Lebih Dekat Dengan Peribahasa

Teman-teman kenal dengan kalimat pada gambar? Yap, peribahasa! Tampaknya peribahasa saat ini sudah tak banyak digunakan lagi, tapi makna dari peribahasa tersebut merupakan cerminan kehidupan yang benar adanya. Lalu, apa yang dimaksud dengan peribahasa? Yuk, simak pembahasan berikut ini!

Menurut KBBI V, peribahasa termasuk kata nomina/benda yang memiliki makna 

(1) kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu (dalam peribahasa termasuk juga bidal, ungkapan, perumpamaan); dan

(2) ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku. 

Lalu, apakah peribahasa ini terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan pengertian tersebut? Yap, berikut ini jenis peribahasa yang dikemukakan oleh Tarigan dalam bukunya yang berjudul Pengajaran Semantik. 

1. Pepatah merupakan peribahasa yang berisi nasihat dan ajaran (Poerwadaminta dalam Tarigan, 2009, hlm. 149). 

Contoh:

  • Sepala-pala mandi biar basah à mengerjakan sesuatu janganlah tanggung-tanggung.
  • Arang habis besi binasa à pekerjaan yang telah banyak menghabiskan tenaga dan biaya, tetapi hasilnya tidak ada.
  • Utang emas dapat dibayar, utang budi dibawa mati à kebaikan hati orang akan diingat selam-lamanya.


2. Perumpamaan diibaratkan persamaan atau peribahasa yang berupa perbandingan (Poerwadaminta dalam Tarigan, 2009, hlm.152). Perbedaan utama antara pepatah dengan perumpamaan dapat kita lihat dari pemakaian kata seperti, sebagai, laksana, bak, ibarat, bagai atau bagaikan, seumpama, macam, dan umpama. 

Contoh:

  • Bagai empedu lekat di hati à sangat karib, tidak terceraikan (tentang persahabatan, orang yang berkasih-kasihan, dan sebagainya).
  • Ibarat menegakkan benang basah à melakukan sesuatu yang tidak akan berhasil.
  • Seperti katak di bawah tempurung à sangat picik pengetahuannya; kurang luas pandangannya.
  • Laksana bunga dadap, sungguh merah berbau tidak à orang yang rupanya elok, tetapi tidak berbudi bahasa.

3. Ungkapan merupakan perkataan atau kelompok kata yang khusus untuk menyatakan suatu maksud dengan arti kiasan (Poerwadarminta dalam Tarigan, 2009, hlm. 157). 

Contoh: 

  • Buah baju à kancing.
  • Membuang-buang waktu à menyia-nyiakan waktu.
  • Orang buangan à orang yang diasingkan atau dikirimkan ke tempat di luar daerahnya.


4. Bidal merupakan peribahasa yang mengandung ungkapan baik itu sindiran, ejekan, dan juga peringatan. 

Contoh: Hidup segan mati tak hendak à hidup yang merana (karena sakit terus-menerus, melarat, sengsara, dan sebagainya).


Nah, ternyata peribahasa ini mengandung nilai pendidikan karakter, loh! Berikut ini beberapa nilai-nilai yang terdapat dalam peribahasa berikut contohnya. 

  • 1. Peduli
  • Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung à harus menyesuaikan diri dengan adat dan keadaan tempat tinggal.
  • Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kerbau menguak à menyesuaikan diri dengan tempat dan keadaan.

2. Tangguh

  • Berani hilang tak hilang, berani mati tak mati à melakukan pekerjaan hendaklah jangan tanggung-tanggung atau takut-takut.
  • Hitam tahan tempa, putih tahan sesah à tetap tidak berubah; tahan uji.

3. Religius

  • Perang bermalaikat, sabung berjuara à Tuhanlah yang menentukan kalah menang.

4. Kreatif

  • Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui à seklai melakukan suatu pekerjaan, beberapa maksud tercapai.

5. Nasionalis

  • Setinggi-tinggi bangau terbang, surutnya ke kubangan à sejauh-jauh orang merantau, akhirnya kembali ke tempat asalnya (kampung halamannya) juga.
  • Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri (hujan keris lembing di negeri kita, hujan emas perak di negeri orang, baik jua di negeri kita à sebaik-baik di negeri orangtidak sebaik negeri sendiri).


Nah, semoga kita tidak melupakan peribahasa yang ternyata menyimpan banyak manfaat.


Sumber: 

KBBI V (2016).

Tarigan, H.G. (2009). Pengajaran Semantik. Bandung: Penerbit Angkasa.


COMMENTS