara dengan tempat tinggal saya jauh, Bu.

b. Kalimat tanya (interogatif)

Contoh: Kalau boleh tahu kapan penutupannya, Bu?

c. Kalimat perintah (imperatif)

Contoh: Ibu sebaiknya pulang besok paginya!

2. Banyak menggunakan kalimat yang menyatakan keinginan atau harapan. Tentu saja kalimat ini ditandai dengan kata "minta", "harap", "mudah-mudahan".

3. Banyak menggunakan kalimat bersyarat, yakni kalimat yang ditandai dengan kata-kata "jika", "bila", "kalau", "seandainya", dan "apabila".


Bagaimana Sobatku, sudah lebih paham kan mengenai teks negosiasi? Semoga bermanfaat,  ya!

Eh, tunggu sebentar, hanya ingin mengingatkan. Kalau suatu saat Sobatku ingin bernegosiasi, ingat, ya, tidak boleh sampai merugikan orang lain. Sekian, kita bertemu di artikel berikutnya, ya. Salam literasi!

COMMENTS