Makna Idiomatik

ditulis oleh: Lia Sylvia Dewi

Pernahkah kalian membaca suatu ungkapan atau peribahasa? Ya, keduanya adalah kelompok atau gabungan kata yang menyatakan makna khusus pada suatu subjek. Dengan kekhususannya, makna tersebut justru sering kali tidak sesuai dengan makna leksikal. Nah, fenomena inilah yang disebut dengan makna idiomatik atau makna yang berasal dari suatu idiom.

Suwandi (2008: 96) menyatakan bahwa makna idiomatikal adalah makna sebuah kata, frasa, atau kalimat yang menyimpang dari makna leksis maupun makna gramatikal kata, frasa, atau kalimat tersebut. Sering kali kita menyebutnya sebagai makna kias atau makna yang tidak sesuai dengan arti sesungguhnya.

Bahasa Indonesia memiliki dua jenis idiom, yaitu ungkapan dan peribahasa. Ungkapan adalah salah satu bentuk idiom berupa kelompok kata yang bermakna kiasan atau yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna anggota-anggotanya. Kemudian, peribahasa adalah suatu bentuk idiom berupa kalimat yang susunannya tetap dan menunjukkan perlambangan kehidupan. Peribahasa itu meliputi: pepatah, perumpamaan, dan pameo (Sudrajat dalam Fatulloh, 2012).

Makna idiomatik ini terbagi menjadi dua, yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Yuk, kita bahas satu persatu!

1. Idiom penuh
Idiom penuh adalah idiom yang maknanya sama sekali tidak tereka atau tergambarkan dari unsur-unsurnya (Suwandi, 2008: 96). Sederhananya, gabungan kata dalam idiom penuh memang benar-benar keluar dari makna aslinya.
Contoh:
"Artis itu sedang naik daun karena menciptakan lagu untuk para dokter yang menangani covid-19."
Frasa 'naik daun' bukan menggambarkan daun (bagian tumbuhan) yang naik atau terangkat, melainkan suatu ungkapan yang menunjukkan kepopuleran atau keuntungan melimpah yang didapatkan oleh subjek.
Kalau kalian menemukan ungkapan seperti meja hijau, turun tangan, gulung tikar, dan sebagainya, maka kalian menemukan idiom penuh.

2. Idiom sebagian
Idiom sebagian adalah idiom yang maknanya masih tergambar dari salah satu unsurnya atau dengan kata lain salah satu unsurnya masih tetap dalam makna leksikal (Suwandi, 2008: 96). Dalam idiom sebagian, memang terdapat suatu makna kias, tetapi makna tersebut tidak melenceng terlalu jauh dari arti sebenarnya. Hal ini disebabkan adanya bagian dari idiom yang masih mencerminkan makna leksikal.
Contoh:
"Para pelajar tidak mendapatkan uang saku selama belajar di rumah."
Nah, frasa 'uang saku' dapat dikategorikan sebagai idiom sebagian. Makna leksikal dari uang saku adalah uang yang terdapat di saku/kantong. Makna ungkapannya tidak jauh dari frasa tersebut, yaitu uang yang digunakan untuk keperluan sewaktu-waktu atau uang untuk jajan. Uang dalam ungkapan 'uang saku' masih tetap bermakna uang dalam arti sebenarnya. Biasanya kita menyimpan uang untuk jajan di saku, bukan?
Kita juga bisa menemukan contoh idiom sebagian dari frasa 'harta karun'. Konsepnya masih sama seperti 'uang saku'.

Dari mana, sih, kita bisa menemukan sumber dalam pembentukan idiom? Wah, tentu saja banyak. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan sumber idiom dalam bahasa Indonesia.
1. Tubuh
Contoh: tangan kanan, sebelah mata, angkat kaki, 'angan-angan mengikat tubuh'
2. Bilangan
Contoh: muka dua, empat mata
3. Warna
Contoh: daftar hitam
4. Binatang
Contoh: adu domba
5. Tumbuhan
Contoh: kembang desa
6. Benda alam
Contoh: 'air susu dibalas air tuba'

Bagaimana? Sudah paham dengan makna idiomatik? Kira-kira, seberapa sering kita menemukan makna idiomatik dalam kehidupan sehari-hari?

Sumber rujukan :
Suwandi, Sarwiji. 2008. Semantik: Pengantar Kajian Makna. Yogyakarta: Media Perkasa.
Fatulloh, Lutvi Imam. 2012. Idiom Bahasa Indonesia. FKIP UMP.

COMMENTS