Konfiks : Dua Sejoli yang Mengapit Kata

ditulis oleh: Lia Sylvia Dewi

Selayaknya sepasang manusia yang sedang jatuh cinta, ternyata ada satu jenis afiksasi yang terdiri dari dua unsur dan tidak bisa dipisahkan, loh! Mari berkenalan dengan konfiks atau simulfiks! Jenis imbuhan ini biasanya dikenal dengan nama 'imbuhan campuran' imbuhan yang terdapat di awal dan di akhir kata. Eits, tunggu dulu, konfiks itu imbuhan campuran yang bukan sembarang campuran, loh!

Yuk, kita simak dulu beberapa kata berikut.

Kehidupan
Kematian
Ketiduran

Sekarang, kita coba hilangkan imbuhan di awalnya (ke-). Apakah akan terbentuk sebuah kata (hidupan, matian, tiduran)? Kurang tepat, ya. Kalau kita hilangkan imbuhan di akhir (-an)? Wah, kurang tepat juga. Berarti, konfiks ialah  proses afiksasi yang terdiri dari dua unsur, satu di muka bentuk dasar dan satu di belakang bentuk dasar. Meskipun terpisah, kedua unsur tersebut masih merupakan satu fungsi dengan satu makna gramatikal, jadi tidak bisa dipisahkan, sebab kalau dihilangkan salah satu, kata tersebut tidak akan memiliki arti.

Tapi, bukannya dalam kata ‘ketiduran’, kalau ‘ke-’nya dihilangkan, maka kata ‘tiduran’ itu tetap memiliki arti?

Wah, ternyata masih ada loh cara-cara lain untuk mengidentifikasi konfiks. Salah satunya dengan mengurutkan tahapan pembentukan kata imbuhan tersebut. Ternyata, kata ‘ketiduran’ bukan merupakan hasil dari ‘ke+tiduran’, namun ‘ke-an+tidur’. Cirinya bisa dilihat pada pembentukan arti. Apa saja, sih?

Nah, kita identifikasikan dulu, yuk, morfem-morfem yang termasuk konfiks :

1. Ber-an

Afiks ber-an memiliki fungsi sebagai pembentuk kata kerja.

(1) Menyatakan pelaku dari suatu hal itu banyak. Misalnya bermunculan = banyak yang muncul.
(2) Menyatakan suatu perbuatan yang dilakukan berulang. Misalnya berloncatan = meloncat berkali-kali.
(3) Menyatakan makna saling. Misalnya berpandangan = saling memandang. Namun kiranya bagian ini lebih mengacu pada kombinasi afiks.

2. Ke-an

Ada dua jenis fungsi utama dalam afiks ke-an yaitu membentuk kata nominal (misalnya kebaikan, keberanian, dll) dan membentuk kata verbal baik yang termasuk golongan kata sifat (misalnya kehujanan, kematian, dll). Selain itu, ke-an ini memiliki fungsi lainnya, seperti 

(1) Menyatakan suatu abstraksi atau hal dari perbuatan atau keadaan tertentu. Misalnya kebaikan = hal baik, keberhasilan = hal yang berhasil.
(2) Menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan masalah yang tersebut pada kata dasar. Misalnya kehewanan = hal-hal yang berhubungan dengan masalah hewan.
(3) Menyatakan makna dapat dikenai perbuatan yang tersebut pada kata dasar. Misalnya kelihatan = dapat dilihat,
(4) Menyatakan makna dalam keadaan tertimpa akibat perbuatan atau keadaan. Misalnya kehujanan = tertimpa hujan, kecurian = tertimpa perbuatan mencuri.
(5) Menyatakan makna tempat atau daerah. Misalnya keresidenan = tempat presiden.

3. peN-an

Afiks ini hanya berfungsi sebagai pembentuk kata nomina. Sesungguhnya sebagian besar dari afiks ini merupakan nomalisasi dari kata berafiks meN-.

(1) Menyatakan makna melakukan perbuatan yang sejalan dengan kata dasar. Misalnya pemulangan = hal memulangkan.
(2) Makna cara melakukan pervuatabn yang sejalan dengan kata dasar. Misalnya penyajian = cara menyajikan.
(3) Menyatakan hasil perbuatan. Misalnya penglihatan = hasil melihat.
(4) Bisa juga menyatakan alat untuk melakukan suatu kegiatan. Misalnya pendengaran = alat untuk mendengar.
(5) Menyatakan makna tempat melakukan suatu hal yang sejalan dengan kata dasar. Misalnya pengadilan = tempat untuk mengadili.’

4. Per-an

Fungsi dari per-an ialah sebagai pembentuk kata nominal.

(1) Menyatakan makna perihal yang terbentuk pada bentuk dasar. Midsalnya perindustrian = perihal industri.
(2) Bisa menyatakan makna suatu hal atau hasil. Misalnya persahabatan = hal atau hasil bersahabat.
(3) Menyatakan makna tempat. Misalnya peristirahatan = tempat untuk istirahat.
(4) Menyatakann makna daerah. Misalnya perkotaan = daerah kota.
(5) Menyatakan makna berbagai. Misalnya peralatan = berbagai alat.

5. Se-nya

Fungsinya ialah menyatakan suatu keterangan dari kata sifat. Misalnya sesungguhnya = kesungguh-sungguhan.

Nah, bagaimana, sudah kenal lebih jauh tentang konfiks? Semoga artikel kali ini membuat kita semakin terampil dalam memilih kata imbuhan, ya!


Sumber rujukan :

Alwi, Hasan., dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Chaer, Abdul. 2006. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.

HP, Achmad., dan Alek Abdullah. 2012. Lingustik Umum. Bandung : Erlangga.

Muslich, Masnur, 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara.

Ramlan, M. 2012. Morfologi. Yogyakarta : C.V.Karyono.


COMMENTS