Klausa dalam Berbahasa

ditulis oleh: Herawati

Pernahkah kamu mendengar istilah klausa dalam berbahasa? mungkin untuk sebagian orang, istilah klausa sudah tidak asing lagi. Jadi, bagi yang belum mengenalnya, mari kita berkenalan dengan klausa. 

Menurut   Kridalaksana   (2001:110)   klausa   adalah   satuan   gramatikal   berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat.

Menurut Chaer (1994 : 231)  klausa adalah  satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi predikatif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen, berupa kata atau frasa, yang berfungsi sebagai predikat; dan yang lain berfungsi sebagai objek, dan sebagai keterangan. Selain fungsi yang harus ada dalam kontruksi klausa ini, fungsi subjektif boleh dikatakan bersifat wajib, sedangkan yang lainnya bersifat tidak wajib.

Arifin (2008)  mengatakan bahwa klausa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat. 

Mudahnya, klausa merupakan kelompok kata yang minimalnya terdiri atas subjek dan predikat. Klausa juga berpotensi menjadi suatu kalimat. 

Perbedaan klausa dan kalimat sebetulnya mudah terlihat, asalkan kita sebagai pembaca bisa teliti melihatnya serta menganalisisnya. Untuk lebih jelasnya, berikut ada penjelasan mengenai perbedaan klausa dan kalimat. Yuk, simak!

1. Klausa hanya terdiri atas subjek dan predikat, namun bisa dilengkapi dengan unsur lain berupa objek, pelengkap, maupun keterangan. 

Contoh kalimat:

Ketika kami duduk di halte bus, mereka datang tiba-tiba. 

Jika melihat kalimat tersebut, kita bisa membaginya ke dalam dua bagian sebagai berikut:

a. kami duduk di halte bus

b. mereka datang tiba-tiba

kedua bagian yang disebutkan di atas, yakni klausa. Sobatku bisa melihatnya bahwa klausa tersebut terdiri atas unsur subjek dan predikat yang sudah dilengkapi dengan unsur pelengkap berupa keterangan. Untuk lebih jelasnya perhatikan penjabaran berikut ini!

a. kami duduk di halte bus

          S              K

b. mereka datang tiba-tiba

           S           P         K

Dengan begitu, kalimat Ketika kami duduk di halte bus, mereka datang tiba-tiba,  memiliki dua buah klausa. Tanda untuk menentukan jumlah klausa dalam suatu kalimat bisa dilihat dari penentuan jumlah predikat di dalamnya. 

2. Klausa tidak memiliki intonasi awal dan akhir

Cara mudah membedakan klausa dan kalimat dalam suatu teks, kita bisa melihatnya secara langsung. Sebab klausa tidak dibentuk oleh unsur intonasi awal maupun akhir. Intonasi awal yang dimaksud adalah penggunaan huruf kapital di awal, sedangkan intonasi akhir meliputi tanda baca titik (.), tanda tanya (?), ataupun tanda seru (!).


KalimatKlausa

-Hari ini hujan lebat.

-Besok pagi kakak akan pergi ke Jakarta dan ayah pergi ke Surabaya.

-Ketika film ditayangkan, mereka pergi ke toilet.

-hari ini hujan lebat

-kakak akan pergi ke Jakarta

-ayah pergi ke Surabaya

-ketika film ditayangkan

-mereka pergi ke toilet

Berdasarkan penjelasan di atas mungkin sudah jelas bagimana penggunaan klausa dalam suatu bahasa, khususnya yang berkaitan dengan kalimat. Namun, tahukah Sobatku bahwa tak jarang ada juga kalimat yang tidak memiliki predikat? Kalimat tersebut disebut dengan kalimat tak berklausa (nonklausatif). 

Contohnya: 

Assalamu’alaikum!
Apa kabar, Pak?
Selamat datang.
Sampai jumpa.

Keempatnya merupakan kalimat, tetapi tidak memiliki predikat. Kalimat itu disebut dengan kalimat yang nonklausatif. Kalimat tersebut umumnya dijumpai dalam sapaan.

Penjelasan dan pengenalan klausa dicukupkan sampai di sini dulu, ya? Penjelasan lainnya terkait klausa akan kami bahas di artikel yang akan datang. Semoga penjelasan kali ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan Sobatku semuanya, ya! 


Sumber: 

Arifin, Zainal dan Junaiyah. 2008. Sintaksis Jakarta:PT Grasindo.

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Harimurti Kridalaksana, 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.


COMMENTS