Apa Itu Cerita Rakyat dalam Bentuk Hikayat?

ditulis oleh: Rima Rismaya

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V, cerita rakyat adalah cerita dari zaman dahulu yang hidup di kalangan rakyat dan diwariskan secara lisan. Cerita rakyat merupakan titipan budaya dari nenek moyang kepada generasi penerus bangsa. Cerita rakyat penting untuk terus dilestarikan. Setidaknya, ada tiga fungsi cerita rakyat, yaitu:

1. sebagai sarana hiburan;

2. sebagai sarana pendidikan karena di dalamnya terkandung banyak nilai yang dapat diteladani dalam kehidupan; serta

3. sebagai sarana menunjukkan dan melestarikan budaya bangsa karena dari cerita rakyat dapat dikokohkan nilai sosial dan budaya suatu bangsa.


Salah satu bagian dari cerita rakyat adalah hikayat. Hikayat adalah karya sastra lama Melayu berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografis, atau gabungan sifat-sifat itu. Dahulu, hikayat dibacakan sebagai pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk meramaikan pesta. Hikayat merupakan sebuah teks narasi yang berbeda dengan narasi lain.

Berikut ini karakteristik hikayat yang membedakannya dengan teks narasi lain.

1. Terdapat kemustahilan dalam cerita.

Salah satu ciri hikayat adalah kemustahilan dalam teks, baik dari segi bahasa maupun dari segi cerita. Kemustahilan berarti hal tidak logis atau tidak bisa

dinalar yang terjadi. Salah satu contoh kemustahilan dalam hikayat adalah kelahiran bayi yang disertai pedang dan panah. Kemustahilan ini hadir melalui kalimat “Hatta beberapa lamanya, Tuan Puteri Siti Kendi pun hamillah dan bersalin dua orang putra laki-laki. Adapun yang tua keluarnya dengan panah dan yang muda dengan pedang”.

2. Kesaktian tokoh-tokohnya.

Selain kemustahilan, seringkali dapat kita temukan kesaktian para tokoh dalam hikayat. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, hikayat mampu membangkitkan semangat juang karena tokoh-tokoh dalam hikayat banyak yang mempunyai kesaktian. Namun dalam dunia nyata, kesaktian yang biasanya merupakan suatu kemustahilan, bisa hadir dalam bentuk lain yaitu semangat. Kesaktian dan semangat sama-sama bisa membawa seseorang menuju kemenangannya.

3. Anonim.

Salah satu ciri cerita rakyat, termasuk hikayat, adalah anonim. Anonim berarti tidak diketahui secara jelas nama pencerita atau pengarang. Hal tersebut disebabkan cerita disampaikan secara lisan. Bahkan, dahulu masyarakat mempercayai bahwa cerita yang disampaikan adalah suatu kenyataan dan tidak ada yang sengaja mengarangnya.

4. Istana sentris.

Hikayat seringkali bertema dan berlatar kerajaan. Dalam Hikayat Indera Budiman hal tersebut dapat dibuktikan dengan tokoh yang diceritakan adalah raja dan anak raja, yaitu Raja Indera Bungsu, putranya Syah Peri dan Indera Bangsawan, Putri Ratna Sari, Raja Kabir, dan Putri Kemala Sari. Selain itu, latar tempat dalam cerita tersebut adalah negeri yang dipimpin oleh raja serta istana dalam suatu kerajaan.

5. Menggunakan alur berbingkai.

Pada umumnya, hikayat menggunakan alur penceritaan dengan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab-akibat. Seperti teks narasi yang lain, alur hikayat terdiri dari pengenalan cerita, pengungkapan peristiwa, pengenalan konflik, puncak konflik, dan penyelesaian konflik.


Kaidah Kebahasaan Hikayat

Perbedaan lain antara hikayat dan teks narasi lainnya dapat dilihat melalui kaidah kebahaasaannya. Berikut ini kaidah kebahasaan hikayat.

1. Penggunaan banyak konjungsi.

Hikayat disajikan dengan menggunakan bahasa Melayu klasik. Ciri bahasa yang dominan dalam hikayat adalah pengguna konjungsi hampir pada setiap awal kalimat dan penggunaan kata arkais, misalnya dalam kutipan “Maka berkeinginanlah istri Khojan Maimun untuk mendengarkan cerita tersebut. Maka Bayan pun berceritalah kepada Bibi Zainab dengan maksud agar ia dapat memperlalaikan perempuan itu”.


2. Penggunaan kata-kata arkais.

Selain banyak menggunakan konjungsi, hikayat menggunakan kata-kata arkais. Hikayat merupakan karya sastra klasik. Artinya, usia hikayat jauh lebih tua dibandingkan usia negara Indonesia. Meskipun bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia (berasal dari bahasa Melayu), tidak semua kata dalam hikayat kita jumpai dalam bahasa Indonesia sekarang. Kata-kata yang sudah jarang digunakan atau bahkan sudah asing tersebut disebut sebagai kata-kata arkais.


3. Majas.

Penggunaan majas dalam cerpen dan hikayat berfungsi untuk membuat cerita lebih menarik dibandingkan menggunakan bahasa yang bermakna lugas.

Ada berbagai jenis majas yang digunakan baik dalam cerpen dan hikayat. Di antara majas yang sering digunakan dalam cerpen maupun hikayat adalah majas antonomasia, metafora, hiperbola, dan majas perbandingan. Meskipun sama-sama menggunakan gaya bahasa, tetapi gaya bahasa yang digunakan dalam hikayat berbeda penyajiannya dengan gaya bahasa dalam cerpen.

Salah satu majas yang digunakan dalam cerpen dan hikayat adalah majas simile. Majas simile adalah majas yang membandingkan suatu hal dengan hal lainnya menggunakan kata penghubung atau kata pembanding. Kata penghubung kata pembanding yang biasa digunakan antara lain seperti, laksana, bak, dan bagaikan.

Perhatikan perbedaan contoh penggunaan majas simile dalam penggalan hikayat dan cerpen berikut ini.

a. Setelah dilihat oleh orang banyak, si Miskin laki bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing rupanya. Maka orang banyak itupun ramailah ia tertawa seraya mengambil kayu dan batu.

b. Peristiwa itu terjadi berpuluh tahun silam, pada Oktober 1965 yang begitu merah. Seperti warna bendera bergambar senjata yang merebak dan dikibarkan sembunyi-sembunyi.


Meskipun hikayat merupakan “cerita klasik” atau “cerita lama”, tetapi hikayat tetap memiliki banyak nilai yang masih sangat berhubungan dengan kehidupan saat ini. Jadi, jangan malas membaca hikayat, ya!


Sumber rujukan:

Kemdikbud. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V. [daring]. Diakses dari https://kbbi.kemdikbud.go.id.

Kemdikbud. (2017). Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas X. [daring]. Diakses dari https://bsd.pendidikan.id/.

COMMENTS