Berkenalan dengan Infiks

ditulis oleh: Meilani Puji Astini

Pernahkah kalian menggunakan kata temali, gerigi, telapak, gemeletar, seruling, dan gemeletuk? Ternyata kata-kata tersebut merupakan kata yang sudah mengalami afiksasi, loh!

Tahukah kamu, afiksasi apa yang terjadi pada kata tersebut? 

Yap, infiks! Apa yang dimaksud dengan infiks? Mari simak pembahasan berikut ini, ya!

Menurut KBBI (2016) infiks merupakan morfem yang disisipkan di tengah kata; sisipan: kata “gemetar” berasal dari “getar” dan mendapat –“-em-“.  Dalam bahasa latinnya adalah infixus yang berarti melekat (fixus, figere) di dalam (in). Infiks yang terdapat dalam bahasa Indonesia adalah –el-, -em-, -er-. Pembentukan kata infiks dilakukan dengan cara menyisipkan di antara konsonan dan vokal suku pertama pada sebuah kata dasar. Coba perhatikan contoh berikut ini, ya!

Contoh:

- el- + tapak -> t-el-apak -> telapak

- er- + gigi -> g-er-igi  -> gerigi

- em- + tali -> t-em-ali -> temali

Adakalanya dua buah sisipan yang tidak sama digunakan bersama-sama pada sebuah kata, seperti:

- gemeletar (g-em-el-etar)

- gemeretuk (g-em-er-etuk)

Berikut ini pun terdapat nomina berinfiks yang ada adalah:

tapak -> telapak 

tunjuk -> telunjuk

getar -> gemetar

suling -> seruling

getar -> geletar

gigi -> gerigi

patuk -> pelatuk

gendang -> genderang

Selain itu, ternyata infiks memiliki beberapa problematik yang terdapat pada kata-kata berikut ini. 

Bintang + (-em-) -> bemintang 

Khalayak seharusnya menggunakan kata bemintang, tetapi mereka mengubah menjadi kata gemintang. Hal ini disebabkan oleh adanya proses derivasi balik.Derivasi balik adalah proses pembentukan kata karena bahasawan membentuk berdasarkan pola-pola yang ada tanpa mengenal unsur-unsurnya. Akibatnya terjadi bentuk yang secara historis tidak diramalkan.

        - Sambung -> sinambung

        - Tambah -> tinambah

        - Cari -> cahari (dalam "mata pencaharian")

        - Dulu -> dahulu

        - Rayu -> rahayu

        - Saja -> sahaja

        - Saya -> sahaya (dalam "hamba sahaya")

Dalam bahasa Indonesia pada umumnya tidak terdapat infiks –in- dan infiks –ha-. Akan tetapi, banyak yang masih menggunakan kata-kata yang menurutnya berinfiks –in- dan –ha- sebagai infiks yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Sebenarnya yang lebih tepat, sisipan tersebut berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Beberapa contoh kata yang berinfiks –in- dan –ha- sebagai berikut.

        - Kerja -> kinerja

        - Sambung -> sinambung

        - Tambah -> tinambah

        - Cari -> cahari (dalam "mata pencaharian")

        - Dulu -> dahulu

        - Rayu -> rahayu

        - Saja -> sahaja

        - Saya -> sahaya (dalam "hamba sahaya")

Sambung + (-in-) -> sinambung 

Kata sinambung merupakan kata dasar yang diserap langsung oleh bahasa Indonesia, kata sinambung bukan merupakan contoh kata berinfiks karena di dalam bahasa Indonesia tidak terdapat infiks (-in-). 


Nah, berikut penjelasan perihal infiks. Jadi, sudahkan merasa lebih dekat dengan bentuk keberagaman bahasa Indonesia? :)

COMMENTS