Berkenalan dengan "Wacana", Bukan dengan "Cuma Wacana"

ditulis oleh: Desi Ari Sandi

Ilustrasi

Ani : "Gaes, kemping yuk tanggal 30!"
Badu : "Kuyyy dong!?"
Cinta: "Aku sih gimana ramenya aja hehe"
Dodi: "Alah palingan juga entar CUMA WACANA"
Ani, Badu, dan Cinta: (seketika hening)

Nah, Sobatku pernah mengalami kejadian seperti ilustrasi tersebut? Pernah mendengar atau jangan-jangan Sobatku sendiri, nih, yang sering berkata "CUMA WACANA"?

Wacana dalam ilustrasi tersebut digunakan untuk menggambarkan sebuah rencana yang akan gagal dan berakhir dengan omong kosong belaka. Padahal dalam KBBI arti wacana bukan seperti itu, loh. Menurut KBBI, wacana adalah:

1. (n) komunikasi verbal; percakapan

2. (n) Ling keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan

3. (n) Ling satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh, seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khutbah

4. (n) Ling kemampuan atau prosedur berpikir secara sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat

5. (n) Ling pertukaran ide secara verbal


Wah, ternyata maknanya jauh berbeda, ya? Mari kita berkenalan sedikit lebih mendalam dengan wacana.

Wacana merupakan rekaman peristiwa yang utuh mengenai komunikasi dan membawa amanat atau pesan yang lengkap. Wacana juga merupakan unit yang lebih besar daripada klausa dan kalimat. Wacana direalisasikan dalam bentuk novel, buku, ensiklopedia, artikel, pidato atau khutbah, deklamasi, dan lain-lain.

Berdasarkan dari segi bentuk bahasanya, wacana dibedakan menjadi wacana lisan dan wacana tulisan. Wacana lisan adalah wacana yang disampaikan secara lisan dan tentunya digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk berinteraksi. Wacana lisan cenderung pendek, kurang lengkap, dan kurang gramatikal. Hal ini disebabkan wacana lisan diciptakan dalam situasi dan waktu yang nyata. Wujud wacana lisan dapat berupa percakapan atau penggalan dialog.

Lalu, bagaimana dengan wacana tulisan?

Wacana tulisan adalah jenis wavama yang disampaikan melalui tulisan dan ditandai dengan adanya penulis dan pembaca. Wacana tulis tidak dapat menghadirkan penulis dan pembaca pada saat waktu bersamaan. Hal ini menyebabkan pesan dalam wacana tulisan harus dibahasakan dengan baik dan utuh. Selain itu wacana tulisan sifatnya lebih formal dan baku dari pada wacana lisan. Wacana tulisan dapat berupa cerita pendek, novel, ensiklopedia, dan lain-lain.

Sekarang sudah mulai kenal dengan wacana, kan? Sebetulnya penjelasan mengenai wacana ini masih sangat dangkal. Sobatku mau, kan, menyelami lebih dalam tentang wacana bersama Aku Bahasa? Tunggu pembahasannya di artikel selanjutnya, ya!

Semoga bermanfaat dan literasi semakin memesat. Salam!


Referensi

1. Busri, H dan Moh. Badrin. 2018. Lingustik Indonesia: pengantar memahami hakikat bahasa. Malang: Madani Media.

2. https://www.ruangguru.com/blog/5-kata-bahasa-indonesia-yang-sering-disalahartikan

3. https://www.kompasiana.com/diasti/5b4574ee16835f43ed4c5e83/penyalahgunaan-kata-wacana

COMMENTS